Tampilkan postingan dengan label Amanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amanah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Tujuan



Pengalaman adalah pembelajaran yang paling berharga. 
Sebuah kalimat yang sudah tak lagi asing untuk dibaca, didengar, dan ditulis seperti yang aku lakukan saat ini. Sejatinya memang benar, tapi aku bisa beranggapan bahwa berpengalaman pun kalo ia tak coba belajar dari apa yang ia alami, maka satu-satunya pelajaran yang ia hasilkan adalah kesia-siaan…
Banyak mahasiswa, sangat banyak malah, yang terlalu mengandalkan kalimat “saya ingin mencari pengalaman” ketika ia ditanya alasan atau tujuan mengapa ia mendaftar jadi panitia suatu kegiatan atau mendaftar jadi anggota suatu organisasi kampus. Nyatanya kalimat ini memang terasa cukup ampuh untuk bisa diterima dalam beberapa kepanitiaan atau organisasi. Tapi pertanyaannya adalah apakah benar mereka mencari pengalaman? Ataukah hanya sekedar mencari kesibukan di lowongnya kuliah? Ataukah mencari nama baik sebagai aktivis karna takut dianggap sebagai mahasiswa kupu-kupu? Atau hanya sekedar numpang nama biar terlihat sebagai aktivis kampus tapi nyatanya kerja hanya setengah-setengah bahkan kosong? Dan timbullah atau-atau yang lain.
Tak ada kesimpulan secara umum, karna yang tau tujuan dari masing-masing orang itu adalah orang itu sendiri. Tapi setiap tujuan itu tidak hanya menyangkut diri sendiri, ia berkaitan dengan yang lain, ia bersinggungan dengan tujuan yang lain. Tujuan itu bisa tercapai dengan komitmen, maka ketika tujuannya adalah mencari pengalaman, maka komitmenlah dengan kerja-kerja yang akan memberikan pengalaman. Tujuan itu adalah agenda bersama, maka ketika tujuannya adalah mencari pengalaman, maka jangan lupakan bahwa ada orang lain yang memiliki tujuan yang sama mencari pengalaman. Jangan menjadi manusia rakus yang mengambil semua pengalaman tanpa menyisakan sedikitpun bagi mereka yang memiliki tujuan yang sama. Tujuan itu adalah tekad pribadi, maka ketika tujuannya adalah pengalaman, maka buanglah rasa malas, ego, dan ketidakpercaan diri yang menghambat dan membuatmu menjauh dari pengalaman-pengalaman yang mengesankan.
Dan sekali lagi bahwa tujuan itu tidak hanya menyangkut diri sendiri, ia berkaitan dengan yang lain, ia bersinggungan dengan tujuan yang lain. Ketika komitmenmu tak sebesar tujuanmu, ketika rasa malas, ego, dan rasa ketidakpercayaan dirimu bahkan lebih besar dari egomu, maka janganlah mengorbankan yang lain. Karna ketika itu terjadi,  buruknya adalah kau menghambat dan bahkan menghancurkan tujuan lainnya.

Teguran keras bagi diri sendiri dan bagi mereka yang tak mengerti makna besar dari sebuah tujuan..
-ya-

Sabtu, 24 Agustus 2013

New Family - IGTF Banjarnegara



“Selalu berani mencoba karna kesempatan itu takkan terulang ke-2 kalinya – mba yul”
(Rahma Nurina)

Kadang bahkan diri sendiri menjadi orang yang paling tidak mengenal. Terkadang malah orang lain yang lebih mengenal. Manusia seringkali berprasangka dan tak jarang prasangka itu adalah negatif yang membawa ketidakbaikan bagi dirinya sendiri. Berprasangka bahwa orang ini menganggap kita begini, orang itu menganggap kita begitu. Nyatanya lain prasangka, lain kenyataan. Maka cukuplah kita berprasangka positif bahwa setiap manusia itu adalah saudara, utamanya sesama muslim. Dan kemarin ada seseorang yang memberikan penilaian tentang diriku. Terimakasih untuk Rahma Nurina atas penilaian pada mbakmu yang kadang sok tau ini. Semoga penilaianmu bisa menjadi renungan bagi mbak dan jadi pelajaran berharga buatmu. 

