Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2013

DIA


Aku masih ingat, tujuh bulan yang lalu saat akan pulang kampung karena liburan kenaikan tingkat, dia membuatku merasa terharu, merasa speechless, merasa entahlah campur aduk. Pagi-pagi entah jam berapa aku berangkat dari kontrakanku bareng Dila dan Dita saudara kembar yang akan bersamaku naik kereta untuk pulang kampung ke Madura. Kami berangkat ke stasiun Bogor untuk selanjutnya ke stasiun Jakarta Kota. Masih pagi saat kami sampai di stasiun Jakarta Kota, sedangkan kereta yang akan membawa kami ke Surabaya baru berangkat sekitar jam 12 siang nanti, masih agak lama untuk menunggu, mungkin rasanya akan sedikit bosan. Di Stasiun sudah ada Mbak Viska yang menunggu kami, dia juga akan bersama kami dalam perjalanan ke Madura nanti. Kebetulan karena paginya kami belum makan, meskipun kami tau restoran atau tempat makan di stasiun akan cukup mahal bagi kantong mahasiswa seperti kami, kami tidak ambil resiko lemas di perjalanan, jadinya kami akhirnya masuk ke salah satu resto.
Di saat itulah, di saat aku makan, Dila tiba-tiba keluar entah untuk apa tak terlalu aku perdulikan. Yang membuatku bingung adalah saat Dila masuk dia tak sendiri, dia masuk bersama dengan seseorang yang sudah aku kenal, sudah sangat aku kenal. Dia tersenyum begitu melihatku dan yah aku juga tidak tau harus bersikap bagaimana, hanya seulas senyum haru. Dia duduk disampingku dan memberiku sebuah tas jinjing berwarna merah tua, katanya sebagai kado miladku yang terlambat. Di dalamnya ada sekotak nasi goreng, sebuah CD, dan secarik kertas. Aku tidak langsung membacanya tentu saja, menyimpannya dulu, aku lebih tertarik mengobrol dengannya. Ah, rasanya hari itu takkan terlupakan, dia benar-benar membuatku merasa jadi saudari yang istimewa. :p
Muncullah celetukan-celetukan Dila dan Dita, “ah, kalian so sweet banget sih”. Haha, si Dila ada-ada aja, namanya juga sahabat kan harus so sweet ya, emang ke pasangan doang yang boleh so sweet – so sweet #loh #gubrak Ya, tidak heran memang Dila bilang seperti itu karena dia dengan ikhlasnya mengejarku sampai ke stasiun Jakarta Kota hanya untuk memberi kado milad buatku, meskipun sudah terlambat hampir seminggu. Ah, aku tidak pernah menganggap dia lupa tanggal miladku, karna aku tau dia pasti ingat seperti aku juga akan selalu ingat tanggal miladnya. Tapi yah seperti udah menjadi kebiaasaan bagi kami, jika salah satu dari kami milad pasti yang lainnya akan terlambat mengucapkan selamat milad dengan sengaja. Gak cuma dari Dila dan Dita aja celetukan itu muncul, entah aku atau dia yang bilang pertama kali “Aku mengejarmu sampai stasiun Jakarta Kota”,  aku lupa, tapi yang jelas aku juga nyeletuk, ‘kayaknya cocok tuh buat judul cerpen’ hehe... Dan dia bilang, ‘bener tuh Yul, cocok buat judul cerpen, ditunggu ya cerpennya’. Dan sampai saat ini aku belum buat cerpen itu, maaf ya, otakku lagi kurang jernih buat bikin cerpen, hehe, jadi aku buat tulisan ini aja ya... :p
Lima bulan berlalu dan sebentar lagi dia milad. Ah, kali ini aku ngasih kejutan apa ya? Ngasih kado apa ya? Kali ini harus ada yang beda dari dua tahun sebelumnya dan yang terpenting bukan kado. Dan terbersitlah ide itu :) Kebetulan aku sedang intens bertemu dengan Mbak Denok jadi aku ngajak mbak Denok buat ke rumah dia, dan tidak lupa juga ngajak si Ina Walia. Sayangnya si Ina gak bisa, jadinya aku cuma berdua dengan Mbak Denok. Sore itu kami berdua kerumah dia tanpa bilang-bilang dulu karena kami memang ingin memberikan surprise kepadanya. Sepertinya kami berhasil, dan aku yakin dia pasti senang dengan kehadiran kami berdua. Sepanjang sore dan malam (karena akhirnya kami menginap di rumahnya) kami mengobrol bertiga, sambil makan kue tart dan nonton TV.  Malam itu jadi malam yang membahagiakan. :)
Dan kemarin, tanggal 15 Januari 2013 adalah hari terakhir UAS di semester lima ini. Rasanya beban untuk semester ini sudah lepas setengahnya. Kenapa setengahnya? Karena aku juga belum tau bagaimana nilai-nilaiku di semester ini, jadi itu terasa masih jadi beban. Jadi curhat yak? :p tapi sebenarnya aku bukan mau ngomongin itu. Sore hari kemarin aku sedang membaca novel di depan TV, maklumlah sudah tidak ada ujian, hehe.. Sekitar jam lima sore Ulfi datang dan langsung menghampiriku, “Yul, ada titipan”.
Aku melongo tidak mengerti. “Titipan? Dari siapa, Fi?”
“Dari ‘dia’” (sebenarnya Ulfi nyebut nama tapi sengaja aku ganti dengan kata dia, biar jadi penasaran. Tuh kan penasaran? Haha :p)
Aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi dan langsung masuk ke kamar untuk membukanya. Bungkusan itu berisi sebuah buku. Sebuah buku yang memang sudah lama ingin aku baca, tapi belum ada kesempatan untuk meminjam dan membacanya. Ada pesan di atasnya dan pesan itu membuatku tersenyum haru, dan lagi lagi speechless. Apa katanya di pesan itu? Kalian mau tau?
“Yul, aku gak mau minjemin sirahku ah... Jadi kado sesi 2 aja ya.. Hihi :p”
Membaca pesan itu aku jadi ketawa sendiri. Sebelumnya aku memang berniat untuk pinjam buku itu pada dia, tepatnya buku Sirah Nabawiyah karangan Al-Mubarakfuri. Tapi sesuai pesannya tadi, dia tidak mau meminjamkannya tapi malah memberikan buku itu padaku sebagai kado sesi 2.
ini dia nih bukunya :D
 Kado sesi 2, haha, kedengaran aneh ya buat kalian. Aku sendiri tidak menyangka ternyata dia masih inget kado sesi 2 yang dia janjiin di selembar kertas yang dia berikan saat dia nganterin kado miladku ke stasiun Jakarta Kota tujuh bulan yang lalu. Jujur aja nih, saat kembali ke Bogor kemarin aku sempet nyinggung kado sesi 2 itu untuk bercanda, beneran, itu sebenarnya bercanda untuk jadi alasan aku mengucapkan terima kasih pada dia, karena setelahnya aku hampir saja lupa dengan kado sesi 2 itu. Sampai kemarin saat aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi, kado sesi 2 dari dia yang membuat aku kembali ingat.  Dan aku bahagia punya saudari seperti dia... :’)

