Minggu, 15 Mei 2011

Keinginan itu mesti ditunda lagi...

Sudah cukup lama gak nulis lagi, heu...
Kemarin adalah hari terakhir pengumpulan karya cerpen untuk lomba dala Ekspresi Muslimah IPB, dan aku berniat ikutan. Tapi mungkin bukan waktunya aku mempersembahkan karyaku, cerpen yang aku buat ternyata tidak sesuai persyaratan karena ada kesalahpahaman dariku mengenai persyaratan itu... >.<

Ya sudahlah,,, meskipun begitu aku senang karena cerpen itu selesai juga...
meskipun aku tak tau bagus atau enggak... :-)

Selamat menikmati n jangan lupa kritikannya ya....


SEINDAH JALAN CINTA-NYA
Senja mulai pergi menjemput malam. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru, ia telah memancarkan polesan warna jingga senja dalam balutan gradasi warna yang begitu indah. Paduan warna yang tergambar jelas dan nyata, memantapkan pesan kekuasaan-Nya. Awan berarak ceria mengantarkan sang raja siang ke peraduan dan menjemput bidadari malam yang kan menyinari bumi tuhan ketika gelap telah menyelimuti. Tiba-tiba seekor burung terbang melintas cepat bagai kilat menyambar. Sayapnya kokoh membentang, menantang desir angin yang menghalau. Matanya yang bundar menatap tajam kedepan. Tak takut pada apapun yang menghadang. Burung itu seolah menjadi pelengkap nuansa pemandangan alam sore ini.
Kumandang adzan mulai terdengar bertalu-talu dari beberapa masjid, pertanda malam segera menyelimuti alam. Panggilan Allah Sang Maha Pencipta membuatku bangkit, tak ingin lagi berlama-lama menunda pertemuan dengan-Nya. Mensyukuri segala nikmat yang telah tercurah. Termasuk nikmat memandang indahnya semesta alam sore ini. Karena aku tak tau kapan aku akan menghadap kepada-Nya, aku takut ketika aku dipanggil oleh-Nya, aku belum mempunyai bekal apa-apa. Sedang untuk menjawab seruannya saja, aku masih menunda. Aku tak mau hal itu terjadi padaku.
¶¶¶
“Harlan!”
Aku segera menoleh ketika mendengar namaku di panggil dari arah belakang. Terlihat Arya yang sedang berusaha mengejar langkahku.
“Dari mana?” Tanyanya setelah berhasil mensejajari langkahku.
“Dari masjid. Kamu sendiri dari mana kok mukanya kayak abis bangun tidur kayak gitu?” tanyaku setelah memperhatikan wajah Arya yang terlihat kucel dan berantakan.
“Aku dari kost kakak, tadi abis magrib ketiduran dan aku emang belum mandi. He…” Arya cengengesan. “Niatnya sih mau nginep disana, tapi berhubung aku ada tugas yang mesti dikumpulin besok dan tugasnya ada di asrama, yah akhirnya aku balik ke asrama deh.”
Jam di handphoneku menunjukkan pukul delapan malam, asrama terlihat lengang. Beberapa sedang berkumpul di pojok lobi, entah sedang mengerjakan apa, belajar atau mungkin sedang ada rapat. Aku dan Arya berlalu dari lobi menuju ke kamar kami di lorong tujuh lantai dua gedung ini. Begitu sampai di lorong, kami mendapati banyak anak yang sedang berkerumun di depan pintu kamar. Aku dan Arya saling pandang, sama-sama bingung karna tidak tau ada kejadian apa, seharian ini kami tidak berada di asrama. Aku segera mempercepat langkah menuju kamar, begitupun dengan Arya.
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam,” anak yang berkerumun di depan kamar menoleh mendengar salam yang kami ucapkan. Setelah tahu bahwa kami yang datang, mereka segera memberi kami jalan untuk masuk ke kamar.
Setelah masuk, aku melihat Ares, teman sekamarku dan Arya, terbaring di atas tempat tidur. Di sampingnya ada Kak Subhan, kakak pendamping yang juga tinggal di asrama.
“Ares kenapa Kak?” Tanya Arya mendahuluiku.
“Tadi dia tiba-tiba pingsan saat kita sedang tilawah bersama di musholla. Dari tadi sebelum magrib, kakak melihat wajahnya pucat dan dia juga mengeluh punggungnya sakit. Kalian tau dia sakit apa?” Kak Subhan memandang kami berdua bergantian. Kami menggeleng.
Kami memang tidak tahu kalo Ares sedang sakit. Beberapa minggu ini Ares jadi sedikit pendiam dan tenggelam bersama pelajaran dan ibadah pada-Nya. Ia hampir tidak pernah meninggalkan shalat tahajud, shalat dhuha, puasa sunah, dan segala macam ibadah lainnya. Interaksi kami bertiga sebagai teman sekamarnya semakin jarang, selain karna kesibukan kami masing-masing, ia juga terkesan tidak mau membuang waktu untuk sejenak bersantai dan mengobrol bersama kami. Ia benar-benar tenggelam dan menikmati berbagai kesibukannya.
“Beberapa hari ini dia memang sedikit terlihat kurang bersemangat, wajahnya juga sering terlihat kuyu. Mungkin karena dia terlalu lelah dengan berbagai aktivitas yang ia jalani. Saat aku menasehatinya agar ia beristirahat dan meninggalkan kesibukannya kemarin, ia menolak dan tetap beraktivitas dengan alasan lelah adalah resiko dari setiap perjuangan. Malah ia berangkat dari pagi dan baru kembali ketika pintu gerbang asrama hampir ditutup lagi. Seharian ini kami tidak di asrama, jadi kami tidak tau bagaimana kondisi Ares.” Arya lagi-lagi mendahuluiku menjelaskan panjang lebar kondisi Ares pada Kak Subhan.
Kak Subhan lalu menoleh kepadaku, “ Lan, kamu kan punya motor, besok ajak Ares periksa ke dokter ya. Kalau dia gak mau, paksa aja, biar jelas dia sakit apa dan bisa segera di obati. Kabari Sakti juga jangan lupa.”
“Iya Kak, Insya Allah.”
“Ya sudah sekarang kakak keluar dulu, kalian jaga Ares ya. Tunggu sampai sadar.” Aku dan Arya mengangguk patuh. “Yang lain balik ke kamar masing-masing ya, lanjutin belajarnya. Jangan lupa do’ain Ares agar lekas sembuh.” Perintah Kak Subhan kemudian sembari berlalu dari kamarku. Satu-persatu anak meninggalkan aku dan Arya di kamar. Akhirnya kami hanya tinggal bertiga dengan Ares yang masih terbaring tak sadarkan diri.
“Kira-kira Ares kenapa ya, Lan?”
Aku hanya diam mendengar pertanyaan Arya barusan. Sebuah pertanyaan retorik yang tak memerlukan jawaban pasti
¶¶¶
Aku berjalan menyusuri lorong yang terasa sangat panjang, tapi ini bukan lorong asrama yang biasa aku lewati, lorong ini sangat terasa asing. Suasananya penuh dengan suasana kesedihan, kesakitan, ketersiksaan, dan penuh dengan kepiluan. Ya. Aku sedang berjalan di lorong rumah sakit. Seminggu yang lalu Ares akhirnya dirujuk ke rumah sakit saat keadaannya semakin mengkhawatirkan pasca pingsan malam itu.
