Tampilkan postingan dengan label Keluarga Ko[m]plak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Ko[m]plak. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Random


Hanya sedang bahagia...
Semuanya berawal dari hati...
Dan ukhuwah itu terjalin hingga kini...
Cukup dengan bertemu dan melihat senyum mereka...
Rasanya memang sungguh berbeda...
Terimakasih untuk semua, kalian telah mengisi relung-relung kosong dalam hatiku...
Bagiku itu sudah cukup, jalin ukhuwah dengan cinta...
Sahabatku... :D

(Sempada-XeniX-TwicE-ResaCita-PII-3A-218-A4-B15-KPK-MAN47-Formasi-MPM-DPM-‘n my lovely friend)

Minggu, 02 September 2012

Menghayati Sebuah Peran


nyambung gak ya??? --a
Terbetiklah judul diatas suatu ketika, tepatnya satu minggu yang lalu setelah aku menyelesaikan sebuah amanah. Sudah seminggu yang lalu, tapi aku baru sempat untuk menulis dan mempostingnya sekarang. Jangan tanya alasannya kenapa, karena kalian pasti tahu kalo membaca postingan tentang diriku sebelumnya. Buat beberapa orang mungkin akan mengerti maksud kenapa aku  membuat postingan ini. Karena sebelumnya aku pernah berbicara tentang hal ini kepada mereka, dan mereka pun mungkin mengalami hal yang sama denganku.

Setiap manusia dalam kehidupan, sekecil apapun itu, pasti memiliki peran. Entah itu protagonis, antagonis, atau di antara keduanya. Ini bukan tentang sinetron ataupun film, tapi ini tentang peristiwa kehidupan. Kau pernah ikut kegiatan atau sebuah festival dimana kau menjadi salah satu pengisi acara? Anggaplah kau ikut sebuah pentas drama dan kau menjadi pemeran figuran, peran yang sama sekali tak diperhatikan orang, bahkan kau sendiri baru tahu bahwa ada peran itu. Mungkin kau senang karna tetap mendapat peran walau figuran daripada tak lolos seleksi, tapi bukankah kau juga bisa sedih karna tak bisa mendapatkan peran yang lebih baik, yang mungkin akan lebih dihargai oleh orang lain??? Kali ini anggap saja kau kecewa dengan hasil yang kau dapatkan meskipun akhirnya kau terima juga peranmu. Latihan demi latihan kau jalani meskipun dengan hati dongkol juga iri melihat orang lain memainkan peran yang kau inginkan. Akhirnya kau menjadi tak ikhlas dalam menjalani latihan. Ketak-ikhlasanmu berakibat pada kesalahan-kesalahan yang kau lakukan saat latihan yang membuat pelatih jadi geram dan kesal padamu. Tiap hari dia marah-marah karna kau selalu melakukan kesalahan dan tak becus dalam berakting. Hal ini tent saja semakin membuatmu kesal bukan? Dan puncaknya kau dimarahi habis-habisan saat gladi bersih pentas drama yang kau ikuti karena tak hafal dialog.

Merasa tak berguna dan tak dibutuhkan karna terlalu sering mendapatkan perilaku yang kurang menyenangkan, itulah yang kamu rasakan. Dan ketika puncak acara pentas drama itu tiba, kau memilih tidak datang dan membiarkan acara berjalan tanpa kamu yang berpikiran bahwa acara pentas drama itu akan tetap berjalan dengan mulus dan sempurna. Tapi bukankah itu hanya praduga yang ada dalam pikiranmu???

Kau tidak tau betapa gaduhnya pelatih mencarimu yang tak kunjung datang di backstage. Betapa bingungnya dia mencari penggantimu padahal dia sendiri tau hanya kamu yang paling ahli berperan disitu. Betapa paniknya teman-temanmu melihat pelatih yang mondar mandir menunggu kedatanganmu dengan muka cemas. Dan betapa kalang kabutnya pentas drama hanya karena tak ada pemeran figuran yang bahkan dianggap tak ada itu. Kau tak tau bahwa ternyata bahkan pemeran utama tak bisa melakukan perannya jika peran figuranmu tak berjalan. Kau begitu santainya meninggalkan pentas drama karna kau tak tau betapa pentingnya dirimu. Kau tak tau tanpa kau, acara pentas drama itu berjalan dengan kacau balau.

Tapi ah, sekali lagi kisah diatas hanya sekedar perumpamaan bukan. Hanya sekedar contoh yang bahkan mungkin tak pernah terjadi di dunia. Bahkan mungkin yang terjadi di dunia adalah yang lebih besar dari itu. Entahlah. Aku membaca sebuah filosofi yang di buat oleh kakak di sebuah lembaa. Tentang Air. Bukankah gedung tidak akan berdiri jika tak ada unsur air saat pembangunan. Pernahkan kita mengkalkulasi air saat kita mengkalkulasi bahan-bahan lain seperti pasir, bata, dan semen? Air seolah tak memiliki makna disana, tapi tanpa air kita takkan pernah bisa menyatukan pasir, semen, dan bata menjadi sebuah gedung yang kokoh.
 
Menjadi apapun dirimu. Peran apapun yang kau sandang, maka itulah dirimu. Kau mungkin tak suka, kau mungkin tak ingin, tapi mungkin saja kau orang tepat mengisi peran itu. Kau merasa tak bisa, kau merasa bodoh, tapi mungkin saja kau lebih ahli dari pada yang lain untuk memerankan peran itu. Kau hanya berprasangka yang mungkin saja kenyataannya tak sesuai dengan prasangka yang ada di pikiran dan hatimu.

