Rabu, 27 Juli 2011

ketika Ramadhan tiba...


Ramadhan telah tiba kembali setelah sekian lama kami nantikan. Siapa yng tak menantkan bulan penuh berkh ini? Siapa yang tak mengharapkan ampunan pada bulan ini? Siapa pula yang tak mengharapkan kebahagian dan kesejahteraan di bulan ini? Jawabannya tak ada. Setiap muslim pasti mengharapkan kehadiran bulan yang penuh dengan makrifat ini.
Tak terkecuali mereka. Yah mereka yang tinggal daerah terpencil, mereka yang tinggal di pinggiran sungai bahkan kali, hingga mereka yang di bawah jembatan. Mereka bahagia menyambut datagnya ramadhan. Tetapi yang aneh adalah beberapa dari mereka bukan bahagia karena akan melaksanakan ibadah puasa. Sebagian dari mereka bahagia karena akan begitu banyak dermawan yang membagikan rezeki pada mereka. Karna tak bisa di pungkiri ketika ramadhan tiba, semua orang yang berkecukupan tiba-tiba menjadi seorang yang dermawan bahkan terlalu dermawan.
Ironis. Mereka bahagia karena mereka menunggu uluran tangan sang dermawan untuk membagikan zakat daripada menjalankan puasa yang penuh dengan pahala. Mereka bersiap menyusuri jalan-jalan hendak mencari para dermawan yang akan menggelontorkan sebagian hartanya, dikata sih zakat, tapi malah terkesan jadi pamer.
Setiap tahunnya ketika ramadhan tiba, banyak yang mengulurkan tangan membagikan zakat, tapi ternyata semakin banyak pula mustahiq yang mengulurkan tangan mereka untuk menerima. Mustahiq-mustahiq itu, tidaklah semakin sedikit, malah semakin banyak tiap tahunnya.
Inikah fungsi zakat? Aku rasa bukan.
Bukankah zakat untuk menyejaterakan mereka yang tak berkecukupan, tapi kenapa malah semakin banyak aja yang tak berkecukupan?
Bukankah zakat untuk menyucikan harta mereka yang berkecukupan, tai kenapa malah beberapa dari mereka yang berkecukupan menjadi semakin bejat dan rakus akan harta?
Negeri yang aneh memang.
Tapi bukankah menjadi tugas kita yang harus meluruskn keanehan ini?
Yah, ini memamng tugas kita.
Tugas kita sebagai generasi peubah bangsa.
Menguah bangsa menjadi lebih baik lagi.
Semoga.
Yuli Astutik
27 Juli 2011
Dalam Tapak Batas Cakrawala Biru

Minggu, 10 Juli 2011

Catatan Renungan Ku

Tua itu adalah sebuah kepastian, namun kedewasaan itu merupakan sebuah pilihan.
Sering aku dengar kalimat itu di lontarkan, oleh para motivator, para dosen, murobbi, dan juga sahabat-sahabatku. Nyatanya,usia memang tak bisa dijadikan patokan kedewasaan seseorang karena ketika tua seseorang seolah kembali menjadi seperti anak-anak. Dan mereka yang masih belum cukup umur, bisa bersikap dewasa melebihi orang-orang yang usianya jauh lebih tua darinya. Banyak yang juga bilang zaman sudah berubah, anak kecil menjadi sok dewasa karena mode dan tata cara pergaulan yang telah bergeser dari adab yang seharusnya. Tapi kali ini aku tidak ingin membicarakan masalah perubahan zaman dan pergeseran adab itu. Kini aku ingin mengungkapkan bagaimana diriku sendiri. Mengungkapkan semua yang aku jalani, yang aku hadapi, dan yang aku lakukan hingga saat ini. Yah, hingga di usiaku yang ke-20 saat ini.