“Aku tidak tau apa yang harus aku ucapkan saat aku membuka bungkusan yang kau berikan, benar-benar speechless dan yah terharu. Ah, aku saja hampir lupa kado sesi 2 itu dan kini kau mengingatkannya dengan buku Sirah itu. Alhamdulillah, karna itu aku bersyukur atas dua hal. Karna Allah mengizinkan aku memiliki buku itu lewat perantaramu dan yang paling penting adalah karna Allah telah memberiku saudari terbaik dari yang terbaik seperti kamu. Jazakillah khairan katsir, Ukhti Nisa sayang :) Kau memang saudari terbaik sedunia... :D”

Teruntuk dia, saudariku, Annisa Sophia --> “Blue Cloud”  :)

Senin, 10 September 2012

Random


Hanya sedang bahagia...
Semuanya berawal dari hati...
Dan ukhuwah itu terjalin hingga kini...
Cukup dengan bertemu dan melihat senyum mereka...
Rasanya memang sungguh berbeda...
Terimakasih untuk semua, kalian telah mengisi relung-relung kosong dalam hatiku...
Bagiku itu sudah cukup, jalin ukhuwah dengan cinta...
Sahabatku... :D

(Sempada-XeniX-TwicE-ResaCita-PII-3A-218-A4-B15-KPK-MAN47-Formasi-MPM-DPM-‘n my lovely friend)

Sabtu, 08 September 2012

Tentang Maaf dan Memaafkan


Kau pernah melakukan suatu kesalahan kepada seseorang? Atau kau pernah merasa sakit hati karna kesalahan orang lain padamu? Atau mungkin kau pernah merasakan keduanya? Aku pernah merasakan keduanya. Membuat kesalahan yang membuat orang lain kecewa bahkan sakit hati. Juga pernah merasakan sakit hati hanya karena kesalahan seorang teman yang tidak disengaja. Kau juga pasti pernah merasakannya bukan? Setidaknya aku yakin kau pernah merasakan salah satunya.

Kau mungkin bingung kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu, tiba-tiba menyangkamu mengalami hal tersebut. Sebenarnya bukan apa-apa, hanya sedang terpikir tentang sebuah kesalahan, tentang rasa kecewa, tentang sakit hati, yah, tentang MAAF dan MEMAAFKAN...

Saat kau melakukan suatu kesalahan dan sadar bahwa kau salah, pastilah kau akan meminta maaf kepada siapapun yang mungkin akan merasa sakit hati dan kecewa akan kesalahanmu. Sebaliknya, jika kau merasa kecewa dan tersakiti oleh perilaku dan kesalahan orang lain padamu, pastinya kau juga mengharap permintaan maaf darinya bukan?

Tentang maaf dan memaafkan mungkin mudah saja kita lakukan, tepatnya mudah saja kita ucapkan.
“Aku minta maaf ya teman, kemarin aku tidak sengaja melakukannya.” Katamu sambil tersenyum.

“Iya, gak papa kok, udah aku maafin. Lain kali jangan begitu ya!” Jawabku, tentu saja dengan senyum yang lebih sumringah.

Tetapi yang terjadi juga mungkin sebaliknya. Jika aku yang melakukan kesalahan padamu, aku minta maaf dan kau memaafkan. Selesai. Mudah bukan? Terlalu mudah kurasa. Sehingga ada satu hal yang terlupa. Kau tahu apa? Yang terlupa itu adalah IKHLAS.

