Kamis, 07 Maret 2013

Random #2


Kadang kau tidak mengerti seperti apa saat dia sendiri
Kau tidak selalu tau ada perbedaan antara yang tampak dan yang tersembunyi di hati
Kaupun takkan menyangka dia bisa saja bertindak diluar bayanganmu
Kau mungkin akan kaget atau bahkan tertawa terbahak-bahak
Tapi dia taka peduli, tak pernah peduli
Dia hanya sibuk dengan pikiran dan hatinya sendiri
Tentang kamu, tentang dia, dan tentang mereka

*edisi kacau minggu ini*

Rabu, 16 Januari 2013

DIA


Aku masih ingat, tujuh bulan yang lalu saat akan pulang kampung karena liburan kenaikan tingkat, dia membuatku merasa terharu, merasa speechless, merasa entahlah campur aduk. Pagi-pagi entah jam berapa aku berangkat dari kontrakanku bareng Dila dan Dita saudara kembar yang akan bersamaku naik kereta untuk pulang kampung ke Madura. Kami berangkat ke stasiun Bogor untuk selanjutnya ke stasiun Jakarta Kota. Masih pagi saat kami sampai di stasiun Jakarta Kota, sedangkan kereta yang akan membawa kami ke Surabaya baru berangkat sekitar jam 12 siang nanti, masih agak lama untuk menunggu, mungkin rasanya akan sedikit bosan. Di Stasiun sudah ada Mbak Viska yang menunggu kami, dia juga akan bersama kami dalam perjalanan ke Madura nanti. Kebetulan karena paginya kami belum makan, meskipun kami tau restoran atau tempat makan di stasiun akan cukup mahal bagi kantong mahasiswa seperti kami, kami tidak ambil resiko lemas di perjalanan, jadinya kami akhirnya masuk ke salah satu resto.
Di saat itulah, di saat aku makan, Dila tiba-tiba keluar entah untuk apa tak terlalu aku perdulikan. Yang membuatku bingung adalah saat Dila masuk dia tak sendiri, dia masuk bersama dengan seseorang yang sudah aku kenal, sudah sangat aku kenal. Dia tersenyum begitu melihatku dan yah aku juga tidak tau harus bersikap bagaimana, hanya seulas senyum haru. Dia duduk disampingku dan memberiku sebuah tas jinjing berwarna merah tua, katanya sebagai kado miladku yang terlambat. Di dalamnya ada sekotak nasi goreng, sebuah CD, dan secarik kertas. Aku tidak langsung membacanya tentu saja, menyimpannya dulu, aku lebih tertarik mengobrol dengannya. Ah, rasanya hari itu takkan terlupakan, dia benar-benar membuatku merasa jadi saudari yang istimewa. :p
Muncullah celetukan-celetukan Dila dan Dita, “ah, kalian so sweet banget sih”. Haha, si Dila ada-ada aja, namanya juga sahabat kan harus so sweet ya, emang ke pasangan doang yang boleh so sweet – so sweet #loh #gubrak Ya, tidak heran memang Dila bilang seperti itu karena dia dengan ikhlasnya mengejarku sampai ke stasiun Jakarta Kota hanya untuk memberi kado milad buatku, meskipun sudah terlambat hampir seminggu. Ah, aku tidak pernah menganggap dia lupa tanggal miladku, karna aku tau dia pasti ingat seperti aku juga akan selalu ingat tanggal miladnya. Tapi yah seperti udah menjadi kebiaasaan bagi kami, jika salah satu dari kami milad pasti yang lainnya akan terlambat mengucapkan selamat milad dengan sengaja. Gak cuma dari Dila dan Dita aja celetukan itu muncul, entah aku atau dia yang bilang pertama kali “Aku mengejarmu sampai stasiun Jakarta Kota”,  aku lupa, tapi yang jelas aku juga nyeletuk, ‘kayaknya cocok tuh buat judul cerpen’ hehe... Dan dia bilang, ‘bener tuh Yul, cocok buat judul cerpen, ditunggu ya cerpennya’. Dan sampai saat ini aku belum buat cerpen itu, maaf ya, otakku lagi kurang jernih buat bikin cerpen, hehe, jadi aku buat tulisan ini aja ya... :p
Lima bulan berlalu dan sebentar lagi dia milad. Ah, kali ini aku ngasih kejutan apa ya? Ngasih kado apa ya? Kali ini harus ada yang beda dari dua tahun sebelumnya dan yang terpenting bukan kado. Dan terbersitlah ide itu :) Kebetulan aku sedang intens bertemu dengan Mbak Denok jadi aku ngajak mbak Denok buat ke rumah dia, dan tidak lupa juga ngajak si Ina Walia. Sayangnya si Ina gak bisa, jadinya aku cuma berdua dengan Mbak Denok. Sore itu kami berdua kerumah dia tanpa bilang-bilang dulu karena kami memang ingin memberikan surprise kepadanya. Sepertinya kami berhasil, dan aku yakin dia pasti senang dengan kehadiran kami berdua. Sepanjang sore dan malam (karena akhirnya kami menginap di rumahnya) kami mengobrol bertiga, sambil makan kue tart dan nonton TV.  Malam itu jadi malam yang membahagiakan. :)
Dan kemarin, tanggal 15 Januari 2013 adalah hari terakhir UAS di semester lima ini. Rasanya beban untuk semester ini sudah lepas setengahnya. Kenapa setengahnya? Karena aku juga belum tau bagaimana nilai-nilaiku di semester ini, jadi itu terasa masih jadi beban. Jadi curhat yak? :p tapi sebenarnya aku bukan mau ngomongin itu. Sore hari kemarin aku sedang membaca novel di depan TV, maklumlah sudah tidak ada ujian, hehe.. Sekitar jam lima sore Ulfi datang dan langsung menghampiriku, “Yul, ada titipan”.
Aku melongo tidak mengerti. “Titipan? Dari siapa, Fi?”
“Dari ‘dia’” (sebenarnya Ulfi nyebut nama tapi sengaja aku ganti dengan kata dia, biar jadi penasaran. Tuh kan penasaran? Haha :p)
Aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi dan langsung masuk ke kamar untuk membukanya. Bungkusan itu berisi sebuah buku. Sebuah buku yang memang sudah lama ingin aku baca, tapi belum ada kesempatan untuk meminjam dan membacanya. Ada pesan di atasnya dan pesan itu membuatku tersenyum haru, dan lagi lagi speechless. Apa katanya di pesan itu? Kalian mau tau?
“Yul, aku gak mau minjemin sirahku ah... Jadi kado sesi 2 aja ya.. Hihi :p”
Membaca pesan itu aku jadi ketawa sendiri. Sebelumnya aku memang berniat untuk pinjam buku itu pada dia, tepatnya buku Sirah Nabawiyah karangan Al-Mubarakfuri. Tapi sesuai pesannya tadi, dia tidak mau meminjamkannya tapi malah memberikan buku itu padaku sebagai kado sesi 2.
ini dia nih bukunya :D
 Kado sesi 2, haha, kedengaran aneh ya buat kalian. Aku sendiri tidak menyangka ternyata dia masih inget kado sesi 2 yang dia janjiin di selembar kertas yang dia berikan saat dia nganterin kado miladku ke stasiun Jakarta Kota tujuh bulan yang lalu. Jujur aja nih, saat kembali ke Bogor kemarin aku sempet nyinggung kado sesi 2 itu untuk bercanda, beneran, itu sebenarnya bercanda untuk jadi alasan aku mengucapkan terima kasih pada dia, karena setelahnya aku hampir saja lupa dengan kado sesi 2 itu. Sampai kemarin saat aku menerima bungkusan yang diberikan Ulfi, kado sesi 2 dari dia yang membuat aku kembali ingat.  Dan aku bahagia punya saudari seperti dia... :’)