Dua puluh tahun sudah aku hidup di dunia ini sejak aku di lahirkan oleh Emakku tercinta, Ibunda Hasirah, 10 Juli 1991 lalu. Beliau bersama Eppa’ tercinta Abd Karim senantiasa merawatku dengan baik, perhatian, serta penuh kasih sayang. Begitu banyak yang telah mereka berikan padaku, dengan segala kesederhanaannya, serba pas-pasan, mereka membimbingku untuk terus melanjutkan sekolah. Meskipun mereka hanya mengecap bangku SD, mereka ingin aku terus melanjutkan hingga menjadi seorang sarjana yang hebat, tapi hingga kini aku masih belum bisa memberikan apa-apa untuk mereka.Tak ada suatu yang patut dibanggakan dariku. Aku masih menjadi seseorang yang biasa saja di mata orang lain.Dan aku pun belum bisa menjadi seseorang yang mereka inginkan. Tapi aku yakin suatu saat nanti, aku akan memberikan yang terbaik bagi mereka. Kebanggan yang takkan pernah mereka lupakan,meskipun aku belum tahu kapan harapan itu akan terwujud.
Masa-masa sekolah aku jalani, dari SD di SDN Kangenan 2 Pamekasan hingga kini aku di Institut Pertanian Bogor (IPB).Saat ingin melanjutkan kuliah di IPB sempat orang meragukan bahkan tak percaya bahwa aku dengan begitu mudahnya masuk IPB dengan tanpa biaya sepeserpun, tapi tak pernah aku ambil pusing.Ini jalanku yang telah digariskan oleh-Nya, tak ada urusan dengan anggapan orang lain, itu pikiranku dulu. IPB memang bukanlah impianku, karena sejak SMP dulu aku ingin masuk Teknik Elektro ITS.Tapi begitu masuk SMA, impian itu menghilang dengan sendirinya. Terlalu banyak yang aku inginkan saat itu, bimbang memilih universitas yang akan aku tuju, juga bingung apakah kedua orang tuaku sanggup membiayai kuliahku nanti. Sempat terbersit hatiku untuk memilih Jurusan Akuntansi di UNIBRAW atau UNAIR, tapi kembali aku bingung, aku tak bisa ikut jalur tanpa tes karena aku di jurusan IPA saat itu. Allah memang sutradara terbaik yang selalu ku percaya, Ia mengantarkanku ke Manajemen IPB dengan beasiswa sudah di tangan, bahkan sebelum aku bergelar sebagai mahasiswa. Skenario Allah memang lebih indah dari apa yang klita bayangkan.
Tentunya di IPB inilah aku menemukan sosok dewasa itu.sosok yang begitu menyenangkan, membuatku senantiasa tersenyum, meskipun terkadang juga membuatku meneteskan air mata. Saat itu masih sembilan belas tahun usiaku, lebih tua dari teman-teman yang rata-rata masih berumur delapan belas atau bahkan tujuh belas tahun.Terbersit sesaat rasa minder menjadi bagian minoritas yakni lebih tua. Tapi apalah artinya usia, hal itu bukanlah menjadi masalah. Setahun aku jalani, aku seolah menemukan makna dari kedewasaan yang sebenarnya.Aku bertemu dengan Annisa Sophia atau biasa dipanggil “Nisoph”, usianya setahun empat bulan di bawahku. Tapi aku sangat kagum padanya, dia bisa menjadi sangat bijaksana dalam menyikapi suatu masalah, suatu bukti akan kedewasaannya. Dia selalu bisa tersenyum, bahkan di saat ia sedang sedih sekalipun. Tujuannya hanya agar saudara-saudaranya merasakan bahagia saat bertemu dengannya.Dia pernah menangis di depanku, tapi itu hanya sebentar, hanya untuk meluapkan emosi yang sudah membuncah. Sesaat kemudian ia bisa kembali tersenyum. Annisa adalah contoh wanita yang Insya Allah shalihah karna ia tak pernah melalaikan Tuhannya serta keluarga dan para sahabatnya. Ia selalu bertindak dan bersikap sesuai dengan koridor yang seharusnya. Itulah ciri kedewasaan yang aku temukan padanya, tapi belum aku temukan pada diriku sendiri.Kadang aku iri pada kebijaksanaannya yang belum mampu aku terapkan dalam keseharianku, pada kebersahajaannya pada setiap orang sedangkan aku masih dengan sikap egois dan ketaksabaranku.Tapi, Annisa selau berkata, “Jangan bilang tidak bisa, suatu saat Yuli pasti bisa.”Annisa, kau adik yang sudah seperti kakakku, Uhibbukin Fillah Ukhti.