Esoknya saat aku mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter, ia bersikeras menolaknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena pada dasarnya Ares adalah orang yang keras kepala dan tak bisa dipaksa bila tak menyukai sesuatu. Aku lihat dia juga sering mengkonsumsi obat-obatan. Entahlah obat apa yang ia konsumsi, saat aku tanya dia selalu mengelak dan hanya menjawab kalau itu hanyalah vitamin dan suplemen penambah tenaga. Tapi aku tak sebodoh itu dan percaya pada ucapannya begitu saja.
Diam-diam aku aku mengambil bungkus obat yang dia buang di tempat sampah kamar kami dan aku bawa ke poliklinik kampus. Saat aku memberikan bungkus obat itu kepada dokter, ia langsung bertanya, “Siapa yang mengkonsumsinya? Kamu?” Aku hanya bisa menggeleng dan menjelaskan bahwa itu adalah obat yang biasa dikonsumsi oleh seorang teman. Dokter itu lalu menjelaskan segalanya tentang obat itu dan penyakit yang membuat seseorang mengkonsumsi obat itu. Dan akupun akhirnya tahu apa penyakit yang diderita Ares dan selalu ia tutup-tutupi.
Dengan perasaan sedih bercampur kecewa, aku kembali ke asrama. Begitu tiba di gerbang aku melihat kerumunan anak penghuni asrama di depan pintu asrama. Di sana juga telah terparkir ambulan dengan keadaan siap berangkat. Tanpa berpikir panjang aku segera memarkir motor sembarangan di dekat pos satpam,lalu bergegas lari. Perasaanku tiba-tiba tidak enak, bayangan wajah Ares yang ceria dan kata-kata dokter tadi melayang-layang di otakku.
Dugaanku tak meleset, Ares pingsan lagi ketika baru tiba di lobi asrama. Kak Subhan segera menghubungi ambulan kampus untuk membawa Ares ke rumah sakit. Saat itu perasaanku sudah campur aduk, antara bingung, sedih, marah, dan kecewa. Kenapa semua ini harus terjadi pada Ares, sahabatku yang selalu ceria.
Perlahan aku membuka pintu kamar rawat Ares, suasananya sangat sepi. Arya dan Sakti yang kebagian bertugas menjagamalam tadi, tertidur pulas di sofa. Kelihatannya mereka kecapekan karna menjaga Ares semalaman. Aku membiarkan mereka berdua karna hari ini adalah hari libur kuliah,sehingga mereka tak perlu kembali cepat-cepat kembali ke asrama.
Lalu aku beralih pada sosok Ares yang sedang terbaring di ranjang. Wajahnya menampakkan rona kelelahan yang amat sangat, kepasrahan dan kesakitan. Badannya juga terlihat semakin kurus dari pada beberapa bulan yang lalu. Ia terlihat berbeda dengan Ares saat pertama kali aku kenal. Dulu ia begitu bersemangat dalam segala hal dan selalu ceria, kapanpun dan dimanapun. Diantara kami berempat, dia yang paling sehat karena selalu berolahraga setiap pagi sehabis sholat subuh. Entah hanya lari-lari kecil, push-up, sit-up, dan olahraga lainnya. Ia juga paling rapi diantara kami untuk urusan kamar dan penampilan. Dan ia juga paling rajin dalam urusan ibadah, organisasi, dan dakwah.
Mataku tiba-tiba panas, air mata ku tiba-tiba keluar tanpa diminta. Aku tak percaya, sosok yang terbaring lemah dihadapanku ini adalah Ares, sahabatku. Tapi aku bukan teman yang cengeng, aku tidak ingin memperlihatkan kesedihanku sehingga membuat Ares akan lebih sedih nantinya. Segera aku menghapus air mataku.
“Gak nyangka, ternyata seorang Harlan bisa nangis juga?” Dalam lirihan yang hampir tak terdengar, Ares menggodaku. Ia ternyata telah sadar. “Kenapa nangis? Aku kan gak kenapa-kenapa.”
Aku tesenyum dan mengelak, “Siapa yang nangis, aku kelilipan kok.”
Ares tertawa, tapi bukan seperti orang tertawa. Ia terlalu lemah untuk sekedar tertawa dan wajahnya tetap tampak kesakitan. Kami kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian, aku mencoba memberanikan diri, menanyakan perihal penyakit yang dideritanya.
“Bang,” Panggilanku kepada Ares yang memang lebih tua dariku. Ares menolehkan kepalanya padaku.
“Kenapa Abang gak bilang kalo Abang mengidap kanker darah?” Ares terlihat bingung, mungkin tak mengira kalau aku tau tentang penyakitnya.
Ia berpaling dariku dan menatap plafon kamar. Dengan ekspresi tenang ia menjawab, “Buat apa, Lan? Penyakit kanker bukan sesuatu yang pantas di pamerkan.”
“Tapi bukan gitu juga caranya,Bang. Setidaknya abang ngasih tau ke aku, Arya, atau Sakti. Kita kan sahabat abang, bahkan aku anggap abang tuh saudara kandung aku sendiri. Apakah abang belum menganggap kita sahabat, jadi abang enggan cerita sama kita soal sakit abang itu?”
“Jangan ngaco kamu, Lan. Kalian sudah seperti pengganti keluarga bagiku. Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian dengan penyakit aku ini. Lagi pula aku sudah pasrah dengan kehendak Allah padaku, Ia lebih tau apa yang terbaik untukku”
“Kalo kita emang keluarga, seharusnya jangan ada satupun rahasia di antara kita, Bang, apalagi ini masalah besar dan menyangkut jiwa." Aku mendesah pelan, “Kalo emang anggap aku saudara, ijinkan aku membantu abang untuk sembuh dari penyakit abang. Ijinkan aku untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk abang.”
Ares terperanjat mendengar kata-kataku. Ia menggeleng cepat. “Jangan Lang, itu berbahaya, resikonya terlalu besar, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu.”
“Tapi Bang, itu satu-satunya cara agar abang bisa sembuh. Hanya donor sumsum tulang belakang satu-satunya cara untuk mengobati penyakit leukemia.” Aku bersikeras, tapi Ares tetap menggeleng tak setuju.
“Siapa yang sakit leukemia?” Sakti tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku dan Ares terdiam, tak mampu menjawab.
¶¶¶
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, banyak teman-teman seasrama yang datang menjenguk, tak terkecuali Kak Subhan dan beberapa kakak pendamping asrama yang lain. Selain itu juga teman sekelas dan teman-teman satu organisasinya. Begitu banyak yang mengunjungi dan khawatir dengan keadaannya, menandakan bahwa Ares adalah seorang yang begitu disenangi oleh banyak orang. Sangat pantas memang. Bahkan dosen pun meluangkan waktu untuk menjenguknya.
Namun berkali-kali ditanya tentang penyakitnya, Ares diam seribu bahasa. Dia hanya berkata kalau dia sedang terlalu lelah dan sakit thypus biasa. Tapi beberapa dari teman-teman kurang percaya, hanya saja mereka tak bertanya lebih lanjut karna tak ingin ikut campur urusan pribadi Ares.