Oh ya, apa kabar pembaca setia blog ? #ngayal - Berasa punya banyak pembaca aja, palingan juga yang buka diri sendiri, hehe... Tapi gak papalah toh aku juga nulis buat diri sendiri. Postinganku kali ini tentang IGTF yang baru sebulan kemarin selesai aku jalani. Dengan banyak alasan yang sudah aku sampaikan di postingan sebelumnya, baru kali inilah aku bisa memposting tulisan tentang IGTF ini. Yah,, meskipun sedikit kadaluarsa, tapi semoga tetap bisa dinikmati dan diambil pelajarannya.

Bermula dari keinginanku untuk ikut KKP atau kuliah kerja praktek, berhubung dari departemenku tidak mewajibkan KKP sehingga kalau mau ikut harus mendaftar terlebih dahulu. Sebenarnya aku telah mendaftar ke departemen untuk ikut KKP, kebetulan yang ikut hanya aku seorang karena teman-teman yang lain lebih tertarik untuk ikut magang di beberapa perusahaan. Namun karena ada beberapa hal membuatku akhirnya tidak terdaftar ikut KKP. Kesel sih awalnya, tapi kemudian beranggapan bahwa mungkin Allah tidak menghendaki aku ikut KKP dan nyatanya Dia memang menunjukkan padaku cara lain untuk aku bisa terjun ke masyarakat secara langsung, yakni melalui IPB Goes To Field (IGTF). Alhamdulillah, aku yakin ini memang jalan Allah yang terbaik untukku.

IGTF adalah kegiatan yang diadakan oleh LPPM IPB sebagai bentuk pengabdian dalam rangka ikut andil dalam kemajuan dan kesejahteraan masayarakat dan bangsa. Kali ini aku ikut andil dalam program tersebut, dengan tema program “Pengembangan Agrowisata Durian” di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kalo denger judul programnya sih setiap orang kayaknya bakal nyangka bahwa agrowisata itu sudah jadi dan tinggal dikembangin semisal dibidang pemasarannya, termasuk juga aku waktu pertama kali milih tema tersebut sebagai opsi pertama dari tiga opsi yang diberikan. Pemasaran adalah bidang penelitian yang insya Allah akan kujalani di semester yang akan datang, apalagi aku memang tertarik pada dunia ekowisata dan semacamnya, termasuk juga agrowisata sebagai objek penelitianku. Jadi, aku kira tema ini adalah pilihan yang tepat buatku. Oia, sebenarnya aku juga punya alasan kedua kenapa milih tema ini, aku doyan banget durian, hehe, karena judulnya pengembangan dan sudah berprasangka bahwa pohon duriannya sudah berbuah aku sudah membayangkan bisa makan banyak durian disana. Tapi usut punya usut, perkiraanku dan para peserta lain salah total. Karena saat kami ikut kuliah pembekalan dosen pembimbing menjelaskan bahwa kawasan tersebut masih dalam tahap perencanaan untuk dijadikan kawasan agrowisata durian. Misi utama kami, para peserta IGTF, adalah menyelesaikan pra-site plan yang telah dibuat oleh Pak Ian, dosen pembimbing kami, menjadi site plan. Mungkin bahasa sederhananya adalah membuat peta kawasan untuk mempermudah para petani setempat dalam membagi petak-petak tanaman pada kawasan. Dan ini adalah pekerjaan anak-anak arsitekstur lanskap yang aku tidak mengerti sama sekali. Mengerti sedikit mungkin iya, tapi kalo disuruh ngerjain aku bakal nyerah duluan, jauh diluar bidang keilmuanku saat ini di manajemen yang notabene tentang pemasaran, sdm, keuangan dan produksi hilir. Tapi aku tak kehilangan semangat meskipun ternyata 80% IGTF ini tidak sesuai dengan tujuan awalku, tapi toh aku tetap bisa mengabdi kan? J