Maka hayatilah peranmu, jalanilah peranmu. Berikan yang terbaik yang kau bisa dan ikhlaslah dalam menjalaninya. Karena kau tahu, kau pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang kau kerjakan. (ya)


*Kini aku disini, berperan di tempat ini, tak seperti dulu. Susah memang, tapi aku ingin mencoba menghayatinya. Berat memang, tapi aku ingin mencoba ikhlas menjalaninya. Mereka bilang aku harusnya disini, yang lain juga bilang aku pantasnya disana. Tapi aku tau, hatiku mengerti, bahwa dimana pun aku berada, aku harus bisa menjalankan peranku dengan sebaik mungkin. Dan kau tau kawan, kini aku berhasil menjalankan peran itu, meski penuh dengan ketaksempurnaan. Dan kau tau, kini aku bahagia, walau dulu tak suka, walau dulu terasa susah, walau terlalu berat, kini aku bahagia. Bahagia bersama mereka. ASEF AIR yang selalu bersemangat :D*

Bahagia menapaki jejak langkah baru
Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---

Sabtu, 07 Juli 2012

Ucapan yang Terlambat

Untuk sebuah ucapan yang sangat terlambat aku sampaikan...

Yah, seharusnya ucapan ini telah aku sampaikan dua minggu yang lalu. Entahlah, ucapan ini spesial atau tidak, wakltu itu aku sengaja untuk tidak mengucapkannya tepat waktu, seperti  kebiasaanku sebelumnya. Pura-pura lupa, tapi setelah beberapa hari baru mengucapkannya. Tapi inilah aku yang dasarnya emang pelupa, keterusan lupa untuk ngucapin, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya juga, hehehe :p 
Aku sih berharap mereka tidak kecewa karena waktu menyampaikan ucapan milad dariku kepada mereka yang mungkin tidak tepat karna amat sangat terlambat. Mereka? Yah, mereka. karena bukan hanya satu orang yang belum aku kasih ucapan selamat. Kali ini sebut saja mereka bocah, tapi bocah dewasa, tentunya...Hah, kok di sebut bocah??? --a jangan heran, mereka sendiri yang menyebut diri mereka bocah, mungkin sok pengen jadi bocah lagi :p, padahal sebenarnya dari sikap mereka sungguh amat dewasa, bahkan mungkin lebih dewasa dariku. Dan taukah kalian? kedua bocah yang aku maksud itu adalah pemimpin, pemimpin bagi ratusan teman-teman sebayanya di asrama, tepatnya asrama TPB IPB. Dan setelah menjadi pemimpin bagi teman-temannya dulu, kini mereka jadi pengayom, pengayom bagi adik-adik mahasiswa baru yang akan tinggal di asrama selama setahun kedepan. Meskipun mereka menyebut diri mereka bocah, tapi aku tau bahwa mereka bijak, cerdas, dan yang terpenting mereka sangat baik, cerminan kedewasaan yang patut untuk diteladani.

Karena kedewasaan bukan masalah usia, kedewasaan itu merupakan sebuah pilihan, iyaa kaan kawan??? :)

Sebelum memberikan ucapan dan memberi tahu siapa kedua bocah yang aku maksud, aku ingin bercerita dulu tentang mereka. Bocah pertama, seorang wanita yang sangat cantik dan pandai menggoreskan tinta. Aku mulai mengenalnya sejak masuk dan tinggal di asrama TPB. pertama kali mengenalnya, menurutku dia terobsesi menjadi entrepreneur, karna bahkan ketika seorang Ammah (Sebutan SR A4) bertanya "Ketika kamu diberi sebuah pena, apa yang akan kamu lakukan?". Jawabannya saat itu sempat membuat aku dan teman-teman satu gedung tersenyum, dia akan menjadikannya sebagai modal usaha, contohnya dengan menghasilkan karya yang bisa dijual dengan pena tersebut, atau mungkin menjualnya sebagai modal usaha yang lebih besar lagi. Saat itu ada anak-anak yang tertawa mendengar jawabannya, mungkin termasuk aku, tapi aku melihat yang lain darinya, aku melihat semangat dan kesungguhan dalam dirinya.
Wanita yang satu ini begitu lembut dan penyabar. Ah, aku bahkan iri dengan senyumnya yang begitu menawan. kenapa begitu? Karena aku terkadang belum bisa se-ikhlas dia dalam tersenyum. Ketika dia tersenyum, seolah tak ada beban dan masalah pada dirinya, meskipun terkadang aku tau bahwa dia sedang mengalami masalah yang berat. Akan tetapi dia selalu tersenyum dan membuat orang lain juga ikut tersenyum. Karyanya begitu memesona, siapa yang tak terhenyak diam ketika dia sedang bersenandung petikan-petikan bait-bait ciptaannya, bukan nyanyian, melainkan puisi. Dia bisa membawa suasana hati orang lain jadi bahagia, sedih, terharu, dan bahkan marah dengan tulisan-tulisannya yang bergelora. *kenapa aku jadi nyastra gini ya?* Tapi memang benar sih, dia salah satu wanita luar biasa yang aku kenal semenjak aku kuliah di IPB ini. 

