Minggu, 06 Mei 2012

Tentang Pemimpin dan Sebuah Tindakan


Ketika sumpah telah terucap, maka tak ada kompensasi pada setiap pelanggaran.
Ketika keputusan telah diambil, maka berpegangteguhlah pada komitmen.
Ketika konsistensi dipertanyakan, maka keprofesionalanlah yang harus di jaga.

Otakku dan tanganku yang berkoordinasi tiba-tiba saja menciptakan tiga kalimat diatas. Karna berbagai hal dan mungkin dan salah satunya adalah kejadian yang aku alami belakangan ini. Belakangan ini tiba-tiba saja aku merasa seperti jadi peneror dan pengacau.
Aku mengacaukan rapat yang riang minggu kemaren dengan berbagai permasalahan yang aku ungkapkan. Permasalahan itu berkaitan dengan komiten, keprofesionalan, dan sumpah atau janji. Jujur saja aku sudah bosan memikirkan masalah yang berlarut-larut di organisasi yang kini aku berada didalamnya. Benar-benar diabaikan dan seolah terlupakan. Malam yang ceria itu berubah jadi tegang saat aku menyampaikan segala unek-unek di akhir rapat, meskipun aku jadi puas karena mereka akhirnya ingat akan permasalahan yang seolah terlupakan itu. Dan akupun juga senang karena masalah itu menemui titik terang. Dan aku tau saat itu aku jadi pengacau, meski bagiku pengacau yang bermanfaat.
Aku pun seolah melakukan teror kepada seseorang. Seorang pemimpin yang bagus sebenarnya, hanya saja mungkin dia memang butuh seseorang untuk mengingatkan. Jadilah aku tiap waktu meng-sms dia untuk mengingatkan dan menanyakan berbagai hal. Sebelumnya dia sudah ada yang sering mengingatkan, hanya saja aku melihat orang itu terlalu lelah dalam mengingatkan karna lumayan bebalnya dia sebagai pemimpin yang kadang-kadang mengutamakan egonya. Melihat itu aku hanya ingin membantunya saja sebisaku, agar dia bisa ingat akan berbagai tugas-tugasnya sebagai pemimpin. Yah,,, hitung-hitung sebagai caraku untuk belajar menghadapi seorang pemimpin seperti dia yang selain egonya tinggi, emosionalnya juga tinggi. Bukan hal yang mudah memang, hanya saja memang harus dicoba dulu, ya kan???
Terlepas dari kedua kosa kata penggambaranku di atas, semoga saja apa yang aku lakukan ini merupakan tindakan yang benar dan menimbulkan dampak yang positif ke depannya. Manusia memang sepatutnya berusaha, terlepas dari benar atau salah, baik atau buruk, hanya Allah yang tahu.
Sekarang kita fokuskan tulisan ini pada satu kata, yaitu PEMIMPIN...
Singkat saja tentang pemimpin karena saya juga bingung kalau membahas sesuatu terlalu panjang, bertele-tele dan bahkan mungkin jadinya kemana-mana.  So, Pemimpin adalah.....
Setiap manusia adalah pemimpin. Kalimat itu benar adanya dan tak pernah bisa disanggah karna sudah termaktub dalam Al-Quran. Manusia dilahirkan sebagai khalifah di dunia. Setidaknya manusia adalah pemimpin bagi dirinya-sendiri. Dia seharusnya bisa mengatur dirinya sendiri dan mengendalikan emosinya sendiri.
Bagiku seorang pemimpin adalah sosok yang seharusnya bersahaja, bukan berkharisma. Karena ketika kebersahajaan tertanam dalam jiwa seseorang, ia akan mencipta kharisma unik yang khas tentang dirinya. Dia akan menjadi teladan bagi para anggotanya sehingga dia juga harus tampil sesempurna mungkin didepan para anggotanya, meskipun sejatinya ia memang tak sempurna karena dia memang hanyalah manusia biasa.
Pemimpin tak akan pernah takut. Dia akan menjadi orang yang paling berani dari pada yang lain dan dia juga orang yang maju pertama kali dalam menghadapi masalah. Tapi dia bukan tameng bagi anggotanya karena dia lagi-lagi bukan dewa yang punya segala bentuk kekuatan. Dia tetap seorang manusia yang memiliki titik terlemah dan kelemahan dalam dirinya.
Satu lagi, pemimpin tidak pernah mundur ataupun angkat tangan dari tugasnya. Bukanlah pemimpin jika hanya karena egonya, dia meninggalkan anggotanya yang ada dalam masalah. Manusia yang lari dari masalah adalah manusia pengecut yang tak punya harga diri dan tak patut dihargai ataupun dihormati. Sebaik-baik pemimpin adalah dia yang tetap maju dan tegar dalam menghadapi setiap permasalahan, kecil ataupun besar, dan meskipun pada akhirnya mengalami kegagalan. Dia sungguh pemimpin yang baik.
Subjektif mungkin. Tulisan ini benar terkesan subjektif karena hanya menganut satu pendapat, hanyalah pendapat-pendapatku. Karena aku ingin memiliki pemimpin seperti yang ada dalam bayanganku, seperti yang aku katakan di atas. Dan pun aku ingin menjadi pemimpin itu. Pemimpin terbaik meskipun tak sempurna.(ya)