Sakti dan Arya akhirnya tahu tentang penyakit yang diderita Ares. Aku menceritakan semuanya ketika awalnya Sakti tak sengaja mendengar obrolanku dengan Ares tentang donor sumsum tulang belakang. Mereka berdua pun mendesak Ares agar mengijinkan mereka juga ikut tes darah. Ares bersikeras menolak, tapi ini sudah menjadi keputusan bulat dari kami bertiga. Sehingga tanpa sepengetahuannya, kami berkonsultasi dengan dokter dan akhirnya melakukan tes darah.
Saat ini adalah waktu hasil pemeriksaan keluar. Aku, Arya, dan Sakti kini berada diruang dokter, menunggu dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama dokter datang membawa hasil tes darah kami. Ia lalu membagikannya kepada kami.
“Setelah tes, ternyata kadarkecocokan kalian bertiga sama-sama lebih dari 50%, saya menyarankan agar saudara Harlan yang menjadi donor, karena tingkat kecocokan saudara dengan pasien paling tinggi, yakni hampir 85% sehingga akan mengurangi resiko pada pasien, asalkan kondisi saudara Harlan juga sehat. Saya heran, kalian bukan saudara atau keluarga dari pasien, tapi tingkat kecocokan kalian sangat tinggi.”
Arya dan Sakti menoleh padaku, aku mengerti apa yang ingin mereka tanyakan. Aku tersenyum, tak pernah aku merasa sebahagia ini sebelumnya. “Dokter salah, kami memang bukan keluarga kandung Abang Ares, tapi kami adalah sahabat, bahkan melebihi saudara. Kami memamg tidak punya ikatan drarah, tapi hati kami telah terpaut dan tak bisa dipisahkan. Dokter percaya kekuatan cinta kan? Itulah kenapa tingkat kecocokan kami tinggi, karena kekuatan cinta antara kami,dan Allah tau bahwa kami adalah orang yang tepat untuk membantu Abang untuk sembuh dari penyakitnya.”
Dokter tersenyum mendengar jawabanku. Mungkin baru kali ini ia bertemu dengan seorang donor sumsum tulang belakang seperti aku yang bahagia mendengar bahwa ia bisa jadi donor bagi pasien.
“Saya siap menjalankan operasi transplantasi itu, Dok.” Aku semakin memantapkan keyakinan pada dokter, dan juga pada hatiku sendiri, meskipun aku belum tau bagaimana reaksi orang tuaku ats keputusan ini. Tapi aku takingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membantu saudara aku sendiri.
Arya dan Sakti langsung memelukku, aku tak tau perasaan mereka saat ini. Mungkin senang karena Ares mendapatkan donor sehingga ia bisa sembuh dari penyakitnya. Mungkin juga sedih karena mereka tau sebesar apa resiko menjadi pendonor sumsum tulang belakang. Tapi hatiku kini sudah mantap, seolah kemantapan hati ini datang langsung dari-Nya. Biar hanya ia yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Ia yang Mahatahu apa yang terbaik untukku dan untuk Ares.
¶¶¶
Ketika mendengar keputusanku menjadi donor sumsum tulang belakan untuk Ares, Bunda seketika itu langsung menolak. Ayah hanya diam. Aku memberikan berbagai argument yang menguatkan bahwa operasi itu tidak berbahaya. Selain itu, hal ini adalah momen terbaik untuk aku menjadi seorangyang bermanfaat bagi orang lain.Ayah seakan mengerti apa yang aku mau, ia setuju dengan keputusanku. Ia merasa bahwa aku sudah dewasa dan mampu untuk membuat keputusan sendiri. Dengan berbagai cara, aku dan ayah meyakinkan bunda. Dengan sedikit aksi diam pada bunda selama dua hari, akhirnya bunda juga menyetujui keputusanku.
“Bunda bangga sama kamu, Nak. Meskipun bunda takut, tapi bunda akan berusaha untuk ikhlas agar tujuan muliamu itu berakhir dengan indah. Bunda hanya bisa bertawakkal pada Allah.”
Dan disinilah aku sekarang, terbaring di ranjang ruang operasi. Ares memandangku penuh dengan penuh kekhawatiran. Namun aku selalu membalas dengan senyuman ketenangan, karna hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, mencoba untuk selalu tenang dan pasrah.
Awalnya Ares tidak mau melakukan operasi ini, tapi dengan berbagai bujukan dariku, dari Arya dan Sakti, dari orang tuanya yang ada di Sulawesi sana, serta dukungan dana dari teman-teman semua, ia akhirnya mau.
“Aku gak tau mesti bilang apa sama kalian, terutama sama kamu, Lan. kalian telah mengorbankan segalanya hanya demi aku yang bukan siapa-siapa.” Ucapnya saat itu sambil meneteska air mata.
“Kita saudara kan, Bang?” jawabku sambil tersenyum. “Itulah gunanya sahabat, Bang, tidak hanya berbagi di saat bahagia, tetapi juga saling berbagi di saat susah seperti ini.”
“Iya Res, kamu gak usah sungkan-sungkan gitu sama kita.” Tambah Sakti. Ares tersenyum penuh rasa terima kasih.
Tirai pembatas antara aku dan Ares di tutup. Operasi akan segera di mulai. Dokter lalu menyuruhku untuk mengubah posisi menjadi tengkurap dan menyuntikkan sesuatu padaku. Entahlah, mungkin obat bius, karena tak lama setelah itu mataku mulai terasa berat dan akhirnya semua menjadi gelap.
¶¶¶
Tanah itu masih basah, diatasnya ditaburi segala jenis bunga yang semerbak. Arya dan Sakti membawaku ke samping makam itu, makam sahabat terbaik kami. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Mataku terasa panas, tapi air mata ini tak boleh keluar.
“Harlan dipanggil oleh-Nya beberapa jam setelah operasi dilakukan. Ia sempat sadar dan mengatakan bahwa ia bahagia bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk kamu. Tak lama kemudian kondisinya drop dan akhirnya napasnya terhenti. Ia pergi dengan senyuman Res.” Kata Arya saat itu, saat aku sadar, sehari setelah kepergian Harlan.
Saat aku mulai membaik pasca operasi, aku memaksa Arya serta Sakti mengantarkanku ke makam Harlan. Dan saat ini aku duduk disini, disamping nisan bertuliskan nama Harlan Ferdinand. Aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa memanjatkan do’a agar ia mendapatkan yang terbaik di sisi-Nya.
‘Aku berjanji, Lan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup dari-Nya melalui kau sebagai perantara-Nya. Ini akan terasa lebih mudah karna kau akan selalu bersamaku disetiap nafas dan perjalananku. Aku juga berjanji akan menggantikan kau menjaga kedua orang tuamu, meghormati mereka seperti orang tuaku sendiri, dan akan selalu bangga pada mereka karna memiliki anak sepertimu. Terima kasih Harlan, terima kasih saudaraku.”
Arya dan Sakti menuntunku meninggalkan nisan kaku di atas tanah basah itu, kami meninggalkan makam Harlan dengan sejuta kesedihan dan harapan. Tapi kami tak akan pernah meninggalkan Harlan, karna bagi kami ia masih hidup, ia akan selalu hidup di hati kami, selamanya.