Bocah kedua, seorang laki-laki yang sangat apa adanya tapi justru dari kesederhanaan itulah yang membuat orang-orang suka padanya. Pertama kali kenal dengannya aku lupa kapan tepatnya, yang jelas kami mulai kenal saat banyak kegiatan dari asrama dan juga kerena aku yang suka nimbrung-nimbrung di kumpul Lurah Asrama TPB IPB. Dan yang membuat aku akrab dengannya karna kami ada di satu divisi untuk sebuah kepanitiaan besar setahun yang lalu. Bocah yang satu ini kadang suka ngasal, tapi dari kengasalannya itu, ada makna tersembunyi yang dia saja yang tau apa maksudnya. terkadang kurang memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya alias nyablak apa-adanya #plak Dia begitu perhatian pada teman-temannya, suka bercerita apa saja yang bisa diceritakan untuk mencairkan suasana, dan juga suka mendengar curhatan orang, salah satunya aku yang dulu juga suka cerita berbagai hal (baca: kegalauan) saat masih satu divisi, dan kadang sampai sekarang juga masih cerita seputar hal yang umum. Karena seperti aku bilang sebelumnya, meskipun dia rada koplak tapi dia adalah orang yang kadang bisa bersikap sangat dewasa dan tentu saja, bijak. Apa lagi ya tentang dia??? ah, banyak-lah pokoknya, sampe-sampe aku bingung mau nulisin ciri khasnya yang mana, terlalu banyak ciri khas dalam dirinya yang malah jadi gak khas lagi... #plakplak :D
Tapi ada stu hal yang kocak neh, terjadi beberapa hari yang lalu saat aku bertemu dia di belakang gym. Dia bilang "Ih, bude jahat lupa ulang tahunku" hahahaha..... Aku cuma bisa ketawa menyadari kesalahanku saat itu yang pura-pura lupa dan gak ngucapin, eh malah keterusan lupa gak ngucapin, hehehe... 
Sekarang aku mau ngucapin...

SELAMAT HARI LAHIR, KAWAN....


 Uhibbukumfillah, Sahabatku...
Semoga Allah senantiasa mengiringi jalan kalian untuk meraih masa depan yang cemerlang menuju syurga-Nya... Amiiiieeennnnn.... :D

Semoga kita selalu ingat ya kawan, bahwa hidup ini bukan seberapa lama umur kita, tapi seberapa banyak hal-hal bermanfaat yang kita lakukan untuk orang lain, lingkungan, dan agama kita.... (kutipan #lirik Nisa) ^^v

Teruntuk Sahabatku,
Muhammad Takbir dan Kamiltussyafiqoh

#maap ya telat banget tapi masih di tunggu traktirannya ampe sekarang,hehehe :p



Menapaki Jejak-Jejak Cinta Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---



Selasa, 24 April 2012

No title.....


Tentang sebuah pemikiran
Pemikiran yang selalu berbeda bagi tiap orangnya
Anngapan yang pun tak selalu sama tiap individu manusia
Entah negatif atau pun bahkan positif...
Dan aku tak habis pikir
Pemikiran yang susah dibangun
Perlu perjuangan yang lumayan berat
Dan mungkin baru setengahnya jadi
Tapi kini malah dibiarkan bak anak ayam kehilangan induknya...
Ah,,,,
Apakah aku bisa???
Aku memang tak sepenuhnya sendiri dalam membangun pemikiran itu
Tapi jika jadi minoritas
Sanggupkah kami tak tergoyahkan???
Aku sendiri takut
Takut bila pemikiran ini ikut tergoyah
Retak dan akhirnya runtuh tak berbekas
Berubah menjadi yang sebenarnya tak aku inginkan
Aku takut...
Dan itu membuatku terpikir untuk MUNDUR
Aku ingin MUNDUR...
Entahlah...

#mengingat masa bersama mereka saat membangun idealisme dan pemikiran bersama untuk menjadi lebih baik... rasanya tanpa mereka, aku tak bisa...