Masih ku temukan di IPB, tepatnya di Asrama TPB IPB tercinta yang telah selama setahun ini aku tempati.Dia adalah Senior Resident bernama Ita Nita Amaliya.Beliau lebih tua dariku setahun, tapi masalah kedewasaan tak perlu di tanyakan. Ammah Ita biasa aku memanggilnya adalah orang yang sangat baik hati. Ia pun sangat bijaksana mengahadapi adik-adik lorongnya yang begitu, yah taulah seperti apa. Dia seolah menjadi pengganti ibuku di asrama, tapi dia juga bisa jadi kakak dan sahabat yang baik untuk aku ajak mengobrol seputar permasalahanku di kampus. Yah meskipun tak semuanya, karena aku lebih sering memendam masalah dari orang lain. Tak jauh-jauh, masih di asrama dan juga Senior Resident di Rusunawa.Namanya Intan Islamiah Mavirlian. Ammah Intan adalah mahasiswa angkatan 45 seperti Ammah Ita, bedanya Ia jauh lebih muda dari Ammah Ita, tiga tahun di bawah ammah Ita yang berarti dua tahun di bawahku. Namun dia sudah menjadi kakak kelas dua tingkat di atasku.Yang aku kagumi darinya adalah dia bisa bersikap jauh lebih dewasa dariku di saat dan tempat yang tepat. Dia juga bisa bersikap jauh kebih kekanak-kanakan dariku saat ia jenuh dengan berbagai kesibukannya. Dalam hati aku sering berkata, ammahku yang satu ini, kadang-kadang kayak bocah juga. –peace ammah, J-Dewasa memang tak memandang usia.
Masih banyak figur-figur dewasa di sekitarku, Kamilatussyafiqoh (Ibu Lurahku tersayang dengan seyuman mungilnya), Sahesti Fitria (teman seperjuangan RT lorong 3), Anita Julaikha (Saudariku terkasih yang selalu menemani saat berjuang di Liqo’ mingguan, J), Sarah Ayu A (Saudariku dengan anu-nya yg kocak), Nailatul Karomah (Ibu ketua Demush A4 yang selalu aku tegur gara-gara gigitin kuku mulu :p), Tatar, Melly, dan Venty (Teman sekamar 308 yang rame, tapi sekarang gak bisa sekamar lagi, aku kangen kalian L), Indah Tri Riantika (GDA A4 yang super sibuk tapi masih selalu tersenyum), Suwarti (Lurah A2 n Kadiv Humas FP yang mantap tegasnya :D), serta yang lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu persatu. Oia satu lagi, Bu Nur Hepsanti Hasanah yang selalu Happy (Lurah A1 & rumah sejahtera, serta Sekdiv KPK yang saat ini seolah jadi soulmateku, kemana aja bareng mulu :D).
Dari tadi aku menceritakan mereka yang bisa menunjukkan sikap dewasa. Aku belum menceritakan mereka-mereka yang meskipun umurnya sama sepertiku atau seperti orang yang aku ceritakan tadi, bersikap childish atau kekanak-kanakan serta tak menunjukkan kedewasaan.Sebagian aku kenal, namun tak perlulah aku sebutkan namanya, tak perlu aku ceritakan secara rinci.Yang pasti mereka ada dan aku juga mengenal mereka.Bahkan mungkin, aku masih salah satu dari mereka menurut penilaianku.