“Aku tidak tau apa yang harus aku ucapkan saat aku membuka bungkusan yang kau berikan, benar-benar speechless dan yah terharu. Ah, aku saja hampir lupa kado sesi 2 itu dan kini kau mengingatkannya dengan buku Sirah itu. Alhamdulillah, karna itu aku bersyukur atas dua hal. Karna Allah mengizinkan aku memiliki buku itu lewat perantaramu dan yang paling penting adalah karna Allah telah memberiku saudari terbaik dari yang terbaik seperti kamu. Jazakillah khairan katsir, Ukhti Nisa sayang :) Kau memang saudari terbaik sedunia... :D”

Teruntuk dia, saudariku, Annisa Sophia --> “Blue Cloud”  :)

Rabu, 05 Desember 2012

Tiba-Tiba Aku Rindu...









Tiba-tiba aku rindu
Pada sosok seorang kakak
Seorang kakak perempuanku satu-satunya

Ah, aku memang terlalu
Mendambakan sosok kakak laki-laki yang sejatinya memang tak kumiliki
Malah tak menghiraukan dia, yang nyata terlahir dari rahim ibu yang sama
Sayang? Tentu saja aku sayang sedari aku mulai mengenalnya
Apapun yang ia minta, selalu untuk aku bisa lakukan
Tapi, entah kenapa dulu hati ini seringkali berontak
Berontak untuk benar-benar menyayanginya
Kenapa? entahlah...
Aku merasa dia tak benar-benar menyayangiku
Meskipun sebenarnya aku tak pernah tahu

Tiba-tiba aku rindu...
Pada dia yang kini jauh dariku
Manusia memang selalu begitu, terlalu munafik untuk jujur pada diri-sendiri
Saat dekat, tak saling menghiraukan, kadang merasa tak berharga
Tapi saat jarak memisahkan, rindu memendam dalam hati
Seperti aku kini yang merindunya, Kakakku...