Aku takkan akan pernah tau apakah kau ikhlas dalam meminta maaf ataupun saat memaafkan, sebaliknya kau pun takkan pernah tau isi hatiku, yang tau hanya Allah dan tentu saja diri kita sendiri. Yang terberat dari meminta maaf ataupun memaafkan itu adalah rasa ikhlas. Tak berguna kita meminta maaf atau memaafkan jika ternyata di hati kita masih tersimpan sepercik bahkan setitik rasa tidak ikhlas dan tidak suka. Lisan kita mungkin saja bisa dengan manis mengucapkannya, tapi bagaimana dengan hati kita?

Kau tentu saja tak mau hati kita terkotori dengan setitik rasa tidak ikhlas itu bukan? Maka janganlah terlalu mudah mengucapkan maaf jika hatimu masih belum bisa memafkan. Bicarakan. Biarkan ia bersih agar tak ada setitik noda yang mengotori rasa maaf itu.

Percuma jika kau bisa bermuka manis hanya di depan, tapi di belakangnya kau hatimu mendongko. Percuma saja kau tersenyum, jika ternyata senyum itu senyum yang di buat-buat. Percuma saja kau meminta maaf atau memaafkan, jika ternyata maaf itu hanya di lisan saja, bukan di hatimu...(ya)

Menjejak Cinta di Batas Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---                  

Minggu, 05 Agustus 2012

Icons Blogger

Kita ada karena kebersamaan. Walau berbeda dengan ragam latar belakang yang kita punya, kita tau kita tak hanya sekedar teman, tapi sahabat seperjuangan. Setahun yang lalu kisah ini dimulai, dan kini kalian sungguh jadi bagian istimewa dalam kisah-kisahku.

Sabtu, 07 Juli 2012

Ucapan yang Terlambat

Untuk sebuah ucapan yang sangat terlambat aku sampaikan...

Yah, seharusnya ucapan ini telah aku sampaikan dua minggu yang lalu. Entahlah, ucapan ini spesial atau tidak, wakltu itu aku sengaja untuk tidak mengucapkannya tepat waktu, seperti  kebiasaanku sebelumnya. Pura-pura lupa, tapi setelah beberapa hari baru mengucapkannya. Tapi inilah aku yang dasarnya emang pelupa, keterusan lupa untuk ngucapin, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya juga, hehehe :p 
Aku sih berharap mereka tidak kecewa karena waktu menyampaikan ucapan milad dariku kepada mereka yang mungkin tidak tepat karna amat sangat terlambat. Mereka? Yah, mereka. karena bukan hanya satu orang yang belum aku kasih ucapan selamat. Kali ini sebut saja mereka bocah, tapi bocah dewasa, tentunya...Hah, kok di sebut bocah??? --a jangan heran, mereka sendiri yang menyebut diri mereka bocah, mungkin sok pengen jadi bocah lagi :p, padahal sebenarnya dari sikap mereka sungguh amat dewasa, bahkan mungkin lebih dewasa dariku. Dan taukah kalian? kedua bocah yang aku maksud itu adalah pemimpin, pemimpin bagi ratusan teman-teman sebayanya di asrama, tepatnya asrama TPB IPB. Dan setelah menjadi pemimpin bagi teman-temannya dulu, kini mereka jadi pengayom, pengayom bagi adik-adik mahasiswa baru yang akan tinggal di asrama selama setahun kedepan. Meskipun mereka menyebut diri mereka bocah, tapi aku tau bahwa mereka bijak, cerdas, dan yang terpenting mereka sangat baik, cerminan kedewasaan yang patut untuk diteladani.

Karena kedewasaan bukan masalah usia, kedewasaan itu merupakan sebuah pilihan, iyaa kaan kawan??? :)

Sebelum memberikan ucapan dan memberi tahu siapa kedua bocah yang aku maksud, aku ingin bercerita dulu tentang mereka. Bocah pertama, seorang wanita yang sangat cantik dan pandai menggoreskan tinta. Aku mulai mengenalnya sejak masuk dan tinggal di asrama TPB. pertama kali mengenalnya, menurutku dia terobsesi menjadi entrepreneur, karna bahkan ketika seorang Ammah (Sebutan SR A4) bertanya "Ketika kamu diberi sebuah pena, apa yang akan kamu lakukan?". Jawabannya saat itu sempat membuat aku dan teman-teman satu gedung tersenyum, dia akan menjadikannya sebagai modal usaha, contohnya dengan menghasilkan karya yang bisa dijual dengan pena tersebut, atau mungkin menjualnya sebagai modal usaha yang lebih besar lagi. Saat itu ada anak-anak yang tertawa mendengar jawabannya, mungkin termasuk aku, tapi aku melihat yang lain darinya, aku melihat semangat dan kesungguhan dalam dirinya.
Wanita yang satu ini begitu lembut dan penyabar. Ah, aku bahkan iri dengan senyumnya yang begitu menawan. kenapa begitu? Karena aku terkadang belum bisa se-ikhlas dia dalam tersenyum. Ketika dia tersenyum, seolah tak ada beban dan masalah pada dirinya, meskipun terkadang aku tau bahwa dia sedang mengalami masalah yang berat. Akan tetapi dia selalu tersenyum dan membuat orang lain juga ikut tersenyum. Karyanya begitu memesona, siapa yang tak terhenyak diam ketika dia sedang bersenandung petikan-petikan bait-bait ciptaannya, bukan nyanyian, melainkan puisi. Dia bisa membawa suasana hati orang lain jadi bahagia, sedih, terharu, dan bahkan marah dengan tulisan-tulisannya yang bergelora. *kenapa aku jadi nyastra gini ya?* Tapi memang benar sih, dia salah satu wanita luar biasa yang aku kenal semenjak aku kuliah di IPB ini. 