Dengan serangkaian kuliah pembekalan yang kamu lakukan di minggu-minggu ujian, akhirnya waktu pemberangkatan tiba setelah sehari sebelumnya dilaksanakan pelepasan peserta IGTF oleh Rektor IPB, Bapak Herry Suhardianto, dan sedikit materi tentang pengabdian yang disampaikan oleh Rektor Universitas Paramadina,  Bapak Anis Baswedan. Oia, aku lupa menyampaikan bahwa pada kesempatan kali ini kegiatan IGTF bekerja sama dengan program “Mahasiswa Mengabdi”-nya UPM, itu mengapa Pak Anis ikut memberikan materi. Mau tau apa materinya? Mungkin lain kali kuposting materi yang disampaikan oleh rektor UPM tersebut. Tepatnya hari Minggu, tanggal 23 Juni 2013 kami ber-27 orang plus dosen pembimbing, Bapak Ian, berangkat dengan menggunakan bus dan tiba esoknya saat adzan subuh baru saja berkumandang dari masjid agung. Kami singgah sementara di masjid agung untuk sholat subuh dan bersih-bersih sebelum acara penyambutan di kantor Bappeda. Setelah penyambutan, kami kembali mobilisasi dari alun-alun kota ke desa dimana kami akan tinggal selama kurang lebih 21 hari, yakni desa Glempang, Kecamatan Mandiraja. So, perjalanan panjang pun dimulai... :D


Dimulai dari orientasi tapak dan orientasi desa, kami mulai menjalankan tugas-tugas kami di Desa Glempang ini. Saat pertama kali sampai di tapak, yang saat sebelumnya hujan deras mengguyur desa, membuat kami kewalahan berjalan menyusuri jalan setapak karena sebagian besar jalan yang kami lewati berupa tanah liat yang karena hujan jadi becek dan licin. Teman-teman yang kebanyakan pakai sandal jepit akhirnya lebih memilih dilepas dan akhirnya nyeker. Setelah sedikit bersosialisasi dengan penduduk yang tidak sengaja bertemu sedang panen gembili, sejenis ubi rambat, dan tentu saja ke pertapan yang menjadi tujuan kami. Inilah yang paling menakjubkan, pemandangan yang terhampar sepanjang perjalanan itu sangat indah. Mandiraja khususnya Glempang merupakan kawasan dengan kontur lahan yang berbukit di daerah pedesaannya, sejauh mata memandang terhampar bukit menghijau yang gak bakal bosan dipandang mata, ceilleee...  Tak lupa kami juga sempat berfoto-foto, jepret sana jepret sini, walau ala kadarnya menggunakan kamera hp, yang penting aku gak melewatkan pemandangan yang indah itu, berasa udah mau pergi padahal kami masih akan tinggal disana selama tiga minggu kedepan. Malamnya kami berkesempatan ikut dalam kumpul kelompok Tani Sido Subur, kesempatan langka yang kami dapatkan karena jarang sekali mahasiswa yang turun lapang bisa bertemu langsung dengan masyarakat poktan. Hal ini akan mempermudah kami dalam menganalisis permasalahan desa dan tentu saja dalam menyelesaikan tugas yang diberikan LPPM IPB kepada kami.