Jejak Cinta di Tapak Batas Cakrawala Biru
-Yuli Astutik-                         

Selasa, 24 April 2012

No title.....


Tentang sebuah pemikiran
Pemikiran yang selalu berbeda bagi tiap orangnya
Anngapan yang pun tak selalu sama tiap individu manusia
Entah negatif atau pun bahkan positif...
Dan aku tak habis pikir
Pemikiran yang susah dibangun
Perlu perjuangan yang lumayan berat
Dan mungkin baru setengahnya jadi
Tapi kini malah dibiarkan bak anak ayam kehilangan induknya...
Ah,,,,
Apakah aku bisa???
Aku memang tak sepenuhnya sendiri dalam membangun pemikiran itu
Tapi jika jadi minoritas
Sanggupkah kami tak tergoyahkan???
Aku sendiri takut
Takut bila pemikiran ini ikut tergoyah
Retak dan akhirnya runtuh tak berbekas
Berubah menjadi yang sebenarnya tak aku inginkan
Aku takut...
Dan itu membuatku terpikir untuk MUNDUR
Aku ingin MUNDUR...
Entahlah...

#mengingat masa bersama mereka saat membangun idealisme dan pemikiran bersama untuk menjadi lebih baik... rasanya tanpa mereka, aku tak bisa...

Senin, 23 April 2012

Nulis lagi....


