Sabtu, 11 Februari 2012

N.E.K.A.T


Nekat
Satu kata yang telah membuatku berani.
Berani melakukan apa yang tidak berani mereka lakukan.
Berani untuk berkarya dan berkreatifitas seluas-luasnya.
Juga berani menjadi apa yang aku mau.
Nekat
Satu kata yang membuatku percaya.
Percaya bahwa kehidupan berpihak padaku.
Percaya pada kekuatan dan kelemahan diri.
Juga percaya akan kuasa-Nya yang tak terbatas.
Nekat
Satu kata yang membuatku dipercaya.
Dipercaya bahwa aku bisa.
Dipercaya bahwa aku sanggup melakukannya.
Juga dipercaya untuk mengemban apa yang disebut amanah.
Nekat
Satu kata yang slalu membuatku tersenyum.
Tersenyum karna berada ditengah orang-orang hebat.
Tersenyum bersama perjuangan yang tak pernah henti.
Dan tersenyum bangga saat kesuksesan telah sama-sama kita genggam.

Aku tau di balik rasa NEKAT itu, Dia ada di belakangku.
Tak pernah sedetikpun meninggalkan kesendirianku.
Karna-Nya, rasa nekat itu menempel lekat di hatiku.
Untuk membuatku bisa tegar dalam menjalani kehidupan.
Untuk membuatku kuat meniti alur kisahku yang penuh kerumitan.
Atas izin-Nya aku berdiri disini untuk menghadapi  apa yang disebut kenyataan.
Kenyataan yang manis atau bahkan yang sangat pahit.
Semuanya, seluruhnya, seantero hidup, sepanjang waktu, dan seluas jagad.
Karna Mu, ya Rabb...
Sungguh itu karna Mu...

Catatan Singkat Hatiku^^

Semburat Jejak Cinta
di Batas Cakrawala Biru

Jumat, 03 Februari 2012

CARI PASANGAN


Mari mari marilah
Dengarlah ini kisah silam,  oh kawan
Sangatlah berguna
Moga hidup aman bahgia

Di malam yang pertama jumpa mertua
Tersentak si jejaka diberitakan
Istrinya tidak sempurna rupa
Anggota dzahirnya lumpuh semua
Tiada upaya mengurus diri

Terkejut si jejaka penuh persoalan dihatinya
Mungkinlah sudah jodoh itulah istrinya
Ibanya rasa hati namun ridho pada takdir
Asalkan punya iman itulah paling penting

Saat-saat berjumpa
Terpesona memandang
Benarkah istrinya menawan sungguh cantik

Cari cari carilah
Pasangan hidup betul-betul, oh kawan
Bahgia berseri
Rumah tangga akan harmoni

Terhurai dijawablah oleh mertua
Dzahirnya tak sempurna kiasan saja
Memberi makna sucinya diri
Wanita shalihah terpelihara
Terharu jejaka tunduk bersyukur

Jangan mudah percaya harta pangkat dan rupa
Indahnya di mata, berawaslah
Rasul sudah bersabda
Insan punya agama
Akhlaknya mulia, pahamilah

STOP...
Jangan dulu berpikiran yang aneh tentang judul di catatan ini. Bukan karena judulnya cari pasangan jadi penulisnya dipikir kebelet buat nyari pasangan dan pengen nikah,hehehe... Itu hanya sekedar judul yang berhubungan dengan masalah yang akan saya angkat kali ini. So, ayo dibaca... :D
Lirik diatas adalah lirik sebuah lagu nasyid yang dinyanyikan oleh seorang grup nasyid melayu. Saat SMA dulu saya sering mendengarkannya karna dirumah ada kaset tape-nya yang seerig saya setel. Tapi semenjak kuliah dan tidak lagi mendengarkan lagu ini, saya jadi terlupa. Lalu Desember kemarin saat saya pulang kampun ke Pamekasan, kembali saya mendengar lagu ini dari tape kesayangan saya. Saya juga menemukannya di laptop milik tante saya. Alhasil saya mengkopinya ke memory HP saya. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin mengangkat kisah yang tersirat dalam lirik lagu ‘Cari Pasangan’ yang dibawakan oleh grup nasyid asal Malaysia tersebut. Ada yang tau apa nama grupnya? Nantilah saya kasih tau.
Nah sesuai dengan judul catatan ini dan juga judul dari lirik lagu ini yaitu “Cari Pasangan”, maka saya akan mengulas suatu kisah. Kisah penuh hikmah tentang seorang pemuda seperti yang diceritakan dalam lirik lagu di atas. Sejauh ini teman-teman bisa tidak nebak kisah di atas kisah siapa? Ayo, sebelum saya ceritakan lebih lanjut teman harus bisa menebaknya. Saya tunggu sampai hitungan ke-3 ya.... :p

Satu.....

Dua.....

Tiga....

Yak, kisah ini adalah kisah seorang pemuda bernama Idris. Saya pernah membaca kisah ini dalam sebuah buku motivasi, hanya saja buku itu kini entah ada dimana. Karna saya agak lupa rincian jalan ceritanya, dari pada saya salah menceritakan sejarah ini, makanya saya cari-cari dulu tentang kisah ini dan ini.  Kisah ini Insya Allah menginspirasi kalian semua.