Bocah kedua, seorang laki-laki yang sangat apa adanya tapi justru dari kesederhanaan itulah yang membuat orang-orang suka padanya. Pertama kali kenal dengannya aku lupa kapan tepatnya, yang jelas kami mulai kenal saat banyak kegiatan dari asrama dan juga kerena aku yang suka nimbrung-nimbrung di kumpul Lurah Asrama TPB IPB. Dan yang membuat aku akrab dengannya karna kami ada di satu divisi untuk sebuah kepanitiaan besar setahun yang lalu. Bocah yang satu ini kadang suka ngasal, tapi dari kengasalannya itu, ada makna tersembunyi yang dia saja yang tau apa maksudnya. terkadang kurang memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya alias nyablak apa-adanya #plak Dia begitu perhatian pada teman-temannya, suka bercerita apa saja yang bisa diceritakan untuk mencairkan suasana, dan juga suka mendengar curhatan orang, salah satunya aku yang dulu juga suka cerita berbagai hal (baca: kegalauan) saat masih satu divisi, dan kadang sampai sekarang juga masih cerita seputar hal yang umum. Karena seperti aku bilang sebelumnya, meskipun dia rada koplak tapi dia adalah orang yang kadang bisa bersikap sangat dewasa dan tentu saja, bijak. Apa lagi ya tentang dia??? ah, banyak-lah pokoknya, sampe-sampe aku bingung mau nulisin ciri khasnya yang mana, terlalu banyak ciri khas dalam dirinya yang malah jadi gak khas lagi... #plakplak :D
Tapi ada stu hal yang kocak neh, terjadi beberapa hari yang lalu saat aku bertemu dia di belakang gym. Dia bilang "Ih, bude jahat lupa ulang tahunku" hahahaha..... Aku cuma bisa ketawa menyadari kesalahanku saat itu yang pura-pura lupa dan gak ngucapin, eh malah keterusan lupa gak ngucapin, hehehe... 
Sekarang aku mau ngucapin...

SELAMAT HARI LAHIR, KAWAN....


 Uhibbukumfillah, Sahabatku...
Semoga Allah senantiasa mengiringi jalan kalian untuk meraih masa depan yang cemerlang menuju syurga-Nya... Amiiiieeennnnn.... :D

Semoga kita selalu ingat ya kawan, bahwa hidup ini bukan seberapa lama umur kita, tapi seberapa banyak hal-hal bermanfaat yang kita lakukan untuk orang lain, lingkungan, dan agama kita.... (kutipan #lirik Nisa) ^^v

Teruntuk Sahabatku,
Muhammad Takbir dan Kamiltussyafiqoh

#maap ya telat banget tapi masih di tunggu traktirannya ampe sekarang,hehehe :p



Menapaki Jejak-Jejak Cinta Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---



Senin, 23 April 2012

Nulis lagi....