Senin, 26 Desember 2011

Ini Tentang Kalian...^^


Ini tentang kalian yang baru saja kukenal, tapi hati ini telah benar-benar terpaut dengan hati-hati kalian. Aku bertemu dengan kalian pada suatu moment yang takkan mungkin pernah terlupakan, hingga moment itu berakhirpun, kalian masih senantiasa menghiasi hatiku. Dan aku yakin hingga bertahun-tahun kedepan kalian akan selalu ada dalam ingatanku.
Ini tentang kalian yang selalu menjadi inspirasi. Yang selalu menjadikan diri sebagai teladan dan berharap orang lain lebih baik dari diri kalian. Yang harus terlihat berwajah masam meskipun sebenarnya tak menutupi wajah ceria kalian. Yang seolah berhati batu walau ternyata hati kalian selembut sutera. Kalian yang siap dibenci demi menegakkan sebuah cita-cita yang benama keteraturan dan kedisiplinan.
Ini tentang kedisiplinan kalian yang aku salutkan. Selalu belajar untuk bisa selalu memperbaiki diri. Terus membenahi kedisiplinan diri yang kian terpancar dari ketegasan kalian.
Ini tentang kebijaksanaan yang terpancar dari rona wajah kalian. Yang bisa menempatkan diri di saat dan di waktu yang tepat. Yang tetap bisa mengendalikan emosi saat marah melanda.
Ini tentang ketulusan hati kalian yang tak pernah aku ragukan. Selalu memberi ketika diminta. Selalu menolong ketika orang lain membutuhkan. Kalian yang selalu memberikan kerja terbaik untuk menuntaskan amanah tanpa keluh kesah walaupun lelah sudah menggelayuti raga.
Ini tentang semangat kalian yang tak pernah padam. Bahkan kian membara setiap harinya. Membakar semangat orang-orang yang sedang redup. Menjadi pelopor semangat orang-orang di sekitar kalian.
Ini tentang komitmen kalian yang sangat tak diragukan. Keihlasan, keprofesionalan, kerja keras, dan pengorbanan yang yang telah kalian berikan menjadi bukti nyata komitmen teguh kalian.
Ini tentang senyum kalian yang tulus. Selalu menghiasi wajah-wajah indah kalian. Tak pernah sedikitpun kulihat keterpaksaan dari senyuman kalian. Dan ku yakin senyum itu selalu datang dari hati kalian yang paling dalam.
Ini tentang canda tawa kalian yang selalu menghiasi hari-hariku dan hari-hari kita semua. Tentang keautisan yang tak pernah absen dalam setiap kebersamaan kita. Yang selalu membuatku selalu tersenyum karnanya.
Ini tentang kalian yang tiba-tiba aku rindukan.... :’)
Aku merindukan kebersamaan kita dulu yang hanya berbilang minggu. Aku rindu akan senyum dan tawa kalian yang begitu menghibur kegundahan hatiku. Aku rindu canda kalian yang kian mengisi kekosongan hatiku. Aku rindu kalian walaupun aku tak tau apa lagi yang aku rindukan dari kalian.  Aku rindu kalian hingga tak terkatakan seberapa besar rinduku pada kalian. Aku rindu......
Ini memang hanya tentang kalian yang selalu kurindukan...






17 Desember 2011
Jejak Cinta di Tapak Batas Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---

Selasa, 16 Agustus 2011

Hanya Kata Maaf yang Bisa Aku Ucapkan...