Tugas kami secara garis besar dibagi menjadi tiga, yakni pemetaan petakan lahan untuk pembuatan site plan, pemetaan profil lahan untuk irigasi, dan suvey social mapping. Pembagian tugas pun dilakukan oleh ketua kelompok. Pada minggu pertama kebanyakan teman-teman turun lapang untuk melakukan pemetaan lahan, namun ada sebagian kecil yang melakukan survey pemetaan sosial, mereka berkunjung ke Balai Penyuluhan dan juga ke rumah-rumah warga. Selain tiga hal tersebut, kami juga ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat di Desa Glempang seperti Sadranan atau Nyadran sebagaimana masayarakat setempat menyebutnya, pengajian ibu-ibu, pembuatan kerajinan tangan, pembuatan gula kelapa, pembuatan sriping pisang rajalawe dan banyak kegiatan lainnya. Minggu kedua adalah minggunya social mapping, dimana semua peserta berkeliling desa untuk melakukan wawancara dan bersosialisasi dengan tokoh masyarakat di desa. Di minggu kedua ini kami hanya ber-25 orang karena dua ketua kelompok kami kembali ke Bogor untuk mengurusi kepentingan lain. Yang satu wisuda namanya, yang lainnya ngurus jadwal sidang. Ketua kelompok di kelompok IGTF Banjarnegara ini memang ada dua orang, jangan tanya kenapa karena awalnya aku juga bingung. Tapi sudah diceritakan lengkap disini oleh salah satunya, Kak Najmi. Minggu terakhir adalah minggunya laporan. Di minggu ini kami merekap data yang sudah dikumpulkan untuk selanjutnya disatukan menjadi laporan, sehingga memang tidak terlalu menyibukkan kecuali yang datanya kurang dan harus kembali turun lapang untuk melengkapinya. Banyak kejadian selama tiga minggu kami bekerja melaksanakan tugas, yang serius sampai yang lucu, yang membahagiakan dan yang mengharukan, ada juga yang mengesalkan, mulai dari blusukan ke hutan hingga kekenyangan atas suguhan yang diberikan oleh warga desa yang sangat baik hati. Kami juga berkesempatan berkunjung ke datatan tinggi Dieng yang menjadi objek pariwisata di Banjarnegara. Agar ceritaku tak terlalu panjang lebar, Kak Najmi sudah menuliskannya disini dengan sangat lengkap, so silakan dibaca aja. Ada gunanya juga aku nulis belakangan, teman-teman yang lain udah pada nulisin juga soalnya, hehe...
Fariz Harindra - Ketua 1
Nurul Najmi - Ketua 2
Beralih ke hal berikutnya, aku ingin cerita tentang rumah tempat aku menginap, yang jelas beserta orang-orang yang tinggal didalamnya. Kami tinggal dirumah yang cukup besar aku bilang kalo ukurannya rumah di pedesaan, namun masih sederhana karena masih belum lengkap. Nama pemiliknya Pak Karmo, ia tinggal bersama anak perempuannya yang masih berumur sekitar enam tahun, namanya Aina. Istrinya seorang TKW di Korea. Seperti yang kami bilang sebelumnya, rumah yang kami tinggali belum lengkap, termasuk kamar mandi yang belum jadi, alhasil untuk keperluan mandi dan cuci kami menumpang dirumah depan yang juga ipar dari Pak Karmo, kami biasanya memanggil Bu Arif. Untuk makan sehari-hari kami juga makan didapur Bu Arif karena ia yang memasak makan untuk kami selama tiga minggu didesa. Pak Karmo dan Bu Arif adalah orang yang baik hati, mereka suka ngobrol dan gak bosan-bosannya ngobrol dengan kami, terutama sama salah satu dari kami, sebut saja Rahma. Rahma juga yang paling sering main bareng Aina, sepertinya dia yang paling disayang oleh Aina diantara ketujuh kakak-kakak yang lain, hehe. Yang menempati rumah Pak Karmo berjumlah delapan orang dengan personilnya Trini yang ngefans banget sama Korea, Dyah yang sering dibilang mirip artis, Rahma yang suka ngobrol dan supel abisss, Dian yang blak-blakan dan punya seabreg film, Lilis yang kadang rame kadang pendiam, Pelangi yang kadang narsis tapi selalu berhati-hati dalam bertindak, Atari yang kalem tapi tak terduga dan sering diguyonin sama si Arif yang baru masuk SMA (anaknya Bu Arif), dan aku yang beginilah, hehe... Geng Pak Karmo, begitulah kami sering disebut oleh teman-teman yang lain.