Akhirnya.....
Berjumpa lagi dengan saya yang seorang penulis amatir. Sudah sangat lama rasanya tidak posting di blog ini, postingan terakhir hanya berupa kutipan sebuah syair tentang dakwah bukan tulisan yang lahir dari tangan saya sendiri. Maka benar-benar matirlah saya ini. Udah tulisannya belum cukup bermutu, ditambah gak produktif juga dalam menulis. Entah karena saya mulai disibukkan dengan dinamika kampus atau saya yang sok sibuk di kampus. Kalau bilang saya sibuk, saya belum sesibuk seperti Alkadri yang aktif di berbagai kegiatan dan komunitas dan juga disibukkan dengan berbagai tugas kuliah tapi dia tetap poduktif dalm menulis dan posting di blognya yang bisa dilihat disini atau disini. Saya juga belum seperti teman-teman saya yang lainnya yang meskipun dilimpahi amanah yang begitu banyak tapi tetap berusaha untuk produktif dalam bidang baik itu menulis, gambar, bahkan nyanyi sekalipun. Nah saya hanya sok sibuk di kampus, padahal sebenarnya dengan berbagai kesibukan itu, waktu-waktu senggang yang saya rasakan masih sangat sering. Dan ternyata saya masih belum bisa mengefektifkan waktu senggang saya itu untuk menulis. Alasan utamanya adalah sifat saya yang masih suka malas untuk mengerjakan sesuatu, sifat buruk yang harus segera dihilangkan, dan ternyata belum hilang-hilang juga sampai sekarang.
Nah, sekarang kita kembali ke topik yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Ini tentang beberapa orang teristimewa dalam hidup saya, tentang pengalaman-pengalaman yang saya alami dan tentang sebuah releksi dan hikmah yang saya dapatkan selama saya menghilang dan tidak posting di blog ini. Kemungkinan postingan ini akan sangat panjang, jadi jangan bosan yak... XD
Awal tahun 2012 saya mulai disibukkan dengan beberapa hal, terutama mulai disibukkan dengan kuliah di semester empat yang dimulai pada bulan februari. Gak terasa saya sudah 1,5 tahun di IPB, rasanya baru kemarin menjalani masa-masa MPKMB, entah disambut ataupun menyambut. Nah, selain kesibukan di kuliah, sejak januari saya mulai disibukkan dengan agenda organisasi yang saya ikuti. Tingkat dua di IPB saya isi denga mengikuti dua organisasi yakni DPM Fakultas Ekonomi Manajemen dan menjadi utusan DPM FEM untuk menjadi anggota MPM KM IPB dimana saya juga terpilih enjadi BPH di organisasi tersebut. Dua organisasi tersebut merupakan ranah yang sangat baru bagi saya dimana pada tingkat satu saat di asrama saya tidak ikut organisasi apapun di kampus, hanya sekedar jadi pengurus gedung asrama. Maka jadilah saya harus banyak belajar tentang dunia legislatif dan konstitusi yang memang banyak menyita waktu untuk rapat, rapat, dan rapat. Memang itulah tugas seorang DPM dan MPM, rapat.
Selain disibukkan dengan kuliah dan organisasi, saya juga disibukkan dengan sebuah kewajiban. Kewajiban seorang muslim untuk mensyi’arkan ISLAM. Gak muluk-muluk sih, saya hanya ingin mengaktifkan rohis kelas departemen saya di departemen Manajemen IPB. Alhamdulillah, sejauh ini selama kurang lebih sembilan bulan sejak masuk departemen, Rohis kelas manajemen sudah mulai hidup dengan berbagai kegiatan syiar dan semoga saja akan terus berkembang seiring berjalannnya waktu.
Dengan berbagai kesibukan itu, hampir saja saya melupakan sesuatu. Ulang tahun salah seorang teman terbaik saya yang jatuh pada bulan februari yang juga merupakan puncak kesibukanku meskipun masih dalam  masa liburan UAS semester ganjil. Sebenarnya sih bukan lupa kalau dia ulang tahun pada tanggal 9 Februari kemarin, tepatnya lupa dan gak sempet saking (sok) sibuknya untuk memberikan ucapan. Alhasil dengan rencana memberi  kejutan untuk memberi hadiah sebuah tulisan pendek tentang dia, tapi lagi-lagi saking (sok) sibuknya hadiah tulisan itu belum terealisasikan sampai saat ini, dua bulan telah lewat dari hari ulang tahunnya. Dan dalam dua bulan itu saya sungguh benar-benar membuat dia kecewa karena saya cuekin, tiap kali dia sms sering saya abaikan secara sengaja untuk surprise, tapi bukannya bikin surprise malah bikin dia kesal sama saya. Saya jadi benar-benar gak enak sama teman saya itu, seolah-olah saya teman yang melupakan teman terbaiknya, yah lagi-lagi alasan yang saya berikan kemarin adalah kesibukan, sok sibuk –lagi-.
Kemarin saat saya pulang kampung ke Madura dikarenakan ada acara nikahan, yang jelas bukan saya yang nikah,hehe. Nah saat pulang itulah kesempatan saya untuk ngasih kejutan buat teman saya itu, jadinya sebelum pulang saya udah beliin hadiah neh buat dia. Sayangnya dia ternyata gak pulang ke Pamekasan karna UTS katanya, jadinya saya hanya berniat untuk mengantarkan hadiah yang saya beli itu kerumahnya untuk dititipkan ke ibunya saja biar ntar jadi kejutan tersendiri. Masalahnya, saya kalo dirumah bawaannya makin malas ngapa-ngapain, jangankan untuk keluar rumah, dirumah aja kerjaannya cuma makan ama tidur. Alhasil, karna kemalasan saya itulah yang membuat saya mengantarkan hadiah kerumah teman saya itu pada hari terakhir sebelum saya ke Bogor dan tanpa sepatah pesan apapun. Kalo seandainya buka saya titipkan hadiah itu sama ibunya, itu hadiah bisa dianggap hadiah kaleng yang misterius, hehehe... XD
Dan sepatah pesan itu ingin saya sampaikan disini, semoga yang bersangkutan membacanya...