Ketika di awal aku melihat pengumuman itu, aku bersegera membuka blognya dan mencetak lembar formulir pendaftarannya. Keinginanku untuk ikut serta berkontribusi dalam kepanitiaan ini sudah tertanam sejak setahun yang lalu, saat itu aku menjadi salah satu peserta dalam kegiatan itu.
Sebuah perasaan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata ketika acara itu berakhir, kesan yang sangat membuatku senang. Merasa bahwa acara yang aku ikuti saat itu merupakan acara yang paling akan aku kenang selama hidup. Acara yang begitu bermanfaat dan begitu membuatku sangat bangga mengikutinya.
Saat aku mengisi formulir pendaftaran kepanitiaan itu, aku kebingungan saat harus memilih divisi mana yang akan aku ikuti, meskipun sebenarnya dari awal aku tertarik pada kepanitiaan ini aku cenderung kepada dua divisi pilihan yang menurutku memang cukup bagus. Dua divisi inilah yang sebenarnya membuatku dulu tertarik ikut kepanitiaan ini, karna dua divisi inilah yang terjun langsung ke lapangan untuk mengatur dan menurutku juga jadi penentu berhasil atau tidaknya acara ini. Itu pendapatku dulu, berbeda dengan sekarang, meski ada dua divisi itu tapi tak ada divisi yang lain, acara ini takkan pernah bisa ada.
Dalam formulir itu ada dua pilihan yang harus aku tuliskan, pastinya kedua pilihan itu adalah dua divisi yang aku inginkan dulu. Hanya saja saat itu aku bingung divisi manakah yang harus aku jadikan pilihan pertama sebagai prioritas. Tapi pada akhirnya aku memilih salah satu divisi yang menurut banyak teman-temanku cocok untuk aku ikuti. Menurutku pun, mungkin ini cocok, dan lewat divisi inilah aku ingin belajar.
Kepanitiaan itu adalah kepanitiaan terbesar yang ada di IPB. Yah, kepanitiaan itu adalah kepanitiaan untuk Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru Angkatan 48 (MPKMB 48) IPB. Dan untuk kepanitiaan itu aku memilih masuk menjadi divisi Komisi Disipilin (Komdis). Mungkin divisi itu adalah divisi yang akan banyak tidak disukai oleh para mahasiswa baru IPB nantinya, tapi ada dorongan kuat untuk aku lebih memilih divisi Komdis ini daripada divisi Penanggung jawab kelompok (PJK). Di formulir itu ditanyakan apa alasanku mengikuti kepanitiaan ini dan memilih divisi yang aku jadikan pilihan pertama. Di situ aku tuliskan bahwa aku ingin menjadikan angkatan 48 menjadi angkatan yang lebih baik dari pada angkatanku dan kenapa aku memilih divisi komdis karena aku merasa aku pantas. Selain itu alasanku juga karena ingin belajar, bukan hanya belajar untuk mendisiplinkan adi-adik angkatan 48, tetapi juga belajar untuk lebih mendisiplinkan diri-sendiri.
Keinginan itu terwujud saat aku melihat pengumuman di mading asrama tanggal 18 Mei 2011, aku menjadi salah satu anggota dari divisi Komdis. Senang? Amat sangat. Saat itu aku merasa pintu perubahan untukku sedikit terbuka, akan banyak sekali pembelajaran yang akan aku dapatkan setelah ini, aku yakin itu. Di luar hal itu, banyak teman-temanku yang bertanya, “Yul, jadi panitia MPKMB ya? Jadi apa?”. Aku hanya tersenyum sambil menjawab, “Coba tebak!”. Setiap dari mereka pasti menjawab, “Pasti jadi Komdis!”. Yah jawaban mereka tepat. Aku lalu berfikir, apakah sedemikian terlihat bahwa mukaku adalah muka-muka seorang komdis? Aku hanya tertawa sendiri dalam hati.
Lalu, hari-hari sebagai panitia MPKMB pun dimulai. Malam itu 20 Mei 2011, saat RG pertama panitia MPKMB, para anggota komdis dikumpulkan di node ARL, dan di saat itulah kebersamaan kami dimulai. Tak hanya itu, tetapi juga berbagai kesibukan, latihan, serta mulai tercipta rasa kekompakan serta persaudaraan yang amat sangat kuat. Latihan rutin setiap hari senin dan kamis sore kami jalani. Dalam keadaan berpuasa sunnah kami lari keliling lapangan belakang gymnasium sebanyak dua kali putaran, push-up, sit-up, lalu sharing, dan setelah kumandang adzan terdengar kami berbuka puasa bersama walau hanya dengan air dan gorengan, saling berbagi dengan yang lupa tidak membawa bekal berbuka, rasanya sungguh lebih nikmat dari makan makanan selezat apapun.
Sebelum latihan rutin itu dimulai, pertama kali kami melakukan rapat divisi, saat itu di belakang gymnasium pukul 05.30 wib. Kami kembali mengenal lebih dekat setelah pertemuan pertama. Qiyamuddin Rabbani sebagai kepala divisi, Nur Hepsanti Hasanah atau Happy sebagai sekretaris divisi, serta anggota divisi komdis lainnya. Kabar terbaru saat itu adalah, nama divisi komdis akan dirubah menjadi divisi KPK atau Komisi Penegak Kedisiplinan. Entah dengan alasan apa nama divisi itu dirubah tak menjadi masalah bagi kami. Malah kami senang, karena dengan perubahan nama ini kami berharap sistem yang dikerjakan oleh kami nantinya sebagai penegak kedisiplinan bisa berjalan dengan baik, lebih baik dari dulu, dan tentu saja berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karna kamilah agen pembaharu. Saat itu, terciptalah jargon kebanggan kami, yang saat kami teriakkan jargon itu, membuat kami sendiri merinding mendengarnya. Dengan harapan semoga jargon ini benar-benar tertanam dalam diri kami.
KOMDIS! SIGAP, TEGAS, KUAT!
KPK! SIAP!
Saat radiv kedua, terpilihlah lima kapten yang akan menjadi pemimpin di setiap garda. Nugraha Ramadhan, Abdul Basith Hermanianto yang akhirnya digantikan oleh Muhammad Takbir, Teuku Muhammad Al-Kautsar, Nurrahman, dan Achmad Alkadri. Saat itu pula ada pemilihan bendahara divisi dan aku menjadi sebagai yang terpilih. Yah, aku menjadi bendahara divisi KPK yang membuatku mulai dipusingkan dengan urusan keuangan KPK. Sejak saat itu pula, aku sering ikut rapat dangan kadiv, sekdiv, serta para kapten untuk membahas masalah latihan rutin divisi KPK, tentang SOP panitia dan peserta, juga tentang alur mobilisasi peserta saat hari H nanti. Hal itu membuatku sering menginap di rumah Hepi untuk dimintai bantuan mengerjakan tugas divisi, tapi yang ada aku malah lebih banyak mengacaukan kayaknya. :p
Dan di latihan-latihan serta pertemuan-pertemuan divisi yang rutin dilakukan oleh KPK, aku mendapat julukan baru yang dilontarkan oleh Bani. “Yak teman-teman, sebelum kegiatan kali ini berakhir, mungkin ada yang ingin disampaikan oleh Yuli, yang mungkin akan jadi perusak suasana bagi kalian”, mungkin seperti itu kata-katanya waktu itu (aku agak lupa) dengan wajah yang sambil cengar-cengir. Intinya dia bilang bahwa aku adalah perusak suasana kesenangan anak-anak KPK. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, jadi hanya aku tanggapi dengan muka ngambek yang dibuat-buat, meskipun jujur aku merasa tak nyaman dengan kata-kata Bani itu. Mungkin Bani benar, karena setiap kali aku ingin menyampaikan sesuatu, itu pasti berhubungan dengan keuangan seperti saat aku menagih uang roselt dan uang kaos. Aku bak jadi rentenir pagi-pagi bagi anak-anak KPK dan merusak kesenangan mereka. Tak masalah bagiku, yang penting tak ada masalah di keuangan KPK.
Kegiatan demi kegiatan dilakukan untuk melatih kemampuan kami, baik fisik, baris-berbaris, cara memberikan instruksi, serta public speaking yang baik. Kegiatan rutin yang kami jalani telah benar-benar mempererat tali persaudaraan kami. Tak ada lagi rentang penghalang antar sesama anggota KPK, semuanya sudah seperti saudara sendiri. Dan akupun terlanjur tenggelam dalam setiap suasana bersama mereka. Terbersit dihati bagaimana ketika kepanitiaan berakhir, akankah persaudaraan ini juga akan berakhir? Semoga tidak.
Saat sosialisasi MPKMB 1, aku bertugas memobilisasi peserta dari asrama A5 dan C4 Sylva. Pagi itu aku mulai bertugas sebagai seorang KPK, rasanya gak karuan. Aku takut melakukan kesalahan ketika melakukan tugas. Tapi semuanya berjalan dengan lancar, berkat bantuan dari semua teman-teman KPK. Tak sedikit dari kami yang melakukan kesalahan, tapi tak sedikit pula dari kami yang memberikan kinerja terbaik kami seharian itu. Meskipun kaki rasanya sangat ngilu, sampai anak-anak KPK minta kaki cadangan untuk sosialisasi esok hari :p, kami sungguh merasa senang bisa melaksanakan tugas kami sebagai KPK dengan baik serta tak mendapat citra buruk dari para peserta. Sosialisasi MPKMB 2 dan 3 telah kami lakukan, juga dengan memberikan kinerja terbaik kami. Rasa lelah kami terbayar dengan banyaknya peserta yang sangat mengapresiasi kegiatan ini, serta sedikit peserta yang melakukan kesalahan.
Menjelang puncak acara MPKMB, banyak sekali perubahan yang terjadi. Seperti perubahan tempat acara dan teknis acara. Hal itu membuat semua panitia kelimpungan. Tim PDD harus membuat dekorasi ruangan ulang. Acara harus merevisi juklak dan juknis. KPK lagi-lagi harus mengubah alur mobilisasi peserta, baik untuk mobilisasi berangkat dan pergi, serta mobilisasi untuk games outdoor. Terlihat semburat kelelahan dari wajah setiap panitia, tapi semangat dan keikhlasan mereka terpancar jelas mengalahkan rasa lelah itu. Begitu juga semangat kami dari KPK, akan selalu membara untuk memberikan yang terbaik bagi adik-adik kami angkatan 48.
11 Agustus 2011
Upacara Pembukaan MPKMB 48
Lapangan Gymnasium IPB
Upacara pembukaan MPKMB angkatan 48 dimulai jam 08.00 wib. Di buka langsung oleh Rektor IPB Dr. Ir.Herry Suhardianto M.Sc. Acara dilanjutkan di Graha Widya Wisuda IPB, dimulai dengan kata-kata sambutan dan sedikit pidato dari Pak Rektor, pengenalan UKM dan acara yang lainnya. Di akhir ada evalusi yang dilakukan oleh KPK, terasa menggantung dan tidak ada gregetnya memang, tapi semoga untuk selanjutnya lebih baik, yang penting kami benar-benar memberikan esensi yang baik dan benar.
12 Agustus 2011
MPKMB hari ke-II
Graha Widya Wisuda
Menghadirkan mantan menteri serta Menteri Pertanian Indonesia. Begitu banyak ilmu yang ingin kami berikan kepada adik-adik 48. Tapi ternyata begitu banyak dari mereka yang tak menghargai kerja keras kami. Mereka banyak yang tertidur saat Pak Menteri menyampaikan materi, tak ada sedikitpun penghargaan dari mereka kepada pembicara. Tak hanya itu, kami pun mendapat kabar dari berbagai pihak bahwa mereka banyak yang menjelek-jelekkan kami serta menghina kami sebagai KPK. Mereka menganggap kami sebagai tukang parkir dan lainnya yang terkesan menghina kami. Tapi kami tau, ini memang sudah menjadi resiko kami sebagai KPK. Untuk evaluasi kami merencanakan sebuah skenario untuk melepas ban PJLT karena mereka gagal mendidik etika adik-adiknya. Yah, skenario itu memang disusun secara dadakan sebelum evaluasi, tapi itu bukanlah akting kami. Itu benar-benar terjadi, bukan hanya PJLT yang merasa kecewa kepada peserta, kamipun sebenarnya merasa kecewa karna ternyata kami pun gagal mendidik mereka, karena etika mereka masih buruk.