 

Berdelapan kami menjadi rombongan yang seringkali tepat waktu telat saat kumpul dengan banyak alasan, antri kamar mandi-lah, sarapan belum jadi-lah, cucian setumpuk-lah, dan beragam alasan lainnya. Tapi meskipun begitu kami tetap semangat dalam melakukan tugas-tugas. #ngeles :p Ciri khas lain dari geng ini adalah tiap malam sehabis kumpul dengan yang lain pasti ada yang namanya “show time” dimulai dari mbak Trin yang nge-dance ala artis Korea dan yang paling sering nonton film di laptopnya Dian. Tapi yang paling mengharukan buatku adalah saat buka puasa di hari pertama (hari kedua untukku), teman-teman beserta pak Karmo dan Bu Arif memberikan surprise untukku, mereka merayakan miladku yang jatuh pada hari itu, 10 Juli. Walau sederhana, hanya dengan roti tawar yang di tulisi “Happy Birthday” menggunakan susu coklat, tapi itu benar-benar membuatku terharu. :’) Namun setelahnya jangan tanya, aku disuruh mencuci semua piring kotor yang ada, jadi inem sementara deh. Tapi gak papa, aku kerjain dengan sukacita :) Oia, selain Geng Pak Karmo, teman-teman yang lain juga pada ngucapin selamat, ada yang langsung, ada juga yang lewat sms karena hari itu ada sebagian anak yang pergi ke Jogja, dan ada juga yang sudah balik ke Bogor karena ada ujian perbaikan. Sayang, Pelangi gak ada diantara kami. Setelah tarawih, teman-teman semua berkumpul di rumah Pak Karmo untuk makan es degan, kebetulan gengnya pak Karmo baru dari desa sebelah untuk ngambil kelapa muda, sekalian deh mereka pada bilang ngerayain miladnya Kak Yuli. Alhamdulillah, makasih semuanya...

Sepertinya tulisanku kali ini sudah terlalu panjang yak? Maklumlah banyak hal-hal seru yang aku dapatkan di tiga minggu tersebut, baik dari kejadian-kejadiannya maupun dari orang-orangnya. Ke-26 orang anggota IGTF Banjarnegara (tentang bagaimana karakter mereka bisa dibaca disini) dan tentunya masyarakat desa Glempang, khususnya mereka yang rumahnya kami tinggali selama sekitar tiga minggu itu, menjadi keluarga baru bagiku. Keluarga yang meskipun tak ada ikatan darah, tapi ada ikatan yang terjalin karena-Nya. Aku senang mengenal mereka dan aku bahagia bisa menjadi bagian dari mereka. Semoga kami semua tetap memiliki semangat, semangat durian banjarnegara yang sedang kami tunggu waktu berbuahnya... :D (ya)



“Salam durian banjarnegara! Keras dan Kuat luarnya, Manis dan Lembut dalamnya!”
(Fariz Harindra Syam - Ketua Kelompok)