Kawan, tak terasa tujuh tahun telah kita lewati bersama dalam suka maupun duka. Dari zaman SMP yang masih ingusan, sampai masa SMA yang mulai kenal arti cinta, hingga kuliah dan proses menuju dewasa yang matang. Meski terpisah jarak, kau tau hati kita selalu bersama. Do'aku akan selalu  bersamamu, karna kau telah menempati ruang istimewa dalam hatiku. Dan kau akan selalu menjadi sahabat terbaik dalam hidupku.
Atin Hasanah,,,, I Miss You Forever... :D hehehe

Oke, untuk teman-teman pembaca postingan ini, tunggu postingan selanjutnya.... :)

Sabtu, 11 Februari 2012

N.E.K.A.T


Nekat
Satu kata yang telah membuatku berani.
Berani melakukan apa yang tidak berani mereka lakukan.
Berani untuk berkarya dan berkreatifitas seluas-luasnya.
Juga berani menjadi apa yang aku mau.
Nekat
Satu kata yang membuatku percaya.
Percaya bahwa kehidupan berpihak padaku.
Percaya pada kekuatan dan kelemahan diri.
Juga percaya akan kuasa-Nya yang tak terbatas.
Nekat
Satu kata yang membuatku dipercaya.
Dipercaya bahwa aku bisa.
Dipercaya bahwa aku sanggup melakukannya.
Juga dipercaya untuk mengemban apa yang disebut amanah.
Nekat
Satu kata yang slalu membuatku tersenyum.
Tersenyum karna berada ditengah orang-orang hebat.
Tersenyum bersama perjuangan yang tak pernah henti.
Dan tersenyum bangga saat kesuksesan telah sama-sama kita genggam.

Aku tau di balik rasa NEKAT itu, Dia ada di belakangku.
Tak pernah sedetikpun meninggalkan kesendirianku.
Karna-Nya, rasa nekat itu menempel lekat di hatiku.
Untuk membuatku bisa tegar dalam menjalani kehidupan.
Untuk membuatku kuat meniti alur kisahku yang penuh kerumitan.
Atas izin-Nya aku berdiri disini untuk menghadapi  apa yang disebut kenyataan.
Kenyataan yang manis atau bahkan yang sangat pahit.
Semuanya, seluruhnya, seantero hidup, sepanjang waktu, dan seluas jagad.
Karna Mu, ya Rabb...
Sungguh itu karna Mu...

Catatan Singkat Hatiku^^

Semburat Jejak Cinta
di Batas Cakrawala Biru

Jumat, 03 Februari 2012

CARI PASANGAN


Mari mari marilah
Dengarlah ini kisah silam,  oh kawan
Sangatlah berguna
Moga hidup aman bahgia

Di malam yang pertama jumpa mertua
Tersentak si jejaka diberitakan
Istrinya tidak sempurna rupa
Anggota dzahirnya lumpuh semua
Tiada upaya mengurus diri

Terkejut si jejaka penuh persoalan dihatinya
Mungkinlah sudah jodoh itulah istrinya
Ibanya rasa hati namun ridho pada takdir
Asalkan punya iman itulah paling penting

Saat-saat berjumpa
Terpesona memandang
Benarkah istrinya menawan sungguh cantik

Cari cari carilah
Pasangan hidup betul-betul, oh kawan
Bahgia berseri
Rumah tangga akan harmoni

Terhurai dijawablah oleh mertua
Dzahirnya tak sempurna kiasan saja
Memberi makna sucinya diri
Wanita shalihah terpelihara
Terharu jejaka tunduk bersyukur

Jangan mudah percaya harta pangkat dan rupa
Indahnya di mata, berawaslah
Rasul sudah bersabda
Insan punya agama
Akhlaknya mulia, pahamilah