Setahun bersama mereka (yang selalu bersikap dewasa.red), aku mulai untuk merubah diriku sendiri untuk bisa bersikap lebih bijak dalam mengarungi bahtera kehidupan (udah kayak pernikahan aja, :p). memang belum bisa seperti mereka, karna aku memang tak ingin menjadi orang lain. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, apa adanya, sesuai dengan keinginan hatiku. Tapi disinilah ternyata kedewasaanku seolah tertahan untuk tumbuh dalam jiwaku.Aku masih bersifat egois dan mau menang sendiri.Annisa bilang aku adalah orang yang koleris.Mungkin itu benar, tapi aku bukanlah seorang pemimpin yang baik.Aku masih menjadi seorang yang melankolis ketika aku sendiri. Dengan mudahnya aku akan menangis ketika menghadapi sebuah masalah kecil, untuk meluapkan semua kekesalan dan kesedihan yang melanda hati, ketika aku sendiri.
Aku masih dengan segala sifat burukku.Ceroboh dalam melakukan apapun.Terlalu sering menunda untuk melakukan sesuatu hanya karna alasan malas, juga melakukan suatu hal setengah-setengah, tak pernah bisa memberikan yang terbaik.Bertindak tanpa pikir panjang.Dan mungkin selalu merasa benar, tak mau di salahkan. Kedisiplinan yang masih sangat sangat tidak disiplin menurutku. Ya inilah aku yang belum bisa berpikir dewasa, tak seperti umurku yang orang bilang sudah dewasa.
Setahun sudah aku menjadi seorang mahasiswa dan hidup jauh dari orang tua, dalam setahun itu aku bertemu dengan orang hebat yang mengajarkanku makna kedewasaan.Setahun itu hanya sebagian, karna sembilas tahun sebelumnya pun aku juga bertemu bayak karakter manusia.Karakter-karakter yang begitu berbeda yang membuatku mengerti makna dan tujuan kehidupan.
Terima kasih untuk sahabat sahabat ku semasa SMA s.d. sekarang : Atin Hasanah (my best friend forever), Anis Masruroh (aku kangen kamu say? Lama tak jumpa L), anak2 RC(Ana Khairunnisa, Oning Nastiti, Mannan, Risal, Mz Dadang, Mz Irwan, Mz Yayak, Pak Taka, Mz Birri, dan yang lain lah pokoknya… :p), Alm Mz Dedi S (semoga tenang di sana L), Siska Jufia P.(teman sebangku pas SMA), anak2 XeniX dan Twice, Nabila “Bee” (Si tomboy yang menjadi inspirasiku untuk menulis), anak2 PII Pamekasan (Mz Inol, Mbak Titik, Mz Arif, Mz Tommy, Denny, Arya, Qorin, Alif, Faisal, Mita, Meri, serta yang lainnya), PW PII Jatim (Mbak Rahma, Mbak Tika, Mbak Linda, Mz Chotieb, Mz Khaidar, dan kakak2 yang lain), dan semua orang yang kukenal selama ini.
Terima kasih pula pada sahabat-sahabatku di IPB : Lorong 3A Rusunawa (Alfi, Dian, Rina, Wulan, Leni si Bu Benlong, Silmi, Asih, kebanyakan neh kalo disebut semua :p), B.15 Friendship, Rohis 1516 (Zulfa, Nunu, Lena, Masyitah, Teki, Ridho, Arif, dll), pastinya juga anak-anak Gasisma (Dila, Dita, Utari, Ulfi, Risal, Syafi’i, Dian, Arif, Nova-Novi, Mz Ivan, Mz Sukirman, dan yang lainnya), Demush A4 dan KIA seluruhnya, Dewan Gedung A4 serta Asrama TPB IPB, serta para Senior Resident Asrama TPB IPB. Terima kasih atas pelajaran hidup yang telah kalian berikan padaku selama ini.
Yah, dua puluh tahun bukanlah waktu sebentar, tapi selama dua puluh tahun itu aku belum bisa menjadi apa-apa.Setidaknya aku ingin berubah dan bertekad untuk berusaha mengubah keburukan diri menjadi yang lebih baik.Dua puluh tahun aku hidup di dunia, kian hari kian berkurang jatah umurku.Di sisa waktu yang begitu pendek ini, yang tak tau kapan akhirnya, aku tahu Allah selalu berada di sampingku untuk senantiasa mencintai dan membimbingku untuk terus berjalan.Berjalan sesuai dengan rencana indah-Nya, karna Indah-Nya menantiku di ujung jalan sana. Di umurku yang ke-20 tahun ini semoga bisa menjadi awal untukku menjadi seseorang yang orangtuaku, sahabat-sahabatku serta aku sendiri inginkan.