Idris, pemuda shaleh ini suatu hari akan berangkat mengaji. Namun sebelum sampai ditempat yang ditujunya, ia menemukan sebuah delima yang hanyut disungai yang dilewatinya. Merah dan ranumnya delima membuat ia tergoda untuk merasakan segarnya buah tersebut.  Dengan sigap ia mengambil dan tanpa pikir panjang ia mulai melahap gigitan demi gigitan buah delima yang ia temukan tersebut. Namun tak lama kemudian, Idris baru menyadari akan suatu hal. Dirinya mulai bertanya, “Siapakah pemilik delima yang aku makan ini?” Idris lalu menyadari bahwa ia belum meminta izin kepada pemilik buah delima tersebut berarti delia itu belumlah halal untuk ia makan. Terbersit rasa penyesalan dalam hatinya karna telah khilaf memakan buah delima yang ia temukan tanpa seizin dari pemiliknya. Lama Idris merenung, teringat akan ajaran yang diberikan oleh gurunya, bahwa makanan haram yang masuk ke dalam badan dan pakaian yang haram menutup badan dapat menyebabkan terhambatnya do’a. “Oh Tuhan, ampunilah aku. Bagaimana caraku untuk membersihkan kesalahanku?” Dan penyesalan yang tiada terbilangpun memenuhi hati Idris, sang pemuda beriman.
Setelah merenung bingung beberapa waktu berselang, akhirnya diperoleh cara untuk menyelesaikannya, "Aku harus mencari pemilik delima, untuk meminta keikhlasan atasnya." Akhirnya, Idris menyusuri tepian sungai, berusaha mencari pemilik delima tadi. Delima yang tinggal setengah masih pula di genggam sebagai bukti nanti kalau-kalau sang pemilik meminta delimanya  kembali.
Lama Idris berjalan menyusuri sungai itu, hingga akhirnya ia bertemu dengan sebuah perkebunan yang ditumbuhi pohon delima yang menjorok ke sungai. Setelah mengamati dan mencocokkan dengan delima yang masih ada di pohon,  Idris pun menyangka dari pohon itulah delima yang ia makan berasal. Setelah ia yakin benar, Idris lantas mencari pemilik sang pemilik kebun.
Setelah bertemu dengan pemilik kebun yang seorang lelaki paruh baya, Idris berkata tenang, “Maaf pak, saya kesini untuk meminta keikhlasan bapak atas kekhilafan yang telah saya lakukan.” Kata Idris membuka pembicaraan.
Lelaki paruh baya yang sudah ditumbuhi uban itu mengerutkan wajah, heran. Pemuda asing yang datang ini langsung mengajukan permintaan maaf yang ia tak tau apa kesalahannya.
"Apa gerangan yang membuat anda meminta maaf dan keikhlasan, padahal kita baru saja berjumpa? Saya sangat yakin tak ada kekeliruan diantara kita berdua." Jawab lelaki setengah baya.
"Begini pak,” Dijelaskanlah semua permasalahan yang telah menimpa dirinya dari awal hingga pertemuan mereka. Mendengar penjelasan tersebut, lelaki paruh baya tersebut terkejut, "Subhanallah", bibirnya sontak bergumam memuji Allah.

Nah, saya potong dulu ceritanya. Sampai saat ini apa hikmah yang terbetik dalam benak teman-teman sekalian setelah membaca kisah diatas? Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia seperti Idris yang sangat shaleh dan penuh tanggung jawab. Penyesalan yang tiada terkira serta rasa berdosa karna memakan sebuah delima yang tak sengaja ia temukan hanyut di sungai. Saya tekankan sekali lagi, ia memakan delima yang hanyut di sungai, bukan delima yang ia temukan dibawah pohonnya apalagi masih bergelantungan di pohonnya. Sedangkan kita? Terkadang kita menggunakan fasilitas yang sebenarnya bukan milik kita. Terlebih saya yang terlalu sering melupakan perkara yang sangat sepele tersebut. Kita dan terlebih saya, masih sangat jauh dari hal-hal seperti yang di lakukan oleh Idris, pemuda yang penuh dengan tanggung jawab. Ia benar-benar berusaha untuk tidak mencemari dirinya dengan dosa sekecil apapun. Masalah yang mungkin menurut orang lain sangat sepele, tapi baginya perkara itu sangat membebani hatinya karena dosa yang akan ditanggungnya.
Subhanallah...
Allahu Akbar...
Semoga mulai dari saat ini kita bisa meneladani rasa tanggung jawab beliau. Amin...
Yuk, kita baca lanjutan kisahnya...