STOP...
Jangan dulu berpikiran yang aneh tentang judul di catatan ini. Bukan karena judulnya cari pasangan jadi penulisnya dipikir kebelet buat nyari pasangan dan pengen nikah,hehehe... Itu hanya sekedar judul yang berhubungan dengan masalah yang akan saya angkat kali ini. So, ayo dibaca... :D
Lirik diatas adalah lirik sebuah lagu nasyid yang dinyanyikan oleh seorang grup nasyid melayu. Saat SMA dulu saya sering mendengarkannya karna dirumah ada kaset tape-nya yang seerig saya setel. Tapi semenjak kuliah dan tidak lagi mendengarkan lagu ini, saya jadi terlupa. Lalu Desember kemarin saat saya pulang kampun ke Pamekasan, kembali saya mendengar lagu ini dari tape kesayangan saya. Saya juga menemukannya di laptop milik tante saya. Alhasil saya mengkopinya ke memory HP saya. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin mengangkat kisah yang tersirat dalam lirik lagu ‘Cari Pasangan’ yang dibawakan oleh grup nasyid asal Malaysia tersebut. Ada yang tau apa nama grupnya? Nantilah saya kasih tau.
Nah sesuai dengan judul catatan ini dan juga judul dari lirik lagu ini yaitu “Cari Pasangan”, maka saya akan mengulas suatu kisah. Kisah penuh hikmah tentang seorang pemuda seperti yang diceritakan dalam lirik lagu di atas. Sejauh ini teman-teman bisa tidak nebak kisah di atas kisah siapa? Ayo, sebelum saya ceritakan lebih lanjut teman harus bisa menebaknya. Saya tunggu sampai hitungan ke-3 ya.... :p

Satu.....

Dua.....

Tiga....

Yak, kisah ini adalah kisah seorang pemuda bernama Idris. Saya pernah membaca kisah ini dalam sebuah buku motivasi, hanya saja buku itu kini entah ada dimana. Karna saya agak lupa rincian jalan ceritanya, dari pada saya salah menceritakan sejarah ini, makanya saya cari-cari dulu tentang kisah ini dan ini.  Kisah ini Insya Allah menginspirasi kalian semua.

Idris, pemuda shaleh ini suatu hari akan berangkat mengaji. Namun sebelum sampai ditempat yang ditujunya, ia menemukan sebuah delima yang hanyut disungai yang dilewatinya. Merah dan ranumnya delima membuat ia tergoda untuk merasakan segarnya buah tersebut.  Dengan sigap ia mengambil dan tanpa pikir panjang ia mulai melahap gigitan demi gigitan buah delima yang ia temukan tersebut. Namun tak lama kemudian, Idris baru menyadari akan suatu hal. Dirinya mulai bertanya, “Siapakah pemilik delima yang aku makan ini?” Idris lalu menyadari bahwa ia belum meminta izin kepada pemilik buah delima tersebut berarti delia itu belumlah halal untuk ia makan. Terbersit rasa penyesalan dalam hatinya karna telah khilaf memakan buah delima yang ia temukan tanpa seizin dari pemiliknya. Lama Idris merenung, teringat akan ajaran yang diberikan oleh gurunya, bahwa makanan haram yang masuk ke dalam badan dan pakaian yang haram menutup badan dapat menyebabkan terhambatnya do’a. “Oh Tuhan, ampunilah aku. Bagaimana caraku untuk membersihkan kesalahanku?” Dan penyesalan yang tiada terbilangpun memenuhi hati Idris, sang pemuda beriman.
Setelah merenung bingung beberapa waktu berselang, akhirnya diperoleh cara untuk menyelesaikannya, "Aku harus mencari pemilik delima, untuk meminta keikhlasan atasnya." Akhirnya, Idris menyusuri tepian sungai, berusaha mencari pemilik delima tadi. Delima yang tinggal setengah masih pula di genggam sebagai bukti nanti kalau-kalau sang pemilik meminta delimanya  kembali.
Lama Idris berjalan menyusuri sungai itu, hingga akhirnya ia bertemu dengan sebuah perkebunan yang ditumbuhi pohon delima yang menjorok ke sungai. Setelah mengamati dan mencocokkan dengan delima yang masih ada di pohon,  Idris pun menyangka dari pohon itulah delima yang ia makan berasal. Setelah ia yakin benar, Idris lantas mencari pemilik sang pemilik kebun.
Setelah bertemu dengan pemilik kebun yang seorang lelaki paruh baya, Idris berkata tenang, “Maaf pak, saya kesini untuk meminta keikhlasan bapak atas kekhilafan yang telah saya lakukan.” Kata Idris membuka pembicaraan.
Lelaki paruh baya yang sudah ditumbuhi uban itu mengerutkan wajah, heran. Pemuda asing yang datang ini langsung mengajukan permintaan maaf yang ia tak tau apa kesalahannya.
"Apa gerangan yang membuat anda meminta maaf dan keikhlasan, padahal kita baru saja berjumpa? Saya sangat yakin tak ada kekeliruan diantara kita berdua." Jawab lelaki setengah baya.
"Begini pak,” Dijelaskanlah semua permasalahan yang telah menimpa dirinya dari awal hingga pertemuan mereka. Mendengar penjelasan tersebut, lelaki paruh baya tersebut terkejut, "Subhanallah", bibirnya sontak bergumam memuji Allah.