Amin... ^^

Minggu, 15 Mei 2011

Keinginan itu mesti ditunda lagi...

Sudah cukup lama gak nulis lagi, heu...
Kemarin adalah hari terakhir pengumpulan karya cerpen untuk lomba dala Ekspresi Muslimah IPB, dan aku berniat ikutan. Tapi mungkin bukan waktunya aku mempersembahkan karyaku, cerpen yang aku buat ternyata tidak sesuai persyaratan karena ada kesalahpahaman dariku mengenai persyaratan itu... >.<

Ya sudahlah,,, meskipun begitu aku senang karena cerpen itu selesai juga...
meskipun aku tak tau bagus atau enggak... :-)

Selamat menikmati n jangan lupa kritikannya ya....


SEINDAH JALAN CINTA-NYA
Senja mulai pergi menjemput malam. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru, ia telah memancarkan polesan warna jingga senja dalam balutan gradasi warna yang begitu indah. Paduan warna yang tergambar jelas dan nyata, memantapkan pesan kekuasaan-Nya. Awan berarak ceria mengantarkan sang raja siang ke peraduan dan menjemput bidadari malam yang kan menyinari bumi tuhan ketika gelap telah menyelimuti. Tiba-tiba seekor burung terbang melintas cepat bagai kilat menyambar. Sayapnya kokoh membentang, menantang desir angin yang menghalau. Matanya yang bundar menatap tajam kedepan. Tak takut pada apapun yang menghadang. Burung itu seolah menjadi pelengkap nuansa pemandangan alam sore ini.
Kumandang adzan mulai terdengar bertalu-talu dari beberapa masjid, pertanda malam segera menyelimuti alam. Panggilan Allah Sang Maha Pencipta membuatku bangkit, tak ingin lagi berlama-lama menunda pertemuan dengan-Nya. Mensyukuri segala nikmat yang telah tercurah. Termasuk nikmat memandang indahnya semesta alam sore ini. Karena aku tak tau kapan aku akan menghadap kepada-Nya, aku takut ketika aku dipanggil oleh-Nya, aku belum mempunyai bekal apa-apa. Sedang untuk menjawab seruannya saja, aku masih menunda. Aku tak mau hal itu terjadi padaku.
¶¶¶
“Harlan!”
Aku segera menoleh ketika mendengar namaku di panggil dari arah belakang. Terlihat Arya yang sedang berusaha mengejar langkahku.
“Dari mana?” Tanyanya setelah berhasil mensejajari langkahku.
“Dari masjid. Kamu sendiri dari mana kok mukanya kayak abis bangun tidur kayak gitu?” tanyaku setelah memperhatikan wajah Arya yang terlihat kucel dan berantakan.
“Aku dari kost kakak, tadi abis magrib ketiduran dan aku emang belum mandi. He…” Arya cengengesan. “Niatnya sih mau nginep disana, tapi berhubung aku ada tugas yang mesti dikumpulin besok dan tugasnya ada di asrama, yah akhirnya aku balik ke asrama deh.”
Jam di handphoneku menunjukkan pukul delapan malam, asrama terlihat lengang. Beberapa sedang berkumpul di pojok lobi, entah sedang mengerjakan apa, belajar atau mungkin sedang ada rapat. Aku dan Arya berlalu dari lobi menuju ke kamar kami di lorong tujuh lantai dua gedung ini. Begitu sampai di lorong, kami mendapati banyak anak yang sedang berkerumun di depan pintu kamar. Aku dan Arya saling pandang, sama-sama bingung karna tidak tau ada kejadian apa, seharian ini kami tidak berada di asrama. Aku segera mempercepat langkah menuju kamar, begitupun dengan Arya.
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam,” anak yang berkerumun di depan kamar menoleh mendengar salam yang kami ucapkan. Setelah tahu bahwa kami yang datang, mereka segera memberi kami jalan untuk masuk ke kamar.