Akhirnya.....
Berjumpa lagi dengan saya yang seorang penulis amatir. Sudah sangat lama rasanya tidak posting di blog ini, postingan terakhir hanya berupa kutipan sebuah syair tentang dakwah bukan tulisan yang lahir dari tangan saya sendiri. Maka benar-benar matirlah saya ini. Udah tulisannya belum cukup bermutu, ditambah gak produktif juga dalam menulis. Entah karena saya mulai disibukkan dengan dinamika kampus atau saya yang sok sibuk di kampus. Kalau bilang saya sibuk, saya belum sesibuk seperti Alkadri yang aktif di berbagai kegiatan dan komunitas dan juga disibukkan dengan berbagai tugas kuliah tapi dia tetap poduktif dalm menulis dan posting di blognya yang bisa dilihat disini atau disini. Saya juga belum seperti teman-teman saya yang lainnya yang meskipun dilimpahi amanah yang begitu banyak tapi tetap berusaha untuk produktif dalam bidang baik itu menulis, gambar, bahkan nyanyi sekalipun. Nah saya hanya sok sibuk di kampus, padahal sebenarnya dengan berbagai kesibukan itu, waktu-waktu senggang yang saya rasakan masih sangat sering. Dan ternyata saya masih belum bisa mengefektifkan waktu senggang saya itu untuk menulis. Alasan utamanya adalah sifat saya yang masih suka malas untuk mengerjakan sesuatu, sifat buruk yang harus segera dihilangkan, dan ternyata belum hilang-hilang juga sampai sekarang.
Nah, sekarang kita kembali ke topik yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Ini tentang beberapa orang teristimewa dalam hidup saya, tentang pengalaman-pengalaman yang saya alami dan tentang sebuah releksi dan hikmah yang saya dapatkan selama saya menghilang dan tidak posting di blog ini. Kemungkinan postingan ini akan sangat panjang, jadi jangan bosan yak... XD
Awal tahun 2012 saya mulai disibukkan dengan beberapa hal, terutama mulai disibukkan dengan kuliah di semester empat yang dimulai pada bulan februari. Gak terasa saya sudah 1,5 tahun di IPB, rasanya baru kemarin menjalani masa-masa MPKMB, entah disambut ataupun menyambut. Nah, selain kesibukan di kuliah, sejak januari saya mulai disibukkan dengan agenda organisasi yang saya ikuti. Tingkat dua di IPB saya isi denga mengikuti dua organisasi yakni DPM Fakultas Ekonomi Manajemen dan menjadi utusan DPM FEM untuk menjadi anggota MPM KM IPB dimana saya juga terpilih enjadi BPH di organisasi tersebut. Dua organisasi tersebut merupakan ranah yang sangat baru bagi saya dimana pada tingkat satu saat di asrama saya tidak ikut organisasi apapun di kampus, hanya sekedar jadi pengurus gedung asrama. Maka jadilah saya harus banyak belajar tentang dunia legislatif dan konstitusi yang memang banyak menyita waktu untuk rapat, rapat, dan rapat. Memang itulah tugas seorang DPM dan MPM, rapat.
Selain disibukkan dengan kuliah dan organisasi, saya juga disibukkan dengan sebuah kewajiban. Kewajiban seorang muslim untuk mensyi’arkan ISLAM. Gak muluk-muluk sih, saya hanya ingin mengaktifkan rohis kelas departemen saya di departemen Manajemen IPB. Alhamdulillah, sejauh ini selama kurang lebih sembilan bulan sejak masuk departemen, Rohis kelas manajemen sudah mulai hidup dengan berbagai kegiatan syiar dan semoga saja akan terus berkembang seiring berjalannnya waktu.
Dengan berbagai kesibukan itu, hampir saja saya melupakan sesuatu. Ulang tahun salah seorang teman terbaik saya yang jatuh pada bulan februari yang juga merupakan puncak kesibukanku meskipun masih dalam  masa liburan UAS semester ganjil. Sebenarnya sih bukan lupa kalau dia ulang tahun pada tanggal 9 Februari kemarin, tepatnya lupa dan gak sempet saking (sok) sibuknya untuk memberikan ucapan. Alhasil dengan rencana memberi  kejutan untuk memberi hadiah sebuah tulisan pendek tentang dia, tapi lagi-lagi saking (sok) sibuknya hadiah tulisan itu belum terealisasikan sampai saat ini, dua bulan telah lewat dari hari ulang tahunnya. Dan dalam dua bulan itu saya sungguh benar-benar membuat dia kecewa karena saya cuekin, tiap kali dia sms sering saya abaikan secara sengaja untuk surprise, tapi bukannya bikin surprise malah bikin dia kesal sama saya. Saya jadi benar-benar gak enak sama teman saya itu, seolah-olah saya teman yang melupakan teman terbaiknya, yah lagi-lagi alasan yang saya berikan kemarin adalah kesibukan, sok sibuk –lagi-.
Kemarin saat saya pulang kampung ke Madura dikarenakan ada acara nikahan, yang jelas bukan saya yang nikah,hehe. Nah saat pulang itulah kesempatan saya untuk ngasih kejutan buat teman saya itu, jadinya sebelum pulang saya udah beliin hadiah neh buat dia. Sayangnya dia ternyata gak pulang ke Pamekasan karna UTS katanya, jadinya saya hanya berniat untuk mengantarkan hadiah yang saya beli itu kerumahnya untuk dititipkan ke ibunya saja biar ntar jadi kejutan tersendiri. Masalahnya, saya kalo dirumah bawaannya makin malas ngapa-ngapain, jangankan untuk keluar rumah, dirumah aja kerjaannya cuma makan ama tidur. Alhasil, karna kemalasan saya itulah yang membuat saya mengantarkan hadiah kerumah teman saya itu pada hari terakhir sebelum saya ke Bogor dan tanpa sepatah pesan apapun. Kalo seandainya buka saya titipkan hadiah itu sama ibunya, itu hadiah bisa dianggap hadiah kaleng yang misterius, hehehe... XD
Dan sepatah pesan itu ingin saya sampaikan disini, semoga yang bersangkutan membacanya...

Kawan, tak terasa tujuh tahun telah kita lewati bersama dalam suka maupun duka. Dari zaman SMP yang masih ingusan, sampai masa SMA yang mulai kenal arti cinta, hingga kuliah dan proses menuju dewasa yang matang. Meski terpisah jarak, kau tau hati kita selalu bersama. Do'aku akan selalu  bersamamu, karna kau telah menempati ruang istimewa dalam hatiku. Dan kau akan selalu menjadi sahabat terbaik dalam hidupku.
Atin Hasanah,,,, I Miss You Forever... :D hehehe

Oke, untuk teman-teman pembaca postingan ini, tunggu postingan selanjutnya.... :)