Rabu, 23 Februari 2011

Teladan untukku


Setelah cukup lama gak nulis di blog, alhamdulillah ada kesempatan buat nulis meskipun harus pinjam laptop teman buat OL,,, hhe...^^

beberapa hari kemaren saat aku sedang dilanda sedikit kesedihan *woi,bahasanya lebay* aku teringat dengan sebuah materi yang diberikan oleh seorang Murabbi ketika aku masih SMA dulu, mungkin sekitar 2 tahun yang lalu... sebuah surat cinta... saat itu bagiku surat itu terasa kurang bermakna, entah karena aku yang terlalu bodoh untuk mengerti, atau aku terlalu cuek untuk sekedar memahami isi surat itu... tapi yang jelas saat ini, surat itu bagai peringatan bagiku untuk senantiasa beribadah kepada-Nya...

inilah surat cinta itu...

Surat Cinta Dari Manusia-Manusia Malam...
Kami tujukan kepada Insan yang tersia-sia malamnya

Assalamu'alaikum wr. wb.

Wahai orang-orang yang terpejam matanya,

Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap,

Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja dibalik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,

Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu!! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu!! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan shalat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar tadi? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan shalat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,

Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan shalat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu? Pedulikah kau pada keluargamu? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, "Nuruddin itu kecanduan shalat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, "Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan." Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan shalat-shalat malamku yang penuh kekhusyu'an.

Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku? Dialah Istriku tercinta, Khatun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Allah. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang.

Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Allah, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirullaah, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqsa, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Shalahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga shalat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena,

Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Namaku Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan shalat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Allah memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Allah temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,
Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Shalat Istisqa yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atha' As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Shalat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.

Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini?

Shalat demi shalat Istisqa didirikan, namun hujan tak kunjung datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk shalat Istisqa sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.

Setelah shalat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo'a : "Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikit pun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."

Lalu apa gerangan yang terjadi? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena do'aku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,

Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku mengantuk, maka aku hentikan shalatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku." Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda,

Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah!."