Ingin rasanya, sungguh benar-benar ingin...
Ingin ungkapkan rasa cinta dan sayang yang begitu membuncah
Ingin mencium kening dan pipinya sebagai tanda bakti dari seorang adik
Ingin memeluknya, menguatkan raganya jika lemah, menguatkan hatinya yang kini gundah
Ingin rasanya, sungguh benar-benar ingin...

Tiba-tiba aku rindu...
Sungguh-sunguh rindu pada dia, Kakakku...

*Rindu yang membuncah
  Teruntuk Kakakku “Yu Iis”
  I Love U because Allah, Semoga Allah senatiasa mempertautkan hati-hati kita hingga dipertemukan di Jannah-Nya... Amin...

Jumat, 23 November 2012

Menulislah...


“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka MENULISLAH” (Al-Ghazali)
Sepenggal kalimat Al-Ghazali yang sarat makna, mengajarkan kita untuk senantiasa menulis dan menulis. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan bodoh dan memiliki ilmu sedikitpun. Hidup adalah proses pembelajaran tanpa henti, tak mengenal tempat, waktu, usia, dan cara. Segala apapun yang kita lakukan adalah proses pembelajaran yang memiliki hikmah di balik itu semua.
Belajar. Itu tugas utama bagi manusia, karena belajar adalah sebuah proses yang dinilai sebagai ibadah jika niat kita ikhlas karena Allah. Dalam Al-Quran Allah bersabda,
"Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Qur’an Al mujadalah 11)
Allah senantiasa meninggikan derajat orang-orang beriman yang memiliki ilmu yang mumpuni sehingga ia  bisa mengerti dan memahami apa yang ia kerjakan dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang beriman dan berilmu juga akan senantiasa tahu bagaimana caranya melakukan ibadah dengan benar sehingga ia bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Qs. Al-‘Alaq: 1-5)
Ayat Al-Quran diatas menjelaskan bahwa Allah mengajar manusia dengan dua perantara, yakni baca dan tulis. Hal pertama yang kita pelajari saat duduk di bangku sekolah adalah adalah membaca. Mengenali huruf-huruf dan menrangkainya menjadi kata per kata. Rajin membaca akan menambah banyak wawasan untuk kita mengerti dunia yang berada di luar kita. Dengan membaca segala hal yang tak kita ketahui menjadi hal yang tak lagi asing bagi kita. Buku adalah jendela dunia, tentu saja jika kita rajin untuk membacanya. Kita bisa mengetahui seluruh dunia dalam sekejap meskipun kita tidak pergi kemana-mana, hanya cukup duduk dan membaca.
Allah juga mengajar manusia dengan perantara tulis. Yah, menulis. Suatu hal yang tidak sulit, tapi juga tidak terlalu mudah. Menulis adalah hal kedua yang kita pelajari setelah kita bisa membaca. Mengenali huruf dan menuliskannya. Merangkaikannya hingga menjadi sebuah kata yang bermakna, menjadi sebuah kalimat yang indah.
Dunia menulis bukanlah merupakan hal yang baru bagi ku. Aku sudah mulai melakoninya dari saat masa SMP. Hanya saja waktu itu belum terlalu manfaat dari menulis dan menghasilkan sebuah karya, jadinya aktivitas itu berlangsung ketika aku mau saja. Akan tetapi belakangan ini, tepatnya satu tahun yang lalu aku bertemu dengan teman-teman yang aktif dalam menulis. Mereka yang membuatku mengerti akan pentingnya menulis. Tulis apa saja yang ada dalam pikiran. Tuangkan ia dalam untaian kalimat-kalimat yang lahir dari goresan pena tangan kita. Seberapapun bagusnya, atau bahkan seberapapun jeleknya, teruslah menulis karena itu adalah pembelajaran dan suatu saat nanti kita akan merasakan manfaatnya. Setahun aku lakukan, tak banyak memang dan tak juga bisa dibilang bagus, tapi aku hanya ingin menulis dan meski sedikit kini aku merasakan manfaatnya. Kemampuan menulisku bisa dengan lumayan cepat meningkat.
Kawan,