Senin, 26 Desember 2011

Ini Tentang Kalian...^^


Ini tentang kalian yang baru saja kukenal, tapi hati ini telah benar-benar terpaut dengan hati-hati kalian. Aku bertemu dengan kalian pada suatu moment yang takkan mungkin pernah terlupakan, hingga moment itu berakhirpun, kalian masih senantiasa menghiasi hatiku. Dan aku yakin hingga bertahun-tahun kedepan kalian akan selalu ada dalam ingatanku.
Ini tentang kalian yang selalu menjadi inspirasi. Yang selalu menjadikan diri sebagai teladan dan berharap orang lain lebih baik dari diri kalian. Yang harus terlihat berwajah masam meskipun sebenarnya tak menutupi wajah ceria kalian. Yang seolah berhati batu walau ternyata hati kalian selembut sutera. Kalian yang siap dibenci demi menegakkan sebuah cita-cita yang benama keteraturan dan kedisiplinan.
Ini tentang kedisiplinan kalian yang aku salutkan. Selalu belajar untuk bisa selalu memperbaiki diri. Terus membenahi kedisiplinan diri yang kian terpancar dari ketegasan kalian.
Ini tentang kebijaksanaan yang terpancar dari rona wajah kalian. Yang bisa menempatkan diri di saat dan di waktu yang tepat. Yang tetap bisa mengendalikan emosi saat marah melanda.
Ini tentang ketulusan hati kalian yang tak pernah aku ragukan. Selalu memberi ketika diminta. Selalu menolong ketika orang lain membutuhkan. Kalian yang selalu memberikan kerja terbaik untuk menuntaskan amanah tanpa keluh kesah walaupun lelah sudah menggelayuti raga.
Ini tentang semangat kalian yang tak pernah padam. Bahkan kian membara setiap harinya. Membakar semangat orang-orang yang sedang redup. Menjadi pelopor semangat orang-orang di sekitar kalian.
Ini tentang komitmen kalian yang sangat tak diragukan. Keihlasan, keprofesionalan, kerja keras, dan pengorbanan yang yang telah kalian berikan menjadi bukti nyata komitmen teguh kalian.
Ini tentang senyum kalian yang tulus. Selalu menghiasi wajah-wajah indah kalian. Tak pernah sedikitpun kulihat keterpaksaan dari senyuman kalian. Dan ku yakin senyum itu selalu datang dari hati kalian yang paling dalam.
Ini tentang canda tawa kalian yang selalu menghiasi hari-hariku dan hari-hari kita semua. Tentang keautisan yang tak pernah absen dalam setiap kebersamaan kita. Yang selalu membuatku selalu tersenyum karnanya.
Ini tentang kalian yang tiba-tiba aku rindukan.... :’)
Aku merindukan kebersamaan kita dulu yang hanya berbilang minggu. Aku rindu akan senyum dan tawa kalian yang begitu menghibur kegundahan hatiku. Aku rindu canda kalian yang kian mengisi kekosongan hatiku. Aku rindu kalian walaupun aku tak tau apa lagi yang aku rindukan dari kalian.  Aku rindu kalian hingga tak terkatakan seberapa besar rinduku pada kalian. Aku rindu......
Ini memang hanya tentang kalian yang selalu kurindukan...






17 Desember 2011
Jejak Cinta di Tapak Batas Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---

Rabu, 12 Oktober 2011

Siapa Temanmu???

Sesuai dengan judul diatas, aku ingin bertanya pada teman-teman pembaca semuanya, siapakah temanmu? Seperti apa sifat-sifat mereka? Apakah kamu bahagia berteman dengan mereka? Benarkah mereka temanmu ataukah hanya sebuah parasit dalam kehidupanmu yang hanya memanfaatkanmu untuk kepentingan pribadinya saja? Atau bahkan mereka membawamu ke dalam pergaulan yang tidak baik? Udah kayak wawancara aja saya... wkwkw :D
Sebelum melanjutkan membaca tulisan gaje saya ini, ada baiknya coba kalian renungkan dan jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dalam hati kalian masing-masing. Kalian pasti bisa menjawabnya kan???

Manusia itu adalah makhluk sosial. Artinya seorang manusia sepanjang hidupnya memerlukan kehadiran orang lain untuk melengkapi kehidupannya sehari-hari, simplenya seseorang yang hidup di dunia ini pastilah membutuhkan teman. Teman disini dalam artian banyak hal tentu saja. Teman bisa diperoleh dalam keluarga sendiri seperti ayah, ibu, kakak, adik, suami, istri, atau bahkan anak. Teman juga diperoleh di luar kelompok keluarga, seperti teman yang kita miliki dilingkungan sekolah atau lingkungan pergaulan kita. Bahasan yang akan saya angkat kali ini adalah teman diluar kelompok keluarga yang bisa dibilang sangat mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang.
Sebagai manusia, kita sepatutnya bisa bergaul dengan siapa saja. Tak perlu memandang derajat yang seperti saat ini kerap terjadi. Si Kaya ya hanya akan bergaul dengan si kaya yang lain, sedangkan si miskin juga bergaul dengan si miskin yang lain. Lantas yang gak kaya dan yang gak miskin temenan sama siapa dong? #ngasal
Tapi eh tetapi, dalam Islam yang Rahmatan Lil Alamin ini ada beberapa tuntunan dalam memilih teman-teman untuk bergaul. Biar gak hanya sekedar bergaul yang menimbulkan mudharat bagi orang lain dan diri kita sendiri, tetapi bergaul yang bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi diri kita dan agama kita. So, sepatutnyalah kita pandai memilih pada siapa saja kita bergaul dengan teman kita dalam lingkungan pergaulan yang luas.
Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia itu menurut agama temannya. Aka hendaklah diperhatikan oleh seorang diantara kamu akan orang yang akan diambil menjadi temannya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan AlHakim dari Abu Hurairah dengan sanad shahih)
Nah lho? Seperti kata Nabi SAW, diri kita itu dilihat dari bagaimana agama teman-teman kita. Kalau kita berteman dengan anak-anak bengal yang suka ngelawan orang tua dan selalu ngelakuin dosa, kita bisa tau tuh kayak gimana kita aslinya. Jawabannya ya kita sama seperti mereka. Sebaliknya, jika kita berteman dengan orang-orang yang shalih dan shalihah yang selalu melakukan kebaikan dimanapun mereka berada, maka itulah cerminan diri kita,Insya Allah. Seperti kata pepatah “Berdiri di dekat tukang besi akan terimbas panasnya, berdiri di dekat penjual minyak wangi akan terciprat wanginya.” Begitulah kira-kira... Bener gak ya? :p
Al-Ghazali, dakam tulisannya di buku Ihya’ Ulumiddin mengatakan bahwa ada lima perkara pada orang yang patut dipilih menjadi teman. Mau tau apa aja????? Yuk-yuk kita lihat penjelasan di bawah ini.... hehe... J
*      Berakal