Beberapa saat laki-laki paruh baya itu terdiam, ia seolah terhipnotis oleh akhlaq laki-laki asing yang kini berada di depannya. "Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki yang begitu bersemangat menjaga dan mencegah diri dari dosa, padahal bisa saja ia melupakan perkara itu begitu saja. Tapi laki-laki muda ini sangat aneh, dan jarang kutemui." Pak Tua membatin.
Lain halnya dengan Idris, Ia justru dilanda kekhawatiran tiada terkira, jangan-jangan Pak Tua tak mau memaafkannya, "Bagaimana, Pak, bisakah aku dimaafkan dan delima yang aku makan ini diikhlaskan?"
Pak tua lantas memberi jawaban dengan wajah yang dibuat-buat agar menimbulkan keangkeran, "Aku mau menerima maafmu, asal kamu mau menerima persyaratanku."
"Oh saya mau Pak, apapun persyaratan yang bapak ajukan, aku mau melakukan, asal bapak mau mengikhlaskan, " sambut Idris berseri-seri, karena melihat peluang untuk dapat diampuni.
"Begini Nak, "kata Pak Tua mulai menjelaskan serius, "Aku punya seorang anak perempuan tunggal yang tuli, bisu, buta, dan lumpuh."
"Lantas?" tanya si Idris penasaran.
"Aku menghendakimu menjadi menantuku, mengawini putriku. Itulah satu-satunya syarat yang kuajukan agar delima yang telah engkau makan dapat aku ihklaskan," jelas Pak Tua sejelas-jelasnya.
"Innalillah," desis hati si Idris ketika mendengar penjelasan dari pak tua di depannya, "Bagaimana mungkin hanya untuk mendapatkan keikhlasan sebuah delima harus aku tebus dengan mengawini wanita cacat segalanya. Apakah cara ini cukup adil?" Kelihatan sekali kening pemuda Idris berkerut, mempertimbangkan dan memikirkan keputusan yang sangat berat.
Pak Tua memperlihatikan pemuda Idris dengan seksama lantas bertanya malah terkesan setengah memaksa, "Bagaimana Nak?" Memang itu saja persyaratanku."
Idris terdiam, tampak memikirkan dengan begitu mendalam. Sejenak kemudian ia mengangkat wajah, mendesah berat, lantas memberikan jawaban, "Kalau memang hanya cara itu yang bisa membuat Bapak memaafkan kesalahanku maka aku harus menyanggupinya wahai Pak Tua."

Sebenarnya saya pengen berkomentar di penggalan kisah ini, tapi saya benar-benar spechless bacanya, jadi bingung mau berkomentar apa. Yah, silahkan teman-teman meresapi kisah ini dengan sungguh-sungguh, betapa luasnya hati pemuda baik bernama Idris tersebut. Demi mendapatkan sebuah maaf dari kesalahan yang mungkin menurut kita amat sangat sepele, ia rela menerima apapun permintaan yang di ajukan oleh pak tua pemilik kebun. Yah, semua yang ia lakukan hanya untuk satu tujuan yaitu mendapat pengampunan dosa dari Sang Mahapengampun, Allah SWT.

Mendengar jawaban Idris, lelaki paruh baya itu tersenyum bahagia lantas bicara, "Aku ikhlas memberi ampunan, aku harap kaupun ikhlas menerima persyaratan."
"Aku ikhlas," tukas Idris lugas, sambil menyodorkan sebuah jabat tangan.
"Kalau begitu, sebelum aku mengawinkanmu, kupersilakan kau melihat calon istrimu dahulu.” Kata Pak Tua, sambil mempersilakan pemuda Idris melihat calon istrinya di ruang tengah. Idris segera beranjak, menuju ruang yang ditunjukkan. Dengan tangan sedikit kaku, didorongnya gagang pintu dengan hati berdebar tak menentu karena matanya akan segera menatap calon istri yang cacat segala rupa.
"Bagaimana bentuk wanita calonku ini, yang cacat segalanya, buta, tuli, lumpuh, bisu?" Beberapa saat pintu terbuka hampir tak berbunyi. Di lihatnya sorang wanita jelita yang tampaknya sedang merenda. Hanya dia dan tak ada lagi wanita lainnya. Bingung. Pintu ditutup kembali sama pelannya ketika ia membuka lantas menemui pak tua, Ayah dari calon istrinya. "Pak, aku tak melihat orang lain di dalam sana,kecuali hanya seorang wanita yang sedang merenda."
Pak Tua tersenyum lantas berujar, "Dialah calon istrimu."
"Oh Tuhan, bagaimana bisa begitu? Bukankah Bapak tadi menyebut calonku seorang buta, tuli, lumpuh, dan bisu? Sedangkan yang didalam sana seorang wanita yang sangat jelita dengan muka ranum bak delima?" tanya pemuda Idris setengah tak percaya. Hatinya berdebar kencang.
"Begini anakku. Dia memang buta dalam soal melihat kemaksiatan. Dia memang tuli dalam mendengar pembicaraan yang dapat menimbulkan murka Allah. Dia memang bisu untuk mengucapkan makian dan lumpuh karena tidak melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat, lokasi berkumpulnya syetan. Dia tak pernah bersentuhan dengan segala kemaksiatan, Itulah yang kumaksud bahwa dia buta, tuli, lumpuh, bisu. Karena itulah, tak ada pemuda yang layak menjadi suaminya kecuali orang sepertimu, yang juga menjaga diri dari segala hal yang berkaitan dengan dosa, haram, dan kemaksiatan.
Merekapun dinikahkan. Kebahagian dan ketidakpercayaan masih hadir kala perjalan pasangan ini mengarungi bahtera rumah tangga. Karena niatan Lillah Billah dan Fillah, halangan demi halangan hanya Allah tempat terbaik dalam meminta dan berlindung.

Subhanallah, Mahasuci Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Yang selalu memberikan balasan yang setimpal dengan amalan yang di lakukan oleh setiap makhluknya. Sekecil apapun amalan baik manusia, maka ia akan mendapatkan balasannya. Sebaliknya, sekecil apapun amalan buruk manusia, maka azab Allah sangatlah pedih.