Jangan takut untuk menulis. Dengan menulis kita bebas mengekspresikan siapa diri kita. Saat kita butuh teman di saat sedih, tulislah di selembar kertas apa yang kita rasakan dan kesedihan itu juga akan hilang bersama datangnya kelegaan karena kita bisa menceritakan kesedihan itu walau dalam selembar kertas. Ketika kita bahagia, tulislah juga kisah itu dalam selembar kertas dan berikanlah kepada sahabat-sahabat kita sebagai rasa syukur, juga  motivasi kepada orang lain atas kebahagiaan yang kita raih.
Ikatlah ilmu dengan menulis.
Itu kata peribahasa. Manusia memang tempatnya lupa. Sekuat apapun daya ingat seorang manusia, suatu saat ia juga akan mengalami hal yang namanya lupa, dan hal yang paling efektif untuk mengatasi masalah lupa itu adalah dengan menulis, karena semuanya tersimpan rapi dalam berkas-berkas nyata, tidak abstrak yang hanya berupa ingatan. Maka darinya (menulis) kau akan belajar banyak hal.
Tulislah apa yang ada di otak kita, walau itu secuil. Secuil ilmu yang kita tulis dan dibaca serta dipahami oleh orang lain akan menjadi ladang amal bagi kita. Maka janganlah ragu untuk menulis dan berbagi kepada orang lain, bahkan kepada orang yang tak kita kenal. Amal jariyah menanti kita.
Menulislah dan kita akan menjelajah dunia. Tak hanya membaca yang menjadi jendela dunia. Kitalah yang menggenggam dunia karena setiap tempat yang kau tuliskan itu bergantung dari diri kita, terserah pada imaji yang hadir dalam otak kita. Menulislah maka dunia menjadi milik kita.
Sebuah cerita tentang seorang kawan. Ia begitu rajinnya menulis, menuangkan ide-ide briliannya dalam untaian kata-kata penuh makna. Menuliskan apapun yang ia temui dalam kehidupannya dan membagikannya bagi sahabatnya-sahabatnya. Hal ini membuatnya jadi pribadi yang disukai oleh para sahabatnya, menjadi seorang yang cerdas, dan tanggap dalam menangani masalah. Lain lagi dengan teman yang berbeda, yang karena karya yang ia tulis dapat membawanya terbang hingga ke dunia yang bahkan tak ada bayangannya. Menurut mereka itu adalah prestasi, walau pun tak bisa di nilai dengan uang. Kerena prestasi bukan hanya dinilai dari akademik ataupun memenangkan perlombaan bukan? Prestasi adalah mewujudkan apa yang dicitakan, dan mereka telah menggapai apa yang dicitakan. Aku pun juga ingin begitu, menggapai citaku, menciptakan karyaku. Kau juga begitu kan kawan? Tuliskanlah, dan kau akan menemui bahwa prestasi-prestasi itu sedang menunggu untuk kau raih....
Ah, iya. Ada satu hal yang sedikit menggangu pikiranku, mungkin agak sedikit tidak nyambung, tapi tak bisa untuk tidak aku tuliskan. Kawan, percayakah kalian bahwa dengan karya yang berasal dari goresan pena-pena kita bisa menjadi penentu kehidupan bangsa? Aku percaya, kawan, dan kebanyakan dari kalian juga percaya, bukan? Sebuah tulisan itu punya kekuatan, kekuatan yang bahkan tak bisa di bandingkan dengan kekuatan harta atau kekuasaan. Kekuatan itu berasal dari kita, dari sang penulis. Maka menulislah dan sebarkanlah kebenaran serta kebaikan, negeri ini sedang mebutuhkan kalian untuk mengalahkan uang dan jabatan...

Kawan, Menulislah....
Menulislah...   
Kau akan banyak belajar, tentang makna setiap inci kehidupan...
Menulislah...
Kau akan banyak mengajar, berbagi ilmu bahkan pada orang yang tak kau kenal...
Menulislah...
Kau akan bebas mengekspresikan dirimu, suka, duka, resah, bahagia, hingga seluruh rasa...
Menulislah...
Kau selalu bisa jadi dirimu sendiri, menjadi apa yang kau ingin dan kau impikan...
Menulislah...
Kau akan menjelajahi dunia, tak berbatas jarak dan waktu, hingga di ujung cakrawala...
Menulislah...
Dan prestasi-prestasi itu setia menunggu untuk kau raih...

Ayo menulis...
Ayo berprestasi...
Berkreasi tanpa batas...!!! :D
23:23 A.M
21-11-12
(yuli astutik)

Kamis, 11 Oktober 2012

Quote #4

Kadang hidup ini dirasa tidak adil, tapi ternyata justru itulah keadilan dari-Nya....