Rabu, 16 Januari 2013

DIA


Aku masih ingat, tujuh bulan yang lalu saat akan pulang kampung karena liburan kenaikan tingkat, dia membuatku merasa terharu, merasa speechless, merasa entahlah campur aduk. Pagi-pagi entah jam berapa aku berangkat dari kontrakanku bareng Dila dan Dita saudara kembar yang akan bersamaku naik kereta untuk pulang kampung ke Madura. Kami berangkat ke stasiun Bogor untuk selanjutnya ke stasiun Jakarta Kota. Masih pagi saat kami sampai di stasiun Jakarta Kota, sedangkan kereta yang akan membawa kami ke Surabaya baru berangkat sekitar jam 12 siang nanti, masih agak lama untuk menunggu, mungkin rasanya akan sedikit bosan. Di Stasiun sudah ada Mbak Viska yang menunggu kami, dia juga akan bersama kami dalam perjalanan ke Madura nanti. Kebetulan karena paginya kami belum makan, meskipun kami tau restoran atau tempat makan di stasiun akan cukup mahal bagi kantong mahasiswa seperti kami, kami tidak ambil resiko lemas di perjalanan, jadinya kami akhirnya masuk ke salah satu resto.
Di saat itulah, di saat aku makan, Dila tiba-tiba keluar entah untuk apa tak terlalu aku perdulikan. Yang membuatku bingung adalah saat Dila masuk dia tak sendiri, dia masuk bersama dengan seseorang yang sudah aku kenal, sudah sangat aku kenal. Dia tersenyum begitu melihatku dan yah aku juga tidak tau harus bersikap bagaimana, hanya seulas senyum haru. Dia duduk disampingku dan memberiku sebuah tas jinjing berwarna merah tua, katanya sebagai kado miladku yang terlambat. Di dalamnya ada sekotak nasi goreng, sebuah CD, dan secarik kertas. Aku tidak langsung membacanya tentu saja, menyimpannya dulu, aku lebih tertarik mengobrol dengannya. Ah, rasanya hari itu takkan terlupakan, dia benar-benar membuatku merasa jadi saudari yang istimewa. :p
Muncullah celetukan-celetukan Dila dan Dita, “ah, kalian so sweet banget sih”. Haha, si Dila ada-ada aja, namanya juga sahabat kan harus so sweet ya, emang ke pasangan doang yang boleh so sweet – so sweet #loh #gubrak Ya, tidak heran memang Dila bilang seperti itu karena dia dengan ikhlasnya mengejarku sampai ke stasiun Jakarta Kota hanya untuk memberi kado milad buatku, meskipun sudah terlambat hampir seminggu. Ah, aku tidak pernah menganggap dia lupa tanggal miladku, karna aku tau dia pasti ingat seperti aku juga akan selalu ingat tanggal miladnya. Tapi yah seperti udah menjadi kebiaasaan bagi kami, jika salah satu dari kami milad pasti yang lainnya akan terlambat mengucapkan selamat milad dengan sengaja. Gak cuma dari Dila dan Dita aja celetukan itu muncul, entah aku atau dia yang bilang pertama kali “Aku mengejarmu sampai stasiun Jakarta Kota”,  aku lupa, tapi yang jelas aku juga nyeletuk, ‘kayaknya cocok tuh buat judul cerpen’ hehe... Dan dia bilang, ‘bener tuh Yul, cocok buat judul cerpen, ditunggu ya cerpennya’. Dan sampai saat ini aku belum buat cerpen itu, maaf ya, otakku lagi kurang jernih buat bikin cerpen, hehe, jadi aku buat tulisan ini aja ya... :p
Lima bulan berlalu dan sebentar lagi dia milad. Ah, kali ini aku ngasih kejutan apa ya? Ngasih kado apa ya? Kali ini harus ada yang beda dari dua tahun sebelumnya dan yang terpenting bukan kado. Dan terbersitlah ide itu :) Kebetulan aku sedang intens bertemu dengan Mbak Denok jadi aku ngajak mbak Denok buat ke rumah dia, dan tidak lupa juga ngajak si Ina Walia. Sayangnya si Ina gak bisa, jadinya aku cuma berdua dengan Mbak Denok. Sore itu kami berdua kerumah dia tanpa bilang-bilang dulu karena kami memang ingin memberikan surprise kepadanya. Sepertinya kami berhasil, dan aku yakin dia pasti senang dengan kehadiran kami berdua. Sepanjang sore dan malam (karena akhirnya kami menginap di rumahnya) kami mengobrol bertiga, sambil makan kue tart dan nonton TV.  Malam itu jadi malam yang membahagiakan. :)
Dan kemarin, tanggal 15 Januari 2013 adalah hari terakhir UAS di semester lima ini. Rasanya beban untuk semester ini sudah lepas setengahnya. Kenapa setengahnya? Karena aku juga belum tau bagaimana nilai-nilaiku di semester ini, jadi itu terasa masih jadi beban. Jadi curhat yak? :p tapi sebenarnya aku bukan mau ngomongin itu. Sore hari kemarin aku sedang membaca novel di depan TV, maklumlah sudah tidak ada ujian, hehe.. Sekitar jam lima sore Ulfi datang dan langsung menghampiriku, “Yul, ada titipan”.
Aku melongo tidak mengerti. “Titipan? Dari siapa, Fi?”
“Dari ‘dia’” (sebenarnya Ulfi nyebut nama tapi sengaja aku ganti dengan kata dia, biar jadi penasaran. Tuh kan penasaran? Haha :p)
Aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi dan langsung masuk ke kamar untuk membukanya. Bungkusan itu berisi sebuah buku. Sebuah buku yang memang sudah lama ingin aku baca, tapi belum ada kesempatan untuk meminjam dan membacanya. Ada pesan di atasnya dan pesan itu membuatku tersenyum haru, dan lagi lagi speechless. Apa katanya di pesan itu? Kalian mau tau?
“Yul, aku gak mau minjemin sirahku ah... Jadi kado sesi 2 aja ya.. Hihi :p”
Membaca pesan itu aku jadi ketawa sendiri. Sebelumnya aku memang berniat untuk pinjam buku itu pada dia, tepatnya buku Sirah Nabawiyah karangan Al-Mubarakfuri. Tapi sesuai pesannya tadi, dia tidak mau meminjamkannya tapi malah memberikan buku itu padaku sebagai kado sesi 2.
ini dia nih bukunya :D
 Kado sesi 2, haha, kedengaran aneh ya buat kalian. Aku sendiri tidak menyangka ternyata dia masih inget kado sesi 2 yang dia janjiin di selembar kertas yang dia berikan saat dia nganterin kado miladku ke stasiun Jakarta Kota tujuh bulan yang lalu. Jujur aja nih, saat kembali ke Bogor kemarin aku sempet nyinggung kado sesi 2 itu untuk bercanda, beneran, itu sebenarnya bercanda untuk jadi alasan aku mengucapkan terima kasih pada dia, karena setelahnya aku hampir saja lupa dengan kado sesi 2 itu. Sampai kemarin saat aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi, kado sesi 2 dari dia yang membuat aku kembali ingat.  Dan aku bahagia punya saudari seperti dia... :’)