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(Q.S. Al Zalzalah: 7-8)

Dan atas kesabaran Idris serta rasa tanggung jawabnya yang sangat luar biasa, Allah telah memberikan kebaikan baginya.

Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi'i yang tak lain adalah Imam Syafi'i Itulah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram demi memperoleh anak yang saleh. Allah pun mengabulkannya.

Dari kisah di atas terdapat begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan. Kita juga harus selalu memperhatikan setiap makanan yang kita makan, apakah makanan tersebut halal atau haram untuk kita makan. Karena setiap apapun yang kita lakukan dan kita makan, akan diminta pertanggungjawabannya oleh Sang Pemberi balasan.
Kembali ke judul postingan ini, yakni tentang cari pasangan. Hikmah yang bisa saya ambil dari kisah dan lirik lagu diatas adalah bahwa dalam mencari pasangan kita haruslah benar-benar jeli. Bukan hanya dilihat dari segi harta, pangkat, ataupun rupa. Tapi yang paling penting adalah keimanan dan akhlaqnya yang mulia. Wanita siapa yang tidak ingin menikah dengan seorang seorang pemuda yang menjaga dirinya dari dosa? Yang bahkan demi sebuah maaf ia ikhlas menikah dengan wanita yang cacat segala, demi sebuah ampunan dari Allah SWT. Meskipun akhirnya ia tau bahwa calon istrinya cacat karena tidak pernah bersentuhan dalam segala kemaksiatan.
Dan lelaki mana yang tidak ingin menikah dengan seorang wanita yang terjaga dari dosa dan maksiat. Wanita yang bisu, tuli, buta, dan lumpuh untuk melakukan maksiat kepada Allah SWT. Wanita seperti calon istri Idris yang shalehah. Saya pernah mendengar bahwa untuk mencari pasangan perhatikanlah tiga hal, yaitu hartanya, rupanya, dan akhlaqnya. Saat itu saya heran dan bingung dengan maksud pernyataan diatas, hingga akhirnya saya mengerti. Saya mengerti bahwa dengan adanya harta bisa menjadi sarana kita dalam beribadah kepada Allah dengan cara menyedekahkannya di jalan Allah. Dengan rupa yang elok dan menawan, maka akan membuat senang serta bahagia pasangan kita. Meskipun sebenarnya walau tanpa kedua hal tersebut, yakni harta dan rupa. Kenapa? Karena ada satu pondasi yang mampu membuat kita khusuk dalam beribadah serta membahagiakan pasangan kita, pondasi itu adalah iman dan akhlak. Dengan adanya harta yang banyak dan rupa yang elok, tapi tanpa akhlak yang baik, maka hancurlah mereka. Tapi dengan akhlak yang mulia meskipun tanpa harta dan rupa, Allah akan selalu ridho kepada makhluknya yang senantiasa berpegang kepada sabda-Nya dan berjalan di jalan-Nya.
Wallahu’alam bisshawab
Hanya Allah yang Mahatahu. Karena aku hanyalah manusia yang terbatas, terbatas ilmu pengetahuannya. Semoga Allah mengampuni kesalahan atas tulisan-tulisan yang saya buat. Dan semoga tulisan yang saya buat ini bermanfaat bagi orang lain. Amin...

#oh iya, hampir lupa. Nama Grup nasyid asal Malaysia yang menyanyikan lagu mencari pasangan itu namanya "Rabbani". 
*mirip-mirip sama nama teman saya -.-"

Rabu, 25 Januari 2012

PR Angka Sebelas : Mendesakku harus segera menghasilkan tulisan...^^

Menulis memang baru sekedar hobi bagi saya, jadinya saya hanya melakukan kegiatan tersebut saat waktu luang dan saat saya ingin melakukannya. Yah, meskipun tekadang saya juga menunggu otak ini encer untuk memikirkan hal-hal yang akan saya tulis, karna sering kali ingin menulis tapi bingung harus nulis apa. Dan dengan adanya liburan semester yang lumayan lama ini -satu bulan- saya menargetkan tangan ini harus berhasil menghasilkan tulisan-tulisan bermanfaat yang akan memenuhi blog saya ini dan juga harus bisa menyelesaikan beberapa cerpen yang terkatung-katung menunggu akhir akibat terabaikan selama beberapa bulan ini.

Tapi liburan sudah berjalan hampir dua minggu dan saya belum menuliskan apa-apa. Meskipun sering berkutat dengan laptop, saya bukan nulis tapi mengerjakan RKAT dan anggaran keuangan untuk kegiatan organisasi yang saya ikuti untuk satu tahun ke depan. Udah pada tahu apa itu RKAT? Rencana Kerja dan Anggaran Tahun, semacam laporan yang harus diserahkan ke bagian Direktorat Kemahasiswaan setiap awal tahun untuk mengetahui gambaran kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan seluruh LK di IPB.  Saya juga baru kenal tuh yang namanya RKAT karena baru kali ini saya terjun ke dunia Lembaga Kemahasiswaan kampus, jadi masih bingung juga #plak

Dan hari ini saya harus nulis untuk diposting ke blog, apapun, meski isinya gak jelas sekalipun. Nah, berhubung beberapa hari kemarin seorang teman yang bernama Kadri memberikan PR angka sebelas, maka saya harus mengerjakannya. Kenapa? Takut dipelototin Pak Kadri kalo gak ngerjain. #plakplak XD

So, inilah jawaban atas PR angka sebelas itu... :D

Sebelas Fakta tentang Yuli Astutik yang adalah saya sendiri. Hehe...