Setelah masuk, aku melihat Ares, teman sekamarku dan Arya, terbaring di atas tempat tidur. Di sampingnya ada Kak Subhan, kakak pendamping yang juga tinggal di asrama.
“Ares kenapa Kak?” Tanya Arya mendahuluiku.
“Tadi dia tiba-tiba pingsan saat kita sedang tilawah bersama di musholla. Dari tadi sebelum magrib, kakak melihat wajahnya pucat dan dia juga mengeluh punggungnya sakit. Kalian tau dia sakit apa?” Kak Subhan memandang kami berdua bergantian. Kami menggeleng.
Kami memang tidak tahu kalo Ares sedang sakit. Beberapa minggu ini Ares jadi sedikit pendiam dan tenggelam bersama pelajaran dan ibadah pada-Nya. Ia hampir tidak pernah meninggalkan shalat tahajud, shalat dhuha, puasa sunah, dan segala macam ibadah lainnya. Interaksi kami bertiga sebagai teman sekamarnya semakin jarang, selain karna kesibukan kami masing-masing, ia juga terkesan tidak mau membuang waktu untuk sejenak bersantai dan mengobrol bersama kami. Ia benar-benar tenggelam dan menikmati berbagai kesibukannya.
“Beberapa hari ini dia memang sedikit terlihat kurang bersemangat, wajahnya juga sering terlihat kuyu. Mungkin karena dia terlalu lelah dengan berbagai aktivitas yang ia jalani. Saat aku menasehatinya agar ia beristirahat dan meninggalkan kesibukannya kemarin, ia menolak dan tetap beraktivitas dengan alasan lelah adalah resiko dari setiap perjuangan. Malah ia berangkat dari pagi dan baru kembali ketika pintu gerbang asrama hampir ditutup lagi. Seharian ini kami tidak di asrama, jadi kami tidak tau bagaimana kondisi Ares.” Arya lagi-lagi mendahuluiku menjelaskan panjang lebar kondisi Ares pada Kak Subhan.
Kak Subhan lalu menoleh kepadaku, “ Lan, kamu kan punya motor, besok ajak Ares periksa ke dokter ya. Kalau dia gak mau, paksa aja, biar jelas dia sakit apa dan bisa segera di obati. Kabari Sakti juga jangan lupa.”
“Iya Kak, Insya Allah.”
“Ya sudah sekarang kakak keluar dulu, kalian jaga Ares ya. Tunggu sampai sadar.” Aku dan Arya mengangguk patuh. “Yang lain balik ke kamar masing-masing ya, lanjutin belajarnya. Jangan lupa do’ain Ares agar lekas sembuh.” Perintah Kak Subhan kemudian sembari berlalu dari kamarku. Satu-persatu anak meninggalkan aku dan Arya di kamar. Akhirnya kami hanya tinggal bertiga dengan Ares yang masih terbaring tak sadarkan diri.
“Kira-kira Ares kenapa ya, Lan?”
Aku hanya diam mendengar pertanyaan Arya barusan. Sebuah pertanyaan retorik yang tak memerlukan jawaban pasti
¶¶¶
Aku berjalan menyusuri lorong yang terasa sangat panjang, tapi ini bukan lorong asrama yang biasa aku lewati, lorong ini sangat terasa asing. Suasananya penuh dengan suasana kesedihan, kesakitan, ketersiksaan, dan penuh dengan kepiluan. Ya. Aku sedang berjalan di lorong rumah sakit. Seminggu yang lalu Ares akhirnya dirujuk ke rumah sakit saat keadaannya semakin mengkhawatirkan pasca pingsan malam itu.
Esoknya saat aku mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter, ia bersikeras menolaknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena pada dasarnya Ares adalah orang yang keras kepala dan tak bisa dipaksa bila tak menyukai sesuatu. Aku lihat dia juga sering mengkonsumsi obat-obatan. Entahlah obat apa yang ia konsumsi, saat aku tanya dia selalu mengelak dan hanya menjawab kalau itu hanyalah vitamin dan suplemen penambah tenaga. Tapi aku tak sebodoh itu dan percaya pada ucapannya begitu saja.