Nah, saya potong dulu ceritanya. Sampai saat ini apa hikmah yang terbetik dalam benak teman-teman sekalian setelah membaca kisah diatas? Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia seperti Idris yang sangat shaleh dan penuh tanggung jawab. Penyesalan yang tiada terkira serta rasa berdosa karna memakan sebuah delima yang tak sengaja ia temukan hanyut di sungai. Saya tekankan sekali lagi, ia memakan delima yang hanyut di sungai, bukan delima yang ia temukan dibawah pohonnya apalagi masih bergelantungan di pohonnya. Sedangkan kita? Terkadang kita menggunakan fasilitas yang sebenarnya bukan milik kita. Terlebih saya yang terlalu sering melupakan perkara yang sangat sepele tersebut. Kita dan terlebih saya, masih sangat jauh dari hal-hal seperti yang di lakukan oleh Idris, pemuda yang penuh dengan tanggung jawab. Ia benar-benar berusaha untuk tidak mencemari dirinya dengan dosa sekecil apapun. Masalah yang mungkin menurut orang lain sangat sepele, tapi baginya perkara itu sangat membebani hatinya karena dosa yang akan ditanggungnya.
Subhanallah...
Allahu Akbar...
Semoga mulai dari saat ini kita bisa meneladani rasa tanggung jawab beliau. Amin...
Yuk, kita baca lanjutan kisahnya...


Beberapa saat laki-laki paruh baya itu terdiam, ia seolah terhipnotis oleh akhlaq laki-laki asing yang kini berada di depannya. "Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki yang begitu bersemangat menjaga dan mencegah diri dari dosa, padahal bisa saja ia melupakan perkara itu begitu saja. Tapi laki-laki muda ini sangat aneh, dan jarang kutemui." Pak Tua membatin.
Lain halnya dengan Idris, Ia justru dilanda kekhawatiran tiada terkira, jangan-jangan Pak Tua tak mau memaafkannya, "Bagaimana, Pak, bisakah aku dimaafkan dan delima yang aku makan ini diikhlaskan?"
Pak tua lantas memberi jawaban dengan wajah yang dibuat-buat agar menimbulkan keangkeran, "Aku mau menerima maafmu, asal kamu mau menerima persyaratanku."
"Oh saya mau Pak, apapun persyaratan yang bapak ajukan, aku mau melakukan, asal bapak mau mengikhlaskan, " sambut Idris berseri-seri, karena melihat peluang untuk dapat diampuni.
"Begini Nak, "kata Pak Tua mulai menjelaskan serius, "Aku punya seorang anak perempuan tunggal yang tuli, bisu, buta, dan lumpuh."
"Lantas?" tanya si Idris penasaran.
"Aku menghendakimu menjadi menantuku, mengawini putriku. Itulah satu-satunya syarat yang kuajukan agar delima yang telah engkau makan dapat aku ihklaskan," jelas Pak Tua sejelas-jelasnya.
"Innalillah," desis hati si Idris ketika mendengar penjelasan dari pak tua di depannya, "Bagaimana mungkin hanya untuk mendapatkan keikhlasan sebuah delima harus aku tebus dengan mengawini wanita cacat segalanya. Apakah cara ini cukup adil?" Kelihatan sekali kening pemuda Idris berkerut, mempertimbangkan dan memikirkan keputusan yang sangat berat.
Pak Tua memperlihatikan pemuda Idris dengan seksama lantas bertanya malah terkesan setengah memaksa, "Bagaimana Nak?" Memang itu saja persyaratanku."
Idris terdiam, tampak memikirkan dengan begitu mendalam. Sejenak kemudian ia mengangkat wajah, mendesah berat, lantas memberikan jawaban, "Kalau memang hanya cara itu yang bisa membuat Bapak memaafkan kesalahanku maka aku harus menyanggupinya wahai Pak Tua."

Sebenarnya saya pengen berkomentar di penggalan kisah ini, tapi saya benar-benar spechless bacanya, jadi bingung mau berkomentar apa. Yah, silahkan teman-teman meresapi kisah ini dengan sungguh-sungguh, betapa luasnya hati pemuda baik bernama Idris tersebut. Demi mendapatkan sebuah maaf dari kesalahan yang mungkin menurut kita amat sangat sepele, ia rela menerima apapun permintaan yang di ajukan oleh pak tua pemilik kebun. Yah, semua yang ia lakukan hanya untuk satu tujuan yaitu mendapat pengampunan dosa dari Sang Mahapengampun, Allah SWT.

Mendengar jawaban Idris, lelaki paruh baya itu tersenyum bahagia lantas bicara, "Aku ikhlas memberi ampunan, aku harap kaupun ikhlas menerima persyaratan."
"Aku ikhlas," tukas Idris lugas, sambil menyodorkan sebuah jabat tangan.
"Kalau begitu, sebelum aku mengawinkanmu, kupersilakan kau melihat calon istrimu dahulu.” Kata Pak Tua, sambil mempersilakan pemuda Idris melihat calon istrinya di ruang tengah. Idris segera beranjak, menuju ruang yang ditunjukkan. Dengan tangan sedikit kaku, didorongnya gagang pintu dengan hati berdebar tak menentu karena matanya akan segera menatap calon istri yang cacat segala rupa.
"Bagaimana bentuk wanita calonku ini, yang cacat segalanya, buta, tuli, lumpuh, bisu?" Beberapa saat pintu terbuka hampir tak berbunyi. Di lihatnya sorang wanita jelita yang tampaknya sedang merenda. Hanya dia dan tak ada lagi wanita lainnya. Bingung. Pintu ditutup kembali sama pelannya ketika ia membuka lantas menemui pak tua, Ayah dari calon istrinya. "Pak, aku tak melihat orang lain di dalam sana,kecuali hanya seorang wanita yang sedang merenda."
Pak Tua tersenyum lantas berujar, "Dialah calon istrimu."
"Oh Tuhan, bagaimana bisa begitu? Bukankah Bapak tadi menyebut calonku seorang buta, tuli, lumpuh, dan bisu? Sedangkan yang didalam sana seorang wanita yang sangat jelita dengan muka ranum bak delima?" tanya pemuda Idris setengah tak percaya. Hatinya berdebar kencang.
"Begini anakku. Dia memang buta dalam soal melihat kemaksiatan. Dia memang tuli dalam mendengar pembicaraan yang dapat menimbulkan murka Allah. Dia memang bisu untuk mengucapkan makian dan lumpuh karena tidak melangkahkan kakinya ke tempat-tempat maksiat, lokasi berkumpulnya syetan. Dia tak pernah bersentuhan dengan segala kemaksiatan, Itulah yang kumaksud bahwa dia buta, tuli, lumpuh, bisu. Karena itulah, tak ada pemuda yang layak menjadi suaminya kecuali orang sepertimu, yang juga menjaga diri dari segala hal yang berkaitan dengan dosa, haram, dan kemaksiatan.
Merekapun dinikahkan. Kebahagian dan ketidakpercayaan masih hadir kala perjalan pasangan ini mengarungi bahtera rumah tangga. Karena niatan Lillah Billah dan Fillah, halangan demi halangan hanya Allah tempat terbaik dalam meminta dan berlindung.