Akal adalah pokok dan itulah asalnya. Maksud dari tidak berakal disni bukan hanya gila ya teman. Kalo dari yang saya baca, yang dimaksud dengan ‘orang “berakal” ialah orang yang memahami segala persoalan menurut yang sebenarnya. Adakalanya oleh dirinya sendiri dan adakalanya apabila diberi peringatan oleh orang lain.’ Menurut penafsiran saya sih, teman yang “berakal” itu adalah seseorang mengerti dan bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Dia akan melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan yang benar, oleh kesadaran dia sendiri dan respek juga ketika ada orang lain yang mengingatkannya. Bingung ya? Saya juga bingung #plak

Di dalam artikel yang saya baca menyebutkan bahwa, “Tak ada kebajikan berteman dengan orang bengal. Kesudahannya akan kembali kepada keliaran hati dan putus silturrahim, walaupun persahabatan itu telah berjalan lama.”

 Yang ini pernah saya alami neh, saat SMA dulu. Saya punya teman namanya A, awalnya sih dia anak yang biasa aja menurutku, tapi makin lama makin aku kenal, dia seorang anak yang keras kepala dan bahkan berani melawan orang tua. Yang aku tahu dia bahkan sering kabur dari rumahnya. Saya berusaha untuk bisa merubah dia menjadi lebih baik lagi, tapi ternyata dia malah makin menjadi. Pergaulannya mulai bebas dan tak terkendali. Sejak saat kelas 3 akhir, hubungan kami merenggang, emang gak putus sih, tapi kalo dibandingkan dengan persahabatan kami dulu tuh rasanya jauh banget, apalagi sejak saya pindah ke Bogor setahun silam. Benar-benar tak ada komunikasi antara kami. Saya sih hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuknya, biar bagaimanapun dia adalah sahabat saya.
Kok saya jadi curhat sih? xD Lanjut ke topik yang seharusnya yuk....

“Orang bengal itu kadang-kadang mendatangkan kemelaratan bagimu, sedang maksudnya mendatangkan kemanfaatan kepadamu dan menolong kamu, dimana sebenarnya dia sama sekali tak tahu.”

Wah bahaya dong kalo gitu, bukannya bantu menyelesaikan masalah, malah nambah masalah ya?? Ckckck...

*      Baik Budi Pekertinya

Nah yang ini pasti ngerti dong apa maksudnya??? Jadi lanjut ke perkara berikutnya....
Enggak ding, bercanda, hehehe....

“Baik budi pekertinya tidak boleh tidak dimiliki oleh siapapun yang menjadi teman kita.”
Tidak boleh tidak artinya harus kan ya? :p lanjut....

“Karena banyaklah orang berakal, mengetahui segala sesuatu menurut yang sebenarnya. Tetapi apabila dia memiliki sifat pemarah, atau punya nafsu syahwat yang besar (serem), atau seorang pengecut, niscaya ia suatu saat akan mengikuti hawa nafsunya. Kalau sudah begini, ia akan melanggar apa yang sebenarnya diketahuinya. Hal ini terjadi akibat lemahnya kontrol dan pengendalian yang bersumber dari budi pekerti yang baik. Itu sebabnya patut bagi kita memperhatikan kebaikan budi pekerti teman kita.”
Ooh,,, jadi Budi itu teman kita??? #plak

*      Tidak Fasiq

“Dan janganlah engkau turut orang yang telah Kami lalaikan hatinya dri mengingat Kami dan ia menurutkan hawa nafsunya.” (QS Al-Kahfi:28)

“Oleh yang demikian itu, janganlah engkau dipalingkan daripada mempercayainya, oleh orang yang tidak percaya kepadanya serta menurut hawa nafsunya.” (QS Thoha:16)

“Oleh karena itu, maka tinggalkanlah orang-orang yang berpaling dari mengingat Kami dan ia tidak ingin selain dari penghidupan yang rendah ini.”(QS An-Najm:29)

“Yang dimaksud dengan orang fasik disini adalah orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Tidak ada faedah berteman dengannya karena orang tidak akan merasa aman dari tipuannya serta tidak dipercayai dengan kebenarannya. Ia selalu berubah-ubah dengan perubahan maksud-maksudnya.”
Jadi takut, saya masih merasa selalu berubah-ubah seiring dengan perubahan maksud. Semoga saja saya dan yang sedang membaca tulisan saya ini bukanlah golongan dari orang-orang fasik, amin.