Hei, sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Allah, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, shalatlah, shalat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap,
Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan? Masihkah? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat? Tidakkah kau tahu, bahwa Allah turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah."

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu.

Semoga Allah mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Semoga...

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Manusia-Manusia Malam

Subhanallah....
Surat itu menyentakku...
Betapa lalainya diriku yang amat sangat jarang menghidupkan malam-malamku...
Jangankan menghidupkan malam,,, ketika adzan subuh berkumandang pun terkadang aku masih lelap di tempat tidurku...

Astagfirullah...

Ya Rabb,,, maafkan hambamu yang tak bersyukur dan menyia-nyiakan malam-malam Mu yang indah.

Kini aku hanya ingin menjadi seperti mereka, teladan-teladan sejati sepanjang masa yang menghidupkan malam-malam mereka dengan sujud yang panjang dan alunan dzikir yang syahdu...
Insya Allah...
Berjuang...
Penuh Semangat...

Rabu, 01 Desember 2010

Imajinasi yg tiba2 tertuang dalam tulisan


Hujan turun perlahan, rintik itu makin besar, mulai menderas, dan pada akhirnya tak terelakkan lagi guyuran itu makin deras menghantam bumi.

Subhanallah...

Rintik hujan itu jatuh dari langit yang terlampau jauh jaraknya dengan kecepatan super tinggi. Sungguh akan sangat menyakitkan jika menghantam tubuh ini, karena bentuk rintik air hujan ini tajam. tapi kenyataannya, guyuran air hujan di sekujur tubuh ini terasa nikmat, sungguh nikmat.

Maha Besar Allah dengan sgala kuasa-Nya...

Perjalanan ini masih panjang, namun rasa lelah mulai mengiringi.
Disana terlihat daerah lapang berumputyang hijau.
Ku hampiri.

Subhanallah...

Ku baringkan tubuhku, menikmati rintik hujan yang mulai mereda.
Di ujung langit kulihat pelangi melengkung indah, dengan gradasi warna yang begitu menakjubkan.
Dengan latar belakang cakrawala biru nan luas dan menawan.
Awan berarak mengiringi mentari yang keluar dengan malu-malu.
Nyanyian kicau burung terdengar syahdu.
Puja-puji untuk Illahi.

Kini masih pagi, sedang perjalananku masih amat panjang dan penuh aral.
Istiqomah dan Amanah dalam perjalanan ini.
Maka bangunlah, jalanilah, berjuanglah, Syurga-Nya menanti...

Sabtu, 20 November 2010

Kepada Hatiku


Assalamu’alaikum Wr Wb.
Kepada Hatiku…………

Hatiku…… Apa kabarmu? Lama rasanya kita tak saling bicara.
Kembali, menengok ke belakang.
Ketika kembali membuka ruang-ruang memori…..
Mencoba mengenang sejarah masa silam…
Membuka lembaran hidup masa lalu.
Indah… berwarna-warni, gradasi yang begitu nyata: merah, biru, kuning,hijau.
Lembaran itu begitu bercorak, semarak…. Sesemarak kisah yang tertulis di dalamnya.
Kisah perjalanan hidup antara aku dan kau.

Hatiku…………..
Kesemarakan itu telah kutinggalkan kini.
Jauh….. Begitu jauh sehingga terkadang aku enggan untuk menengoknya,,,
hatta untuk mengenangnya….
Tapi….. Kesadaran ku mengingatkan aku bahwa jalan yang kutempuh itu adalah jalan yang mengantarkan ku pada lembaran kisah hidup ku.
Bahwa sesuatu yang ku ukir di masa lalu telah membawa ku ke dalam dunia ku kini.

Ku coba mengingat…… Telah berapa lama aku meninggalkan dunia yang penuh warna itu dan memasuki dunia baru ini.
Dunia yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “dunia putih”.
Sudah berapa banyak cerita yang ku ukir di lembaran –lembaran ini.
Cerita dengan warna yang berbeda, sejak aku memilih untuk melepaskan kesemarakan itu yang oleh teman-temanku disebut “hijrah”.

Cukup…… Cukup lama, sehingga aku banyak menorehkan cerita di lembaran ini.
Jalinan kisah indah yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “untuk meraih mardhotillah”.
Berbeda dengan kisah indah kita dulu yang oleh teman-teman di sekitar ku disebut “kisah jahilliyah”.

Kini…. Hatiku….
Aku telah mempunyai lembaran-lembaran baru ini, aku telah banyak belajar dari dunia ku kini.
Ya…. Banyak belajar untuk mengetahui bahwa “kesemarakan warna” itu adalah fatamorgana dan “keindahan” dulu itu adalah semu.
Ya…. Aku banyak belajar bagaimana menjadi “manusia sejati” dan bagaimana menjadi “seseorang yang berarti”. Yang kita dulu menyebutnya “jati diri”. Sesuatu yang dahulu kita cari-cari.
Dari teman-teman ku, aku banyak belajar bagaimana “mencintai sesama”, bagaimana indahnya “berukhuwah”. Yang kita dulu menyebutnya “persahabatan”. Sesuatu yang dulu kita damba dan agungkan.
Sungguh……… aku banyak belajar tentang banyak hal disini.

Tapi… Hatiku…
Mengapa aku masih merasakan kehampaan???? Kekeringan dan kekosongan jiwa????

Sungguh……. “Jati diri’ yang ku temukan itu ternyata hanya pakaian luar belaka.
Sungguh……. “Persahabatan” yang telah ku rengkuh itu ternyata tak membuat ku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tak lebih baik dari kebersamaan kita dulu.

Lalu...... Apa yang salah…………..???
Lembaran-lembaran inikah……..???
Atau dunia yang kupilih…???

Berlari…….. coba ku bertanya pada bintang dan bulan. Bertanya pada teriknya mentari. Bertanya pada alam. Ku coba ‘tuk mencari jawaban dari misteri ini.