  1. Saat kecil dulu pernah terobsesi untuk jadi Miss Universe, tapi bukan miss universe seperti saat ini yang harus pake baju renang dulu. Saya bermimpi jadi Ratu Sejagad pertama yang memakai jilbab dan bahkan sering saya peragakan saat sendirian di dalam kamar. Aneh memang, tapi sumpah deh ini beneran. Sekarang mah, kagak mau yeee... XD 
  2. Saya hobi banget sama yang namanya jalan-jalan ngeliat pemandangan, naik motor ataupun jalan kaki menelusuri alam. Makanya saat SMA saya ikut pecinta Alam. Juga jadi seorang maniak novel atau kisah-kisah sejarah yang menyangkut peradaban
  3. Sangat suka sama warna biru, tapi tidak fanatik sama warna tersebut karna lebih enjoy dengan warna netral yaitu hitam dan putih. Penyebab saya suka warna biru karna saya suka banget yang namanya mandangi langit dan laut yang seolah tanpa batas. Unlimitted. Berhubungan dengan fakta no 2 sih sebenarnya.
  4. Sejak SMP mulai malas untuk berolahraga, karena setiap pelajaran olahraga gurunya malah ngajarin untuk bercocok tanam. So, jadi gak suka lari padahal pas SD jadi jura lari sekelas. Dan sering banget berceloteh, ‘dari pada di suruh lari cepat 500 m mending suruh saya jalan kaki 5 km deh’. :)
  5. Orang bilang saya koleris plegmatis, meskipun ada benernya juga sih. Tapi beneran deh, saya itu juga melankolis meskipun gak terlalu dominan. Saya bisa aja nangis hanya karna masalah sepele bahkan tiba-tiba nangis dengan tanpa alasan, saat saya sendirian tentunya.
  6. Saya orang yang sangat tidak rapi meskipun saya seorang cewek. Tapi lama-lama jadi bete ngeliatin kamar atau rumah yang berantakan, dan kalo udah gitu saya bisa dalam sehari hanya akan beres-beres tanpa mengerjakan hal-hal lain, udah seperti orang stress ngeberesinnya. XD
  7. Sahabat bagi saya adalah segalanya. Mungkin saat ini lebih tepat kalo saya bilang saudara. Apapun akan saya lakukan demi seorang saudara. Tak masalah jika saya bahkan harus pecah berkeping-keping demi mereka. #sedikit lebay
  8. Saya  suka curcol gak jelas sama orang lain meskipun yang dicurhatin itu masalah sepele. Tapi saya juga pendengar yang  baik yang bisa jadi temen curhat. Mau curhat apapun ke saya, sok atuh, pasti saya dengerin. Dan kalo saya bisa bantu masalahnya, saya pasti bantuin.
  9. Pengen punya kakak cowok. Karna menurut saya kakak cowok itu benar-benar bisa ngelindungin adiknya dalam segi apapun. Makanya sejak SMP saya lebih dekat ke teman dan senior cowok, bahkan cerita yang saya buat sering tentang cowok atau punya kakak cowok. Yah, begitulah...
  10. Sebenarnya fakta yang buruk neh, tapi apa mau di kata, kalo ternyata saya adalah orang yang pemalas sebenarnya. Sifat yang benar-benar sangat merugikan tapi sangat sulit dihilangkan. Benar-benar orang yang slalu memanfaatkan waktu yang sangat sedikit. Slalu mengandalkan yang namanya ‘The Power of Kepepet’.
  11. Yang ini nih, kocak dah. Saya ini adalah wong ndeso yang berasal dari Madura. Pernah bilang ‘lebih enak makan ikan tongkol bikinan emak dan embu’ (baca: ibu dan nenek) dari pada makan Pizza’ saat diajak makan pizza, saat itu aku benar-benar eneg makan pizza, mungkin karna pertama kalinya ya. Saya juga mabuk kalo naik mobil apalagi mobil mewah, tapi herannya saya lebih seger naik bus atau bahkan angkot (meskipun sebenarnya dulu sama-sama gak suka kalo disuruh naik kendaraan yang berjenis mobil). Yah, itu karna saya memang wong ndeso, hhehe :D
Nah itulah sebelas fakta tentang saya yang mungkin absurd sangat. Tapi ya itulah apa adanya saya. Meskipun sebenarnya sangat banyak fakta tentang saya yang tak mungkin dijelaskan dalam sebelas poin, setidaknya sebelas point tersebut sudah cukup mewakili tentang seperti apa diri saya ini. Silahkan anda semua menilai, kalo menurut anda baik ya Alhamdulillah, tapi kalo menurut anda jelek, sok atuh beri saran kepada saya bagaimana saya harus memperbaiki diri. Semoga saya bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. :)

Berhubung sebelas fakta tentang saya sudah saya jawab, sekarang saatnya saya menjawab tugas dari si Abang Kadri. Semoga jawaban saya gak mengecewakan. Hahaha XD

1.       Ayah dan Ibumu jadian pas umur berapa?
Jawab : Wah, saya gak tau tuh umur berapa. Tapi kayaknya mereka gak pacaran tapi langsung nikah deh. :p
2.       Kamu pernah punya pacar berapa kali?
Jawab : Pernah sekali pas jaman SMP akhir, zaman jahiliah dan saya bener-bener nyesel pernah pacaran.
3.      Kalau belum pernah punya pacar, pernah ada teman lawan jenis yang terasa ‘menarik’ tidak? :mgreen:
            Jawab : Yupz, udah dijawab tuh diatas. :p
4.      Apa kontribusi nyata yang bisa kamu lakukan untuk bangsa dan negara Indonesia ini dalam lima belas menit kedepan?
Jawab : Mengambil hikmah dalam setiap kejadian sebagai ilmu dan pembelajaran untuk masa mendatang. #jawaban klasik
5.      Menurutmu, Nazarudin sebaiknya dipenjara atau tidak?
Jawab : Kalo emang dia bersalah, ya emang harusnya di penjara kan? Dan sepertinya kalo yang saya ikuti di berita-berita, dia pantes di penjara.
6.      Kamu senangnya pakai tas punggung atau tas sampir bahu?
Jawab : Fleksibel, tapi lebih senang pake tas punggung karna lebih simpel dan enak di pakai.
7.      Kalau bisa milih, kamu mau milih mana: motor atau mobil, terus alasannya apa?
            Jawab : Motor. Lebih fleksibel dan aku sering mabuk kalo naik mobil.
8.      Kalau kamu mendapat kejutan menang lotre satu milyar dolar, mau kamu apakan uangnya?
Jawab : Yang pasti bayar zakat dulu. Naikin haji orang tua dan juga sanak saudara. Bantu orang-orang yang membutuhkan. Sisanya buat ngebangun desa tempat aku dilahirin dan untuk modal usaha. Oia, ngebangun perpustakaan baca yang gratissss... Amin... #mimpi #eh
9.      Artis Barat favorit kamu dan alasannya dong? :D
Jawab : Saya suka siapapun Artis Barat yang bermain dalam film yang genre dan kisahnya menarik dan seru untuk diikuti. Tapi film yang paling saya suka adalah film yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan Jackie Chan. #gak nyambung
10.   Menurut kamu, apa ciri utama sebuah blog yang bagus?
Jawab : Yang isinya bermanfaat juga menghibur bagi para pembacanya (dan blog saya belum termasuk di dalamnya L).
11.    Terakhir, ada tema-tema mengenai film 2012 nih ya :P… Agak mengkhayal dikit. Jika suatu hari nanti kamu terbangun, dan menyaksikan sebuah siluet planet raksasa terbit di ufuk Barat, sangat dekat dengan bumimu ini, apa yang akan kamu lakukan? :P:P:P#purefantasy
Jawab : Ngapain ya? Saya bingung, gak bisa ngebayanginnya. Mungkin nyari Kadri buat nanyain apa yang akan terjadi selanjutnya, kan ini fantasinya dia. #nyeleneh #plak

Fiuhhh... *ekspresi lega
Akhirnya selesai juga neh tugas meskipun sedikit ngasal, hehehe :p
Makasih banget buat Kadri yang udah ngasih PR ini untuk saya sehingga mendesak saya untuk segera menulis. Dan selanjutnya tangan ini tak akan berhenti untuk menulis, entah untuk diposting ke blog ini atau melanjutkan berbagai cerpen yang sebelumnya saya bilang, terkatung-katung karna lama saya abaikan. So, semangat nulis....^^

Senin, 26 Desember 2011

Ini Tentang Kalian...^^


Ini tentang kalian yang baru saja kukenal, tapi hati ini telah benar-benar terpaut dengan hati-hati kalian. Aku bertemu dengan kalian pada suatu moment yang takkan mungkin pernah terlupakan, hingga moment itu berakhirpun, kalian masih senantiasa menghiasi hatiku. Dan aku yakin hingga bertahun-tahun kedepan kalian akan selalu ada dalam ingatanku.
Ini tentang kalian yang selalu menjadi inspirasi. Yang selalu menjadikan diri sebagai teladan dan berharap orang lain lebih baik dari diri kalian. Yang harus terlihat berwajah masam meskipun sebenarnya tak menutupi wajah ceria kalian. Yang seolah berhati batu walau ternyata hati kalian selembut sutera. Kalian yang siap dibenci demi menegakkan sebuah cita-cita yang benama keteraturan dan kedisiplinan.
Ini tentang kedisiplinan kalian yang aku salutkan. Selalu belajar untuk bisa selalu memperbaiki diri. Terus membenahi kedisiplinan diri yang kian terpancar dari ketegasan kalian.
Ini tentang kebijaksanaan yang terpancar dari rona wajah kalian. Yang bisa menempatkan diri di saat dan di waktu yang tepat. Yang tetap bisa mengendalikan emosi saat marah melanda.
Ini tentang ketulusan hati kalian yang tak pernah aku ragukan. Selalu memberi ketika diminta. Selalu menolong ketika orang lain membutuhkan. Kalian yang selalu memberikan kerja terbaik untuk menuntaskan amanah tanpa keluh kesah walaupun lelah sudah menggelayuti raga.
Ini tentang semangat kalian yang tak pernah padam. Bahkan kian membara setiap harinya. Membakar semangat orang-orang yang sedang redup. Menjadi pelopor semangat orang-orang di sekitar kalian.
Ini tentang komitmen kalian yang sangat tak diragukan. Keihlasan, keprofesionalan, kerja keras, dan pengorbanan yang yang telah kalian berikan menjadi bukti nyata komitmen teguh kalian.
Ini tentang senyum kalian yang tulus. Selalu menghiasi wajah-wajah indah kalian. Tak pernah sedikitpun kulihat keterpaksaan dari senyuman kalian. Dan ku yakin senyum itu selalu datang dari hati kalian yang paling dalam.
Ini tentang canda tawa kalian yang selalu menghiasi hari-hariku dan hari-hari kita semua. Tentang keautisan yang tak pernah absen dalam setiap kebersamaan kita. Yang selalu membuatku selalu tersenyum karnanya.
Ini tentang kalian yang tiba-tiba aku rindukan.... :’)
Aku merindukan kebersamaan kita dulu yang hanya berbilang minggu. Aku rindu akan senyum dan tawa kalian yang begitu menghibur kegundahan hatiku. Aku rindu canda kalian yang kian mengisi kekosongan hatiku. Aku rindu kalian walaupun aku tak tau apa lagi yang aku rindukan dari kalian.  Aku rindu kalian hingga tak terkatakan seberapa besar rinduku pada kalian. Aku rindu......
Ini memang hanya tentang kalian yang selalu kurindukan...






17 Desember 2011
Jejak Cinta di Tapak Batas Cakrawala Biru
---Yuli Astutik---

Rabu, 02 November 2011

Makrab??? –antara benar dan salah-


Malam Keakraban Keluarga Mahasiswa Madura (Makrab Gasisma)

Ketika aku mulai menulis catatan ini, jam di laptopku menunjukkan pukul 01.24 Wib. Aku baru saja selesai mengikuti salah satu sesi yang diadakan, yaitu semacam diskusi dan sharing untuk menciptakan Gasisma yang lebih baik. Berbeda dengan tahun lalu yang hanya sharing dan malah menambah masalah dengan perselisihan antar angkatan, sesi malam ini cukup kondusif dan menambah banyak pengetahuan.
Bentuk acara yang diberikan tadi adalah diskusi kelompok menganalisis sebuah gambar. Setiap peserta dan panitia ikut dalam diskusi ini kecuali dua orang yang menjadi moderator dan notulen, yakni ketua Gasisma dan mantan ketua Gasisma tahun lalu. Nah, kami anggota Gasisma yang ikut makrab berjumlah sekitar 43 orang ditambah moderator dan notulen, dibagi menjadi lima kelompok. Kami diberi satu kertas yang berisi enam gambar. Format gambarnya yaitu logo gasisma sebagai center dan ada lima tanda panah yang keluar dari logo tersebut menuju lima gambar lainnya yaitu foto presiden SBY, logo IPB, gambar tanda tanya –positif-negatif (?+-), sekumpulan orang dengan berbagai macam karakter, lalu gambar yang terakhir adalah gambar peta madura yang diatasnya ada gambar karapan sapi. Nah kebetulan kelompokku kebagian untuk menganalisis gambar yang terakhir. Kalian semua udah pasti tau apa itu karapan sapi kan? Yap, karapan sapi adalah budaya madura yang sudah terkenal dimana-mana bahkan mancanegara. Budaya ini memang sangat identik dengan Madura yang juga terkenal dengan satenya, yah walaupun gak semua orang Madura itu jago nyate, hhe...
Nah, aku bocorin nih sedikit hasil analisis kelompokku perihal Logo Gasisma dengan tanda panah menuju peta madura dengan gambar karapan sapinya. Gasisma adalah sebuah perkumpulan mahasiswa madura (yang kami anggap keluarga) yang merantau jauh ke Bogor untuk menuntut ilmu. Analisis ini kami kerucutkan hanya dibidang budaya saja agar tidak meluas dan semakin tak jelas hasilnya. Sebagai mahasiswa Madura, maka sepantasnyalah kami harus tetap membudayakan budaya Madura meskipun kami jauh dari kampung halaman, bukannya malah terbawa arus budaya kota yang sangat bertolak belakang. Di Gasisma sendiri kita melihat bahwa kita masih sering menggunakan bahasa ibu kami yaitu bahasa Madura, meskipun masih bahasa kasar, setidaknya kami masih fasih ketika berbicara. Sekedar bahasa, kami belum bisa mempopulerkan kebudayaan yang lain seperti tari pecut, karapan sapi, sapi sono’, deelel. Karapan sapi memang sudah populer tanpa kami populerkan lagi, tapi hanya sebatas populer saja, tanpa tau sejarah dan tetek bengek lainnya perihal karapan sapi. Disinilah kepedulian mahasiswa Madura khususnya anak-anak Gasisma dipertanyakan. Kami kurang peduli untuk mempopulerkan berbagai kebudayaan Madura yang sebenarnya sangat bagus dan unik dan mempunyai ciri khas tersendiri tersebut.
Selain itu budaya juga mempersatukan empat wilayah yang ada di Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kami mengakui adanya perbedaan dari keempat kabupaten tersebut, tapi kami bersatu melalui Madura, karena ternyata banyak orang yang hanya mengenal madura tanpa mengenal keempat kabupatennya yang mempunyai ciri khas masing-masing. Nah, kami di Gasisma yang anggotanya juga terdiri dari masyarakat keempat kabupaten tersebut masih merasa adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Istilah kelompokku tadi adalah “deskriminasi antar kabupaten”. Jadi menurut kami tak perlulah masing-masing dari kami menyombongkan prestasi kabupaten asalnya, karena sebenarnya kami adalah satu Madura. So, anak-anak Gasisma harus menghapuskan deskriminasi antar kabupaten tersebut. Setuju? :D
.
.
.
.
.
.
.
Nah akhirnya aku ngelanjutin lagi neh tulisan setelah sempat tertunda karna kemaren pas nulis, laptopnya dipinjam kakak kelas buat nonton film, alhasil akunya jadi ikutan nonton, hhe... :p
Kalo sebelumnya aku cerita tentang hasil diskusi kelompokku about Madura & Gasisma, sekarang aku ingin nulis tentang makrab dan fungsinya bagiku. Sebenarnya sih aku pengen nulis tema tentang makrab, tapi tak apalah sebelumnya aku berbagi cerita... Lets go about makrab... :)
Makrab bukanlah sesuatu yang asing didengar lagi bagi anak-anak IPB yang notabene tiap tahun mungkin akan mengalaminya, setidaknya ditingkat satu atau dua anak IPB pasti melakukan makrab. Baik itu makrab Omda –bagi yang punya Omda-, makrab kelas TPB, atau bahkan makrab departemen yang dianggap sebagai rangkaian kegiatan MPD yang harus dan wajib diikuti. (bahasaku gak baku banget ya?:p)
Bicara masalah makrab, khususnya makrab Gasisma yang baru saja aku ikuti ini menurutku cukup bagus dengan konten-konten acaranya yang mendidik. Selain diskusi kami juga melakukan senam pagi bareng, outbond disawah, dan menyusuri jalan yang cukup panjang untuk sampai di pemandian air panas. Oke, aku sebenarnya setuju dengan kegiatan positif seperti diskusi kelompok karena kegiatan seperti itu bermanfaat dan bisa membantu kita lebih intelek dalam melihat masalah dan mencari solusi akan masalah tersebut. Menambah keakraban antar anggota? Pasti. Senam dan outbond pun bisa dihitung olahraga yang bisa menyehatkan badan kita, ya nggak???
Tapi yang aku pertanyakan disini adalah kenapa ajang untuk melakukan hal-hal positif tersebut harus makrab? Malam keakraban? Kenapa harus malam coba, siang juga bisa kan??? Iyalah outbond pastinya siang.  Satu hal yang kurang aku setujui adalah diskusi tersebut harus malam bahkan hingga lewat tengah malam. Toh diskusi dari pagi sama aja kan, bahkan waktunya bisa lebih panjang dan bahasannya akan lebih luas dan lebih berbobot. Nah kalo malam? Waktunya mepet dan harus dipotong waktu tidur. Belum lagi kalo pesertanya pada ngantuk, gak bakal masuk tuh hasil diskusi ke otak mereka. Pasti mantul sebelum nyampe telinga. Selain itu, kalian juga pasti ngerti alasan kenapa aku tidak setuju adanya makrab ini. Yupz, karena pas malem saat tidur ada perempuan dan laki-laki dalam satu rumah. Kita tau kita udah dewasa dan udah tau yang mana yang benar dan mana yang salah, tapi coba ingat setan itu juga ada dimana-mana kan?
Hanya saja suaraku disini adalah bagian dari suara minoritas yang akhirnya tak bisa berkutik apa-apa. Aku mengikuti acara ini karena menurutku semakin aku tidak ikut, maka akan ada suara-suara sumbang yang tidak enak didengar dibelakang hari kemudian. Nah, aku juga ikut dengan alasan bahwa aku bukan siapa-siapa yang bisa memutuskan acara ini benar atau salah secara mutlak. Yah, aku hanya tak setuju dan berusaha menghilangkan, benar-benar menghilangkan, pikiran-pikiran negatif dari otakku. Setidaknya aku mengantisipasi diriku sendiri untuk mengantisipasi teman-temanku. (Kata-kataku ribet banget ya? Aneh lagi :D).
Dan saat perjalanan pulang dari pemandian air panas, seorang adik kelas 48, Faisal Rahman namanya, ia juga teman seperjuangan di PII saat SMA dulu. Dia bilang, “Kita sebagai muslim bukanlah hakim yang pantas menghakimi ini benar atau salah, kita sepantasnyalah menjadi penengah agar apa yang dilakukan menjadi benar bukan malah menjadi suatu kesalahan”. Begitu kira-kira kata-kata yang sebenarnya ia kutip dari Mentor atau Murobbinya, aku sedikit lupa. Tapi intinya adalah kita bukan hakim yang bisa mengatakan makrab ini benar atau salah selama tak disinggung di Al-Quran, Hadis, ataupun Ijma’. Kita seharusnya bisa ikut  menjadi penengah, membaur tapi tak melebur. Setuju sekali dengan adik yang satu itu. Ah, ada teman seperjuangan disini. :)
Akhirnya, inilah sedikit curhatan gaje dan mungkin sedikit tentang perdebatan hati selama ini tentang sebuah ajang yang bernama “malam keakraban”.
Tak benar dan juga tak sepenuhnya salah. Hanya bagaimana kita menyikapi dan menjalaninya secara benar. Tapi selama keakraban bisa dihadirkan tanpa ajang makrab, kenapa tidak??? :D
Makin ke belakang makin gaje n makin gak nyambung neh... Udahan aja ya :)

Catatan menuju tapak batas
...Cakrawala Biru...