Subhanallah, Mahasuci Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Yang selalu memberikan balasan yang setimpal dengan amalan yang di lakukan oleh setiap makhluknya. Sekecil apapun amalan baik manusia, maka ia akan mendapatkan balasannya. Sebaliknya, sekecil apapun amalan buruk manusia, maka azab Allah sangatlah pedih.

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(Q.S. Al Zalzalah: 7-8)

Dan atas kesabaran Idris serta rasa tanggung jawabnya yang sangat luar biasa, Allah telah memberikan kebaikan baginya.

Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi'i yang tak lain adalah Imam Syafi'i Itulah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram demi memperoleh anak yang saleh. Allah pun mengabulkannya.

Dari kisah di atas terdapat begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan. Kita juga harus selalu memperhatikan setiap makanan yang kita makan, apakah makanan tersebut halal atau haram untuk kita makan. Karena setiap apapun yang kita lakukan dan kita makan, akan diminta pertanggungjawabannya oleh Sang Pemberi balasan.
Kembali ke judul postingan ini, yakni tentang cari pasangan. Hikmah yang bisa saya ambil dari kisah dan lirik lagu diatas adalah bahwa dalam mencari pasangan kita haruslah benar-benar jeli. Bukan hanya dilihat dari segi harta, pangkat, ataupun rupa. Tapi yang paling penting adalah keimanan dan akhlaqnya yang mulia. Wanita siapa yang tidak ingin menikah dengan seorang seorang pemuda yang menjaga dirinya dari dosa? Yang bahkan demi sebuah maaf ia ikhlas menikah dengan wanita yang cacat segala, demi sebuah ampunan dari Allah SWT. Meskipun akhirnya ia tau bahwa calon istrinya cacat karena tidak pernah bersentuhan dalam segala kemaksiatan.
Dan lelaki mana yang tidak ingin menikah dengan seorang wanita yang terjaga dari dosa dan maksiat. Wanita yang bisu, tuli, buta, dan lumpuh untuk melakukan maksiat kepada Allah SWT. Wanita seperti calon istri Idris yang shalehah. Saya pernah mendengar bahwa untuk mencari pasangan perhatikanlah tiga hal, yaitu hartanya, rupanya, dan akhlaqnya. Saat itu saya heran dan bingung dengan maksud pernyataan diatas, hingga akhirnya saya mengerti. Saya mengerti bahwa dengan adanya harta bisa menjadi sarana kita dalam beribadah kepada Allah dengan cara menyedekahkannya di jalan Allah. Dengan rupa yang elok dan menawan, maka akan membuat senang serta bahagia pasangan kita. Meskipun sebenarnya walau tanpa kedua hal tersebut, yakni harta dan rupa. Kenapa? Karena ada satu pondasi yang mampu membuat kita khusuk dalam beribadah serta membahagiakan pasangan kita, pondasi itu adalah iman dan akhlak. Dengan adanya harta yang banyak dan rupa yang elok, tapi tanpa akhlak yang baik, maka hancurlah mereka. Tapi dengan akhlak yang mulia meskipun tanpa harta dan rupa, Allah akan selalu ridho kepada makhluknya yang senantiasa berpegang kepada sabda-Nya dan berjalan di jalan-Nya.
Wallahu’alam bisshawab
Hanya Allah yang Mahatahu. Karena aku hanyalah manusia yang terbatas, terbatas ilmu pengetahuannya. Semoga Allah mengampuni kesalahan atas tulisan-tulisan yang saya buat. Dan semoga tulisan yang saya buat ini bermanfaat bagi orang lain. Amin...

#oh iya, hampir lupa. Nama Grup nasyid asal Malaysia yang menyanyikan lagu mencari pasangan itu namanya "Rabbani". 
*mirip-mirip sama nama teman saya -.-"