Diam-diam aku aku mengambil bungkus obat yang dia buang di tempat sampah kamar kami dan aku bawa ke poliklinik kampus. Saat aku memberikan bungkus obat itu kepada dokter, ia langsung bertanya, “Siapa yang mengkonsumsinya? Kamu?” Aku hanya bisa menggeleng dan menjelaskan bahwa itu adalah obat yang biasa dikonsumsi oleh seorang teman. Dokter itu lalu menjelaskan segalanya tentang obat itu dan penyakit yang membuat seseorang mengkonsumsi obat itu. Dan akupun akhirnya tahu apa penyakit yang diderita Ares dan selalu ia tutup-tutupi.
Dengan perasaan sedih bercampur kecewa, aku kembali ke asrama. Begitu tiba di gerbang aku melihat kerumunan anak penghuni asrama di depan pintu asrama. Di sana juga telah terparkir ambulan dengan keadaan siap berangkat. Tanpa berpikir panjang aku segera memarkir motor sembarangan di dekat pos satpam,lalu bergegas lari. Perasaanku tiba-tiba tidak enak, bayangan wajah Ares yang ceria dan kata-kata dokter tadi melayang-layang di otakku.
Dugaanku tak meleset, Ares pingsan lagi ketika baru tiba di lobi asrama. Kak Subhan segera menghubungi ambulan kampus untuk membawa Ares ke rumah sakit. Saat itu perasaanku sudah campur aduk, antara bingung, sedih, marah, dan kecewa. Kenapa semua ini harus terjadi pada Ares, sahabatku yang selalu ceria.
Perlahan aku membuka pintu kamar rawat Ares, suasananya sangat sepi. Arya dan Sakti yang kebagian bertugas menjagamalam tadi, tertidur pulas di sofa. Kelihatannya mereka kecapekan karna menjaga Ares semalaman. Aku membiarkan mereka berdua karna hari ini adalah hari libur kuliah,sehingga mereka tak perlu kembali cepat-cepat kembali ke asrama.
Lalu aku beralih pada sosok Ares yang sedang terbaring di ranjang. Wajahnya menampakkan rona kelelahan yang amat sangat, kepasrahan dan kesakitan. Badannya juga terlihat semakin kurus dari pada beberapa bulan yang lalu. Ia terlihat berbeda dengan Ares saat pertama kali aku kenal. Dulu ia begitu bersemangat dalam segala hal dan selalu ceria, kapanpun dan dimanapun. Diantara kami berempat, dia yang paling sehat karena selalu berolahraga setiap pagi sehabis sholat subuh. Entah hanya lari-lari kecil, push-up, sit-up, dan olahraga lainnya. Ia juga paling rapi diantara kami untuk urusan kamar dan penampilan. Dan ia juga paling rajin dalam urusan ibadah, organisasi, dan dakwah.
Mataku tiba-tiba panas, air mata ku tiba-tiba keluar tanpa diminta. Aku tak percaya, sosok yang terbaring lemah dihadapanku ini adalah Ares, sahabatku. Tapi aku bukan teman yang cengeng, aku tidak ingin memperlihatkan kesedihanku sehingga membuat Ares akan lebih sedih nantinya. Segera aku menghapus air mataku.
“Gak nyangka, ternyata seorang Harlan bisa nangis juga?” Dalam lirihan yang hampir tak terdengar, Ares menggodaku. Ia ternyata telah sadar. “Kenapa nangis? Aku kan gak kenapa-kenapa.”
Aku tesenyum dan mengelak, “Siapa yang nangis, aku kelilipan kok.”
Ares tertawa, tapi bukan seperti orang tertawa. Ia terlalu lemah untuk sekedar tertawa dan wajahnya tetap tampak kesakitan. Kami kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian, aku mencoba memberanikan diri, menanyakan perihal penyakit yang dideritanya.
“Bang,” Panggilanku kepada Ares yang memang lebih tua dariku. Ares menolehkan kepalanya padaku.
“Kenