Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Tentang Maaf dan Memaafkan


Kau pernah melakukan suatu kesalahan kepada seseorang? Atau kau pernah merasa sakit hati karna kesalahan orang lain padamu? Atau mungkin kau pernah merasakan keduanya? Aku pernah merasakan keduanya. Membuat kesalahan yang membuat orang lain kecewa bahkan sakit hati. Juga pernah merasakan sakit hati hanya karena kesalahan seorang teman yang tidak disengaja. Kau juga pasti pernah merasakannya bukan? Setidaknya aku yakin kau pernah merasakan salah satunya.

Kau mungkin bingung kenapa aku tiba-tiba bertanya seperti itu, tiba-tiba menyangkamu mengalami hal tersebut. Sebenarnya bukan apa-apa, hanya sedang terpikir tentang sebuah kesalahan, tentang rasa kecewa, tentang sakit hati, yah, tentang MAAF dan MEMAAFKAN...

Saat kau melakukan suatu kesalahan dan sadar bahwa kau salah, pastilah kau akan meminta maaf kepada siapapun yang mungkin akan merasa sakit hati dan kecewa akan kesalahanmu. Sebaliknya, jika kau merasa kecewa dan tersakiti oleh perilaku dan kesalahan orang lain padamu, pastinya kau juga mengharap permintaan maaf darinya bukan?

Tentang maaf dan memaafkan mungkin mudah saja kita lakukan, tepatnya mudah saja kita ucapkan.
“Aku minta maaf ya teman, kemarin aku tidak sengaja melakukannya.” Katamu sambil tersenyum.

“Iya, gak papa kok, udah aku maafin. Lain kali jangan begitu ya!” Jawabku, tentu saja dengan senyum yang lebih sumringah.

Tetapi yang terjadi juga mungkin sebaliknya. Jika aku yang melakukan kesalahan padamu, aku minta maaf dan kau memaafkan. Selesai. Mudah bukan? Terlalu mudah kurasa. Sehingga ada satu hal yang terlupa. Kau tahu apa? Yang terlupa itu adalah IKHLAS.

Aku takkan akan pernah tau apakah kau ikhlas dalam meminta maaf ataupun saat memaafkan, sebaliknya kau pun takkan pernah tau isi hatiku, yang tau hanya Allah dan tentu saja diri kita sendiri. Yang terberat dari meminta maaf ataupun memaafkan itu adalah rasa ikhlas. Tak berguna kita meminta maaf atau memaafkan jika ternyata di hati kita masih tersimpan sepercik bahkan setitik rasa tidak ikhlas dan tidak suka. Lisan kita mungkin saja bisa dengan manis mengucapkannya, tapi bagaimana dengan hati kita?

Kau tentu saja tak mau hati kita terkotori dengan setitik rasa tidak ikhlas itu bukan? Maka janganlah terlalu mudah mengucapkan maaf jika hatimu masih belum bisa memafkan. Bicarakan. Biarkan ia bersih agar tak ada setitik noda yang mengotori rasa maaf itu.

Percuma jika kau bisa bermuka manis hanya di depan, tapi di belakangnya kau hatimu mendongko. Percuma saja kau tersenyum, jika ternyata senyum itu senyum yang di buat-buat. Percuma saja kau meminta maaf atau memaafkan, jika ternyata maaf itu hanya di lisan saja, bukan di hatimu...(ya)

Menjejak Cinta di Batas Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---                  

Sabtu, 11 Februari 2012

N.E.K.A.T


Nekat
Satu kata yang telah membuatku berani.
Berani melakukan apa yang tidak berani mereka lakukan.
Berani untuk berkarya dan berkreatifitas seluas-luasnya.
Juga berani menjadi apa yang aku mau.
Nekat
Satu kata yang membuatku percaya.
Percaya bahwa kehidupan berpihak padaku.
Percaya pada kekuatan dan kelemahan diri.
Juga percaya akan kuasa-Nya yang tak terbatas.
Nekat
Satu kata yang membuatku dipercaya.
Dipercaya bahwa aku bisa.
Dipercaya bahwa aku sanggup melakukannya.
Juga dipercaya untuk mengemban apa yang disebut amanah.
Nekat
Satu kata yang slalu membuatku tersenyum.
Tersenyum karna berada ditengah orang-orang hebat.
Tersenyum bersama perjuangan yang tak pernah henti.
Dan tersenyum bangga saat kesuksesan telah sama-sama kita genggam.

Aku tau di balik rasa NEKAT itu, Dia ada di belakangku.
Tak pernah sedetikpun meninggalkan kesendirianku.
Karna-Nya, rasa nekat itu menempel lekat di hatiku.
Untuk membuatku bisa tegar dalam menjalani kehidupan.
Untuk membuatku kuat meniti alur kisahku yang penuh kerumitan.
Atas izin-Nya aku berdiri disini untuk menghadapi  apa yang disebut kenyataan.
Kenyataan yang manis atau bahkan yang sangat pahit.
Semuanya, seluruhnya, seantero hidup, sepanjang waktu, dan seluas jagad.
Karna Mu, ya Rabb...
Sungguh itu karna Mu...

Catatan Singkat Hatiku^^

Semburat Jejak Cinta
di Batas Cakrawala Biru

Sabtu, 20 November 2010

Kepada Hatiku


Assalamu’alaikum Wr Wb.
Kepada Hatiku…………

Hatiku…… Apa kabarmu? Lama rasanya kita tak saling bicara.
Kembali, menengok ke belakang.
Ketika kembali membuka ruang-ruang memori…..
Mencoba mengenang sejarah masa silam…
Membuka lembaran hidup masa lalu.
Indah… berwarna-warni, gradasi yang begitu nyata: merah, biru, kuning,hijau.
Lembaran itu begitu bercorak, semarak…. Sesemarak kisah yang tertulis di dalamnya.
Kisah perjalanan hidup antara aku dan kau.

Hatiku…………..
Kesemarakan itu telah kutinggalkan kini.
Jauh….. Begitu jauh sehingga terkadang aku enggan untuk menengoknya,,,
hatta untuk mengenangnya….
Tapi….. Kesadaran ku mengingatkan aku bahwa jalan yang kutempuh itu adalah jalan yang mengantarkan ku pada lembaran kisah hidup ku.
Bahwa sesuatu yang ku ukir di masa lalu telah membawa ku ke dalam dunia ku kini.

Ku coba mengingat…… Telah berapa lama aku meninggalkan dunia yang penuh warna itu dan memasuki dunia baru ini.
Dunia yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “dunia putih”.
Sudah berapa banyak cerita yang ku ukir di lembaran –lembaran ini.
Cerita dengan warna yang berbeda, sejak aku memilih untuk melepaskan kesemarakan itu yang oleh teman-temanku disebut “hijrah”.

Cukup…… Cukup lama, sehingga aku banyak menorehkan cerita di lembaran ini.
Jalinan kisah indah yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “untuk meraih mardhotillah”.
Berbeda dengan kisah indah kita dulu yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “kisah jahilliyah”.

Kini…. Hatiku….
Aku telah mempunyai lembaran-lembaran baru ini, aku telah banyak belajar dari dunia ku kini.
Ya…. Banyak belajar untuk mengetahui bahwa “kesemarakan warna” itu adalah fatamorgana dan “keindahan” dulu itu adalah semu.
Ya…. Aku banyak belajar bagaimana menjadi “manusia sejati” dan bagaimana menjadi “seseorang yang berarti”. Yang kita dulu menyebutnya “jati diri”. Sesuatu yang dahulu kita cari-cari.
Dari teman-teman ku, aku banyak belajar bagaimana “mencintai sesama”, bagaimana indahnya “berukhuwah”. Yang kita dulu menyebutnya “persahabatan”. Sesuatu yang dulu kita damba dan agungkan.
Sungguh……… aku banyak belajar tentang banyak hal disini.

Tapi… Hatiku…
Mengapa aku masih merasakan kehampaan???? Kekeringan dan kekosongan jiwa????

Sungguh……. “Jati diri’ yang ku temukan itu ternyata hanya pakaian luar belaka.
Sungguh……. “Persahabatan” yang telah ku rengkuh itu ternyata tak membuat ku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tak lebih baik dari kebersamaan kita dulu.

Lalu...... Apa yang salah…………..???
Lembaran-lembaran inikah……..???
Atau dunia yang kupilih…???

Berlari…….. coba ku bertanya pada bintang dan bulan. Bertanya pada teriknya mentari. Bertanya pada alam. Ku coba ‘tuk mencari jawaban dari misteri ini.

Akhirnya……. Aku temukan jawaban itu.
Ternyata kehampaan itu terjadi karena aku meninggalkanmu di lembaran hidup ku dahulu.
Kekeringan itu terjadi karena kau tak menyertaiku hijrah ke dunia baruku.
Kekosongan itu terjadi karena bagian terpenting dari diriku yaitu kau masih mencintai kesemarakan itu.

Kini ku buka kembali lembaran masa lalu.
Bukan,,,,, bukan untuk kembali ke dunia kita yang dulu! Sungguh bukan itu tujuan ku!
Kini…. Aku mengunjungimu…
Aku ingin membawamu serta. Membawamu ke dunia ku yang baru.
Agar kita bisa merajut kisah-kisah indah baru yang nyata, tidak semu.
Agar kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya.
Agar kita bisa mengecap manisnya bersaudara bersama.
Aku ingin kelak kau menjadi saksi dari perjalanan hidup ku.
Dan kau bersaksi dengan penuh senyuman dan kebanggaan.
Aku ingin bersama dirimu membuka tabir itu dan dipertemukan dengan Allah.
Dan kau tahu…….???
Tiada kenikmatan yang bias menandingi daripada nikmat dipertemukan dengan Sang Pencipta semesta alam, Pemilik jagad raya.

Hatiku……
Jangan pernah kau tolak ajakanku.
Karena aku khawatir jika tanpamu maka aku akan menjadi seseorang yan oleh teman-teman ku disebut “munafik”.
Sedangkan kau tahu amatlah besar kebencian Allah kepada orang munafik.
Dan….. aku takut jika tanpamu aku tidak bisa mengisi lembaran-lembaran hidup ku ini dengan keikhlasan.
Dan kau tahu…. Bahwa amatlah sia-sia amalan yang dilakukan tanpa keikhlasan…

Hatiku……
Tinggalkanlah masa lalu dan mari bersamaku, menuju dunia yang baru.
Biarkanlah masa lalu menjadi sejarah. Dan biarkan sejarah menjadi pelajaran bagi kita untuk menggoreskan kisah baru di lembaran-lembaran yang baru pula….

Wassalamu’alaikum Wr Wb.