Saat sore hari, acara buka puasa bersama laskar. Karna ban PJLT dilepas yang artinya PJLT dibebastugaskan, maka kamilah sebagai KPK yang memulai acara. Di laskarku, laskar 17, PJLT mengadukan bahwa adik-adik banyak yang meminta maaf atas kelakuan mereka, tetapi ada satu orang yang membuat salah seorang PJLT merasa kesal sekaligus sedih. Satu anak itu benar-benar tak menggunakan etika saat mengirimkan sms, menuduh PJLT yang macam-macam. Di sore itulah aku dan Iman, rekan KPK laskar 17, memberikan berbagai ceramah dan menyampaikan berbagai esensi dari apa yang kami lakukan, serta sedikit mendidik mereka tentang etika sebagai seorang mahasiswa. Kami hanya berharap apa yang kami sampaikan benar-benar bisa mereka renungkan dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka. Pada akhirnya kami mengembalikan tugas teman PJLT sebagai pengayom adik-adik kami.
MPKMB hari ke-III
13 Agustus 2011
Graha Widya Wisuda
Dari pagi hari hingga sore, para peserta mengikuti kegiatan MPKMB. Dimulai dari pengenalan UKM, AMT, pembacaan ikrar pertanian, evaluasi, games outdoor, B-Spirit, dan diakhiri dengan penutupan yang spektakuler. Yah, penutupan MPKMB kali ini benar-benar spektakuler. Lagi-lagi kami membuat skenario untuk evaluasi hari terakhir, tapi sekali lagi, ini bukanlah akting. Kami benar-benar merasa kecewa atas banyak kejadian tak beretika yang adik-adik 48 lakukan. Kami benar-benar meluapkan emosi kami, tapi kami masih ada dalam koridor yang seharusnya, kami tidak bertindak karena rasa benci kami, kami bertindak atas rasa sayang kami, agar adik-adik kami menjadi generasi bangsa yang dapat di banggakan.
Kami memang pergi dari area lapangan gymnasium dengan membawa rasa kesal dan kecewa kami, tapi kami masih ingin memberikan persembahan terbaik kami pada adik-adik kami. Menunggu saat Diki menyampaikan beberapa pesan untuk 48 hingga akhirnya ketika mereka diperintahkan untuk berbalik badan dan menutup mata. Kami tak menghiraukan tas kami yang langsung kami lempar, entah seperti apa posisinya. Berlari menuju barisan terdepan panitia, di belakang para peserta menunggu alunan musik theme song MPKMB 48. Saat musik terdengar, akhirnya senyum keceriaan bisa kami tampilkan kepada adik-adik kami. Mereka melihat kami, KPK dan seluruh panitia berbaris di depan mereka dengan senyuman, serta mempersembahkan gerakan theme song MPKMB dengan kocaknya. Begitu bahagia saat melihat tawa adik-adik, lambaian ombak caping dan loncatan-loncatan kegembiraan mereka, begitu terharunya kami melihat adik-adik mengucapkan maaf dan terimakasih atas semua yang telah kami lakukan. Rasa lelah ini serasa sirna begitu saja dengan apresiasi mereka yang begitu besar menghargai kami.
Terima kasih adik-adikku Sahabat Tani 48, jadilah generasi terbaik IPB, jadilah pemimpin-pemimpin bangsa yang akan memajukan pertanian Indonesia serta bangsa Indonesia. T.T
13 Agustus 2011
Sekitar pukul 20.00
Pelataran Graha Widya Wisuda
Kami Divisi Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) MPKMB 48 berkumpul membentuk sebuah lingkaran setelah sebelumnya kami berfoto-foto menampilkan keceriaan bahkan keautisan kami. Haru mendera saat beberapa anak KPK menyampaikan kesan-kesan selama berada dalam kepanitiaan ini, bersama seluruh keluarga KPK. Rasanya kepanitiaan ini, keluarga ini, baru kemarin terbentuk, baru kemarin kami saling mengenal, hingga sekarang telah selesai tugas kami. Hepi menyampaikan berbagai kesannya sambil menangis bahagia karna misi kami sukses, serta sedih karena kebersamaan kita ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Serta penutup dari Pak Komandan Bani yang meyakinkan kami bahwa kebersamaan ini takkan pernah hilang, karna kami akan tetap menjadi saudara. Yah, Ia benar, karna aku pun yakin persaudaraan ini akan tertanam jauh dalam lubuk hati.
Kawan, malam itu aku terdiam, tak tahu harus menyampaikan apa pada kalian semua. Menangis haru pun aku tak bisa. Begitu sangat ingin aku mengucapkan banyak terima kasih serta minta maaf, tapi lidahku seolah kelu, lisanku tak dapat berkata apa-apa. Aku benar-benar campur aduk, antara rasa bahagia, haru, dan sedih.
Terbayang lagi saat-saat bersama kalian tiga bulan terakhir ini. Aku seolah diseret dalam kenangan-kenangan indah beberapa waktu yang lalu. Saat latihan rutin, lari bareng, push-up dan sit-up bareng, buka puasa bersama, rapat serta makan bersama BPH KPK, foto-foto narsis n autis KPK, upgrading, ketawa-ketiwi bereng, latihan gerakan theme song dan bercerita ala Opera Van Java yang baru kemarin kita lakukan. Semua kenangan-kenangan itu takkan pernah terlupa. Seperti persaudaraan kita yang takkan pernah lekang di telan zaman, amin.