“Aku tidak tau apa yang harus aku ucapkan saat aku membuka bungkusan yang kau berikan, benar-benar speechless dan yah terharu. Ah, aku saja hampir lupa kado sesi 2 itu dan kini kau mengingatkannya dengan buku Sirah itu. Alhamdulillah, karna itu aku bersyukur atas dua hal. Karna Allah mengizinkan aku memiliki buku itu lewat perantaramu dan yang paling penting adalah karna Allah telah memberiku saudari terbaik dari yang terbaik seperti kamu. Jazakillah khairan katsir, Ukhti Nisa sayang :) Kau memang saudari terbaik sedunia... :D”

Teruntuk dia, saudariku, Annisa Sophia --> “Blue Cloud”  :)

Rabu, 12 September 2012

Percaya


 
Percaya...
Cukup percaya bahwa kau bisa...
Cukup percaya saja bahwa dia juga bisa...
Susah memang, jika ternyata tak sesuai dengan yang kau harapkan
Tapi jika terus seperti ini, bukankah kau sendiri yang selalu tak tenang?
Kau pikir hanya kau yang bisa?
Kau pasti salah
Mereka juga pasti mampu, bahkan lebih baik darimu
Nyatanya terkadang mereka malah lebih bertanggung jawab daripada kamu
Jangan hanya omonganmu yang besar
Tapi tunjukkanlah bahwa kerjamu juga besar...

Saat kau tak percaya mereka bisa
Kau akan merasa kaulah yang paling tau...
Saat hanya kau yang paling tau
Semuanya kau kerjakan sendirian saja...
Percayalah...
Sesungguhnya itu hanya akan membuatmu merasa susah hati dan susah pikiran...
Kalau kau ingin dipercaya saat mengerjakan sesuatu
Maka percayalah juga kalau mereka bisa melakukannya...
Kalau kau ingin pekerjaanmu dihargai
Maka hargai juga kerja mereka...

Sekali lagi, Percayalah...
Cukup saja percaya bahwa semua akan baik-baik saja...
Cukup saja percaya bahwa ada Dia yang selalu mengerti kita...

*Hanya sedang ingin mengingatkan diri sendiri*
    Tapak Batas Cakrawala Biru                    
                                                          ---Yuli Astutik---