Akhirnya……. Aku temukan jawaban itu.
Ternyata kehampaan itu terjadi karena aku meninggalkanmu di lembaran hidup ku dahulu.
Kekeringan itu terjadi karena kau tak menyertaiku hijrah ke dunia baruku.
Kekosongan itu terjadi karena bagian terpenting dari diriku yaitu kau masih mencintai kesemarakan itu.

Kini ku buka kembali lembaran masa lalu.
Bukan,,,,, bukan untuk kembali ke dunia kita yang dulu! Sungguh bukan itu tujuan ku!
Kini…. Aku mengunjungimu…
Aku ingin membawamu serta. Membawamu ke dunia ku yang baru.
Agar kita bisa merajut kisah-kisah indah baru yang nyata, tidak semu.
Agar kita menemukan jati diri kita yang sesungguhnya.
Agar kita bisa mengecap manisnya bersaudara bersama.
Aku ingin kelak kau menjadi saksi dari perjalanan hidup ku.
Dan kau bersaksi dengan penuh senyuman dan kebanggaan.
Aku ingin bersama dirimu membuka tabir itu dan dipertemukan dengan Allah.
Dan kau tahu…….???
Tiada kenikmatan yang bias menandingi daripada nikmat dipertemukan dengan Sang Pencipta semesta alam, Pemilik jagad raya.

Hatiku……
Jangan pernah kau tolak ajakanku.
Karena aku khawatir jika tanpamu maka aku akan menjadi seseorang yan oleh teman-teman ku disebut “munafik”.
Sedangkan kau tahu amatlah besar kebencian Allah kepada orang munafik.
Dan….. aku takut jika tanpamu aku tidak bisa mengisi lembaran-lembaran hidup ku ini dengan keikhlasan.
Dan kau tahu…. Bahwa amatlah sia-sia amalan yang dilakukan tanpa keikhlasan…

Hatiku……
Tinggalkanlah masa lalu dan mari bersamaku, menuju dunia yang baru.
Biarkanlah masa lalu menjadi sejarah. Dan biarkan sejarah menjadi pelajaran bagi kita untuk menggoreskan kisah baru di lembaran-lembaran yang baru pula….

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Minggu, 31 Agustus 2008

Tips bagaimana mencari seorang sahabat sejati di bawah ini by errosenin :

1. Jangan cuma karena masalah sepele, persahabatan lo
ber2 jadi ancur.
Komunikasi and ngobrol dari hati ke hati adalah salah
satu solusi buat
memperbaiki hubungan yg sedang bermasalah.
2. Sikap saling menghormati ,menghargai harus diterapkan
dalam sebuah
persahabatan. Karena, kalo lo menghormati org laen,
otomatis org tsb akan
menghormati lo juga nantinya.
3. Sifat cemburu harus dihilangkan jauh-jauh dari diri lo.
Contohnya klo
sahabat lo berhasil dalam melakukan sesuatu, harusnya
lo sebagai
sahabat wajib memberinya semangat & berbangga hati,
bukannya
menumbuhkan benih cemburu di hati lo.
4. Dalam sebuah ikatan persahabatan, berfikiran positif &
bersedia menerima
kelebihan atawa kelemahan sahabatnya adalah suatu hal
yang harus
diterapkan.
5. Jika memungkinkan, carilah seorang sahabat yang
mempunyai hobi ato sifat yg
sama, karena ini dapat mempermudah lo dalam
berteman.
6. Jadilah seorang pendengar yang baik. Ini bisa diterapkan
pada saat sahabat lo
gi curhat ttg masalahnya and lo gak mampu wat ngasih
solusinya, menjadi
good listener adalah hal yang paling mulia buat dilakuin.
7. Saling mengisi satu sama lain. Misalnya saling sharing
tentang pengalaman
& pengetahuan baru. Kan lumayan tuh jadi nambah
wawasan tiap harinya.
8. Sikap jujur & ikhlas kudu ada dalam sebuah
persahabatan. Gak mungkin kan
persahabatan lo bisa berjalan kalo lo ber2 saling
membohongi..
9. Jangan sekali2 membebani sahabat lo dgn masalah yg lo
hadapi. Buat sekedar
sharing sih boleh2 aja, cuman jgn ampe sahabat lo
ikut terbebani juga
dong
10. Menjaga ucapan & tutur kata adalah hal penting yang
harus dilakuin, supaya
sahabat lo gk sakit ati dgn ucapan lo. Jadi inget pepatah Mulutmu
adalah Harimau mu

Jumat, 29 Agustus 2008

Pengemis Buta dan Rasulullah

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya? MasyaAllah.. ..macam meter taxi...jalan terus. Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir. 1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah. 2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah. 4. Bantu pendidikan seorang anak. 5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat hasanah. 6. Bagi CD Quran atau Do'a. 7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid. 8. Tempatkan pendingin air di tempat umum. 9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah. 10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat. Aminnnnnn...

Rabu, 27 Agustus 2008

PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG

Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001)

Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.


Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

· Kesiapan mental.

Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

· Kesiapan fisik.

Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

· Kesiapan administrasi.

Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

· Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
■ Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.

Perlengkapan dasar perjalanan
■ Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
■ Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
■ Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu
■ Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

· Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.

· Masukkan dalam kantong plastik.

· Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.

· Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.

· Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.

· Buat Checklist barang barang tersebut.


Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :

1. Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai

2. Gunung berapi strato

3. Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya kawahnya saja.

Macam dan tingkat pendakian gunung macam pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya mambutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang. Menurut Club “Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua cara.

1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)

· class 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan

· class 2 ; dibutuhkan bantuan tangan

· class 3 ; pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula

· class 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman

· class 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll

· class 6 ; mandaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak diatas paku tebing, memenjat rantai sling atau mengunakan stirupss

Pendakian claass 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan medan yang miring sampai 45 derajat] dan class 5 - 6 sudah dapat dikatagorikan sebagai climbing [panjat]. Dimana class 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai pengaman saja ] dan class 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing .

Ulasan mengenai hal ini dibahas dalam materi tersendiri.

2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)

· grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam

· grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari

· grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh

· grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik

· grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari

· grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan

Ulasan mengenai hal ini dibahas dalam materi panjat tebing.

3. Berdasarkan tingkat kemanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan

· A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki

· A2 ;aman, jikapun terjadi maslah, alat masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh tidak sampai kedasar]

· A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasngan yang sangat teliti dan fall-faktor yang tidak terlal;u berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal

· A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki


4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan pendakian

Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]

Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh” akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika sebaliknya.

YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.

Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas, seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.

Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c

Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.

Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :

· 5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian

· 5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari

· 5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan [balance] yang baik

· 5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade demikian.

· 5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling tidak sama

· 5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.

· 5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat jalur pendakian/pemanjatan


Makanan (logistik).

Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.

Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.

Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan tempat didalam ransel.

Peralatan lain

Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang-barang yang tercecer.
Pengetahuan Dasar Survival

Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.

Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. Survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. Kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi.

Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.

Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir.

Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat adalah kunci dari survival. Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup. Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival.

Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan untuk memperolehnya dibutuhkan gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan dari pengalaman atau pendidikan yang pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan resiko tinggi dan aktivitas menantang terbukti dapat membuat orang belajar untuk berbuat yang lebih baik dan melakukan adaptasi efektif.

Berikut adalah contoh susunan prioritas dalam keadaan survival :

1. Tentunya yang paling utama adalah udara. bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapat prioritas utama untuk bertahan hidup. survival tanpa udara umumnya hanya bertahan selama 3 sampai 5 menit.

2. Selanjutnya dibutuhkan perlin- dungan, dari cuaca buruk dan keganasan alam. sejak keberadaannya manusia dibatasi lingkungannya sendiri mulai dari temperatur yang sangat berpengaruh pada tubuh. Untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat melindunginya contohnya api yang dapat menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh, jika tidak ada rumah, tenda atau gua. Api dapat dimasukkan kedalam prioritas kedua

3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan istirahat jaringan tubuh akan terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain. Istirahat yang dimaksud adalah istirahat fisik dan juga mental sebab stress dapat mengurangi kemampuan untuk bertahan. Dengan demikian istirahat dapat dimasukkan kedalam prioritas ketiga.

4. Air. Kehilangan cairan dan kondisi air yang tidak dapat diminum adalah persoalan didalam survival. Tubuh manusia kira-kira terdiri dari 2/3 jaringan yang mengandung air dan merupakan bagian sistem sirkulasi di dalam organ tubuh. Air dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang air dan mencerna makanan. Kondisi lingkungan yang exstrem tanpa air dapat mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga tiga hari, sehingga air dapat dimasukkan kedalam prioritas keempat. Sangatlah bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.

5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga kali sehari. Tetapi sementara banyak manusia di benua lain hanya dapat makan sekali sehari atau bahkan tidak makan berhari-hari. Catatan menunjukkan bahwa tanpa makanan survivor dapat bertahan selama 40 sampai 70 hari. Keharusan untuk mendapatkan makanan adalah prioritas terakhir dalam survival. Penghematan energi adalah salah satu cara untuk mengimbangi kekurangan makanan.


Sikap dalam Survival

Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat sangat diperlukan. Setiap orang harus dapat berbuat yang terbaik dalam memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan darurat. Hal ini tidak mudah karena sikap ini perlu latar belakang pengetahuan dan keterampilan. Bila semua prioritas telah diperoleh, tetapi masih kehilangan kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk menguasai mental yang disebabkan kondisi fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali. Kondisi yang demikian sangat membahayakan dan bahkan sesuatu yang menguntungkan pun akan dibuangnya. Juga yang perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu yang anda lihat. Sikap mental positif sangat diperlukan untuk menganalisa semua yang bertentangan dengan tubuh.

Apa saja yang berguna dalam mengha- dapi situasi survival dapat dilihat dalam dua persoalan :

1. Kesiapan mendiskusikan dengan jelas “apakah anda ingin hidup ?”, ungkapan yang sederhana. Secara naluriah manusia mempunyai insting untuk menjaga diri. Banyak kegiatan survival yang menunjukkan adanya jalan keluar dari periode fisik ekstrem dan mental stress ke posisi tenang. Sadar atau tidak orang mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kematian. Oleh karena itu setiap orang juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kehidupan.

2. Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal ini didapat jika kita mampu mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh : tubuh manusia bekerja optimum dengan temperatur 37 derajat C. Mengabaikan temperatur lingkungan akan menyebabkan penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh yang efektivitasnya tinggi yang pada akhirnya akan mengganggu peredaran darah, menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas, akhirnya bertindak irrasional berbarengan dengan turunnya koordinasi yang akhirnya berakibat fatal. Pengetahuan dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh hanya bekerja dengan separuh kemampuannya, penghematan sumberdaya seperti energi, panas dan air adalah penting.

Mengapa ada Survival ?

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

· Keadaan alam (cuaca dan medan)

· Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)

· Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)

· Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri. Dalam keadan tersebut ada beberapa faktor yang menetukan seorang Survivor mampu bertahan atau tidak, antara lain : mental, kurang lebih 80% kesiapan kita dalam survival terletak dari kesiapan mental kita.


Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

· Keadaan alam (cuaca dan medan)

· Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)

· Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)


Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.