Terima kasih kawan atas persaudaraan ini, atas banyak pembelajaran yang kalian berikan. Maaf telah menjadi perusak suasana bagi kalian, menjadi seorang yang terkadang tak bisa mengerti kalian, menjadi seorang yang maunya sendiri, menjadi orang yang ceplas-ceplos, terkadang bicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu, menjadi orang yang selalu menegur dan sok mengatur, padahal dirinya sendiri melakukan banyak kesalahan. Sekali lagi hanya kata maaf yang bisa aku berikan kepada kalian, seluruh anggota KPK MPKMB 48, atas kesalahan-kesalahanku. Khususnya kepada teman-teman Garda 3. Maaf ya Iman, seringkali aku mendominasi di laskar. Maaf ya Kautsar, sering kali aku menegur kamu karena suara dan ketegasanmu yang kurang, padahal kalau saja aku ada di posisi kamu, aku juga belum tentu bisa melakukan apa yang aku katakan itu. Aku minta maaf ya kawan atas semua kelalaian dan kesalahanku.
Tak terlupa, terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Happy atas sikapku yang terkadang childish, suka mengeluh, dan tak sabaran. Juga pada Bani yang mungkin sering kesal pada sikap dan tingkah laku ku selama menjadi bendahara atau BPH KPK. Terima kasih dan permintaan maaf yang tak terkira untuk KPK, Kelurga Paling Kompak.
Mungkin memang hanya kata maaf itu yang bisa aku ucapkan...
16 Agustus 2011
H+3 MPKMB 48
Rasanya aku ingin sekali pagi tadi pergi ke GWW sebelum pukul 05.15 wib. Tapi MPKMB 48 telah usai, meskipun euforianya masih kental dalam hati. Ingin rasanya mendengar teriakan Sahabat Tani 48. Ingin pula melihat anak-anak KPK yang autis serta mendengar teriakan jargon kami yang lantang. Tapi sekali lagi, MPKMB 48 telah usai. Meskipun semangatnya masih membara di hati kami, KPK dan segenap panitia.
Note untuk KPK...
Qiyamuddin Rabbani : Komandan kita di KPK. Jujur ya, sering sebel kalo udah ngeliat Bani yang diam dengan muka yang agak ditekuk. Bikin kita jadi was-was. Maaf ya kalau aku salah (perasaan salahnya banyak banget deh ke Pak Komandan Bani nih :p), coz aku dah maapin kesalahan Bani selama ini. *loh? xD kabur...
Nur Hepsanti Hasanah : Bu Sekdiv, aku bakal jarang nih nginep di Rumah Sejahtera lagi. Jangan kangen aku ya say, ntar aku bakal sering-sering berkunjung ke RS buat nonton film lagi, hhe... :p Oiya, maaf ya kalo aku dimintain bantuan, bukannya ngebantuin, aku kadang malah mengacaukannya. *Kapan nih kita minta maaf ke satu orang itu?* ;D
Muhammad Takbir : Kapten Garda 2 n partner mobilisasi sylva. Maaf ya sering negur dan sok tahu. Makasih juga udah mau ngedengerin curcolanku yang gaje. Selain Hepi, kamu yang tau kekoplakanku di KPK, hhaha :D
Teuku Muhammad Al-Kautsar : Kapten Garda 3 yang selalu tenang. Maaf ya sering banget negur gara-gara suara n sikap ketegasan, dan juga suka jadi anak buah yang sok ngatur, semoga kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semangat....
Achmad Alkadri : Kapten Garda 5 yang garang tapi ternyata paling autis,hhe *peace Dri* Salut deh buat Kadri yang bisa memposisikan diri dengan baik selama di KPK, serta bisa menjadi seorang yang bijaksana yang bisa dijadikan contoh. Oia, pesan dariku jangan suka bikin gosip n jangan suka ngegodain orang lagi ya,,, -jleb-
Siska Cynthia : Partner garda 3 yang bertugas di laskar sebelah, laskar 18. Makasih banget ya sudah bantuin aku dulu menangani masalah keuangan KPK. Aku banyak belajar dari sikap dan ketegasan Siska, semoga kita bisa menjadi partner yang lebih baik. J
Iman Rizky Nurzaman : Partnerku di laskar 17. Maaf ya Iman, aku sering banget mendominasi di laskar. Terima kasih juga sudah bisa jadi partner yang baik dan saling membantu kekurangan satu sama lain. Semoga apa yang kita berikan kepada adik-adik laskar 17 tidak sia-sia dan benar-benar bisa mereka renungkan serta terapkan dalam kehidupan mereka... J
Hassyati Sabrina : Arin sayang, makasih ya atas begitu banyak pelajaran yang kamu berikan. Teruslah berkarya dengan sebaik-baik karya, aku yakin Arin bisa jadi penulis hebat nantinya. Makasih buat traktirannya, kapan neh yang kedua? Masih ditunggu loh, :p
Faizal Teguh Muhammad : Maaf ya Faizal kalo aku sering menegur dan sok ngatur penampilan, sebenarnya hanya menginginkan agar kita semua sesuai dengan SOP yang kita buat. Salut deh buat Faizal yang bisa tegas dan bijak dalam menghadapi semua teman-teman KPK serta seluruh peserta. Cie... yang banyak fans :D
Suwarti : Terima kasih ya Suwar atas pelajaran yang kamu berikan, kesabaran dan ketegasanmu menjadi pelajaran berharga buatku. Selalu semangat ya...
Dan untuk segenap KPK putra maupun putri. Terima kasih banyak atas semua yang telah kalian berikan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian dan kesalahanku pada kalian semua. Semoga persaudaraan kita akan terus terjalin, tak lekang di telan zaman. Buat seluruh KPK putra, jangan terlena karna banyak fans, luruskan niat, jangan mudah berbelok, konsistenlah terhadap tujuan awal kalian. Untuk KPK putri, meskipun kita gak banyak fans, semoga perjuangan kita selama menjadi KPK tidak sia-sia.
Oia, jangan panggil aku budhe lagi, hiks T.T
Perjuangan kita di MPKMB mungkin sudah selesai, tapi MPF dan MPD masih menunggu kita tahun depan. Mari tetap semangat berjuang, karna kita tak hanya dituntut disipin saat MPKMB dan MPF atau MPD, tapi kita juga dituntut bisa disiplin serta bijak dalam setiap inci kehidupan kita. Ayo kita belajar dan berjuang bersama, yakinlah kita pasti bisa.... J
Semangat...
KOMDIS! SIGAP! TEGAS! KUAT!
KPK! SIAP