“Dan turutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”(QS Luqman:15)

*      Tidak Berbuat Bid’ah

“Berteman dengan orang yang berbuat bid’ah, maka berteman dengan dia, terdapat bahaya menjalarnya bid’ah itu dan berkembang kutukan bid’ah kepadanya.”
Pembaca tau kan apa yang dimaksud dengan bid’ah? Bid’ah itu adalah perbuatan yanng mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam Islam.

Umar ra berkata, “Haruslah kamu berteman dengan orang-orang yang benar! Kamu akan hidup dalam lindungan mereka. Sesungguhnya mereka itu, adalah hiasan di waktu senang dan perisai di waktu susah. Letakkanlah persoalan saudaramu (temanmu) dalam keadaan yang sebaik-baiknya! Sehingga ia membawa kamu, apa yang memenangkan kamu. Dan asingkanlah dirimu dari musuh-musuhmu, dan berhati-hatilah dari temanmu, kecuali yang kepercayaan dari kamu itu! Dan tidak ada yang kepercayaan, selain orang yang takut pada Allah. Maka janganlah engkau berteman dengn orang dzalim, nanti kamu akan memperoleh pengetahuan dari kedzalimannya! Dan janganlah engkau perlihatkan kepadanya rahasia engkau! Dan bermusyawarahlah tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah!” (diriwayatkan oleh Sa’id bin Al-musayyab)

*      Tidak Loba kepada Dunia

“Adapun berteman dengan dia (orang yang loba pada dunia,red) adalah racun pembunuh. Karena tabiat (karakter) manusia ini, tertarik dan menyerupai. Duduk-duduk dengan orang yang loba kepada dunia itu, dapat menggerakkan kelobaan. Dan duduk bersama orang-orang zahid, dapat menggerakkan kezuhudan di dunia. Karena itulah, tiada disukai berteman dengan orang-orang yang mencari dunia. Dengan orang-orang yang gemar akan akhirat.”

Berkata Ali ra, “Hidupkanlah ketaatan dengan duduk bersama orang yang disegani.”
Berkata Lukman, “Hai anakku! Duduk-duduklah dengan ulama dan berdesak-desaklah kepada mereka dengan kedua lututmu. Karena sesungguhnya hati itu hidup, dengan pengetahuan tinggi (ilmu hikmah), sebagaimana tanah mati, hidup dengan banjir dari hujan.”

Redaksi lain, yakni Ja’far Ash Shadiq ra berkata, “Janganlah engkau berteman dengan lima orang:
*      Pendusta. Maka engkau berada dalam penipuannya. Dia adalah seumpama cahaya panas (fatamorgana), dekat kepadamu yang jauh dan jauh kepadamu yang dekat.
*       Orang dungu. Maka tidaklah engkau memperoleh daripadanya sesuatu. Ia mau mendatangkan manfaat kepadamu, lalu ia akan memelaratkan akan kamu.
*      Orang kikir. Maka ia putuskan daripada kamu, sesuatu yang kamu amat memerlukannya.
*       Orang pengecut. Maka ia akan menyerahkan kamu dan ia akan berlari menghadapi kesulitan.
*      Orang fasiq. Maka ia akan menjual kamu dengan sesuap makanan atau kurang dari itu!”

Wah... Ngeri juga ya kalo kita salah memilih teman atau sahabat. Ternyata memilih sahabat itu harus selektif, pilih yang sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Islam. Seperti kata seorang teman, dekatilah seorang yang kau bermaksud jadi temannya dengan pendekatan hati, hati kita akan tau dia teman yang baik atau bukan untuk kita.
Tapi kalo menurutku, jangan menjauh dari teman-teman yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas, tetaplah menjadi teman mereka, tetapi dalam batasaan-batasan yang menjaga kita agar tidak terseret dalam pergaulan mereka yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Karena kalo kita menjauhi mereka, pastilah kita akan menjadi sasaran empuk bagi pembicaraan mereka di belakang kita, iya bukan? Hanya sekedar pendapat loh... J
Seperti yang aku tulis di salah status jejaring sosial beberapa hari lalu tentang sahabat yag dinukil dari perkataan Ali bin Abi Thalib ra.
“Temanmu yang sebenarnya, ialah orang yang ada bersamamu.
Dan orang yang menyusahkan dirinya, supaya ia bermanfaat bagimu.
Pada waktu membimbangkan, Ia berkata terus terang kepadamu.
Dia sendiri pecah berantakan, supaya kamu terkumpulkan selalu.”



 


Semoga bermanfaat...! :D
Ingin tau cerita tentang sahabat yang benar-benar sahabat? Tunggu postingan saya selanjutnya... xD



13 Oktober 2011
Menyusuri Tapak Cinta di batas Cakrawala Biru