Definisi Survival

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam ;


Sadarkan diri dalam keadaan gawat darurat
Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
Rasa takut dan putus asa harus hilangkan
Vitalitas mesti ditingkatkan
Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
Variasi alam bisa dimanfaatkan
Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
Lancar dan selamat

Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tersebut, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :


Stop & seating / berhenti dan duduklah
Thingking / berpikirlah
Observe / amati keadaan sekitar
Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

Kebutuhan survival

Yang harus dipunyai oleh seorang survivor adalah :

1. Sikap mental ; Semangat untuk tetap hidup, Kepercayaan diri, Akal sehat, Disiplin dan rencana matang serta Kemampuan belajar dari pengalaman]

2. Pengetahuan ; Cara membuat bivak, Cara memperoleh air, Cara mendapatkan makanan, Cara membuat api, Pengetahuan orientasi medan, Cara mengatasi gangguan binatang, Cara mencari pertolongan

3. Pengalaman dan latihan ; Latihan mengidentifikasikan tanaman, Latihan membuat trap, dll

4. Peralatan ; Kotak survival, Pisau jungle , dll


Langkah yang harus ditempuh bila anda/kelompok anda tersesat :

1. Mengkoordinasi anggota

2. Melakukan pertolongan pertama

3. Melihat kemampuan anggota

4. Mengadakan orientasi medan

5. Mengadakan penjatahan makanan

6. Membuat rencana dan pembagian tugas

7. Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar

8. Membuat jejak dan perhatian

9. Mendapatkan pertolongan


Bahaya-bahaya dalam Survival

Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :

Ketegangan dan panik

Cara Pencegahan : Sering berlatih, Berpikir positif dan optimis dan Persiapan fisik dan mental


Matahari / panas

· Kelelahan panas

· Kejang panas

· Sengatan panas

· Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas : Penyakit akut / kronis, Baru sembuh dari penyakit Demam, Baru memperoleh vaksinasi, Kurang tidur, Kelelahan, Terlalu gemuk, Penyakit kulit yang merata, Pernah mengalami sengatan udara panas, Minum alkohol, Dehidrasi.


Pencegahan keadaan panas :

· Aklimitasi

· Persedian air

· Mengurangi aktivitas

· Garam dapur

· Pakaian : Longgar, Lengan panjang, Celana pendek, Kaos oblong


Serangan penyakit
Penyakit yang biasa diderita pegiat alam bebas adalah :Demam, Disentri, Typus, Malaria

Kemerosotan mental
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah atau keadaan lingkungan mencekam
Pencegahan : Usahakan tenang dan tentu saja banyak berlatih

Bahaya binatang beracun dan berbisa
Keracunan

· ■ Gejala ; Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang mencret, kejang kejang seluruh badan, bisa pingsan.

· ■ Penyebab : Makanan dan minuman beracun

· ■ Pencegahan : Air garam di minum, Minum air sabun mandi panas, Minum teh pekat atau di tohok anak tekaknya


Keletihan amat sangat
Pencegahan : Makan makanan berkalori dan Membatasi kegiatan

Bahaya lainnya dalam survival adalah : Kelaparan, Lecet, Kedinginan [untuk penurunan suhu tubuh 30° C bisa menyebabkan kematian]


Membuat Bivouck (Shelter)

Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.


Macam –macam bivouck :

1. Shelter asli alam ; Gua [yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor]. Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.

2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan [misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu]


Syarat bivouck :

· Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]

· Di atas bivouck / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh

· Bukan sarang nyamuk/serangga

· Bahan kuat

· Jangan terlalu merusak alam sekitar

· Terlindung langsung dari angin

Mengatasi Gangguan Binatang

Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk


Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan

Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan

Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.

Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut

Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan

Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]


Membaca Jejak

Ada beberapa jenis jejak yang dapat diidentifikasi, yaitu jejak buatan, maksudnya adalah jejak yang dibuat oleh manusia dan jejak alami yaitu tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan.

Jejak alami biasanya menyatakan tentang jenis binatang yang lewat dan ada disekitar, arah gerak binatang, besar kecilnya binatang, cepat lambatnya gerak binatang. Untuk membaca jejak alami [binatang] dapat diketahui dari telapak yang ditinggalkan, kotoran yang tersisa, pohon atau ranting yang patah, lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput.

Air

Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air.

Ada air yang tidak perlu dimurnikan, seperti air hujan langsung. Untuk memperoleh air hujan langsung dalam keadaaan sirvive di alam bebas, maka dapat dengan cara memampung dengan ponco atau daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan [nesting atau phipless]

Air dari tanaman rambat/rotan atau bambu. Cara memperolehnya, yaitu potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut.
Selain rotan, bambu dan tumbuhan rambat, air juga dapat diperoleh pada bunga (kantung semar) dan lumut.

Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu antara lain adalah air sungai besar, air sungai tergenang, air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut). Untuk mendaptkan air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan

Berikutnya air juga dapat diperoleh dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya [bongkahnya] lalu buat lubang ditengahnya maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan.


Makanan

Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :

· Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia

· Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok

· Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.

· Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.

· Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam


Note ;

Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat [dapat dicoba di ujung lidah]


Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :

· Batang pohon pisang (putihnya)

· Bambu yang masih muda (rebung)

· Pakis dalamnya berwarna putih

· Sagu dalamnya berwarna putih

· Tebu


Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :

· Selada air

· Rasamala (yang masih muda)

· Daun mlinjo

· Singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :

Ubi jalar, talas, singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet

Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :

· Jamur merang, jamur kayu. Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :

· Mempunyai warna mencolok

· Baunya tidak sedap

· Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning

· Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan

· Bila diraba mudah hancur

· Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya

· Tumbuh dari kotoran hewan

· Mengeluarkan getah putih

Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.


Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :

· Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking

· Binatang yang mengandung racun : penyu laut

· Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung


Api

Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.


Cara membuat api dalam keadaan darurat :

· Dengan lensa / Kaca pembesar ; Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.

· Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar

· Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren


Survival kits

Survical kits adalah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan sebagai alat berjaga-jaga bila terjadi keadaan darurat atau juga dapat digunakan selama perjalanan.


Beberapa contoh survival kits adalah :

· Mata pancing /kait

· Pisau / sangkur / vitrorinoc

· Tali kecil

· Senter

· Cermin suryakanta, cermin kecil

· Peluit

· Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]

· Tablet garam, norit

· Obat-obatan pribadi

· Jarum + benang + peniti

· Ponco / jas hujan / rain coat

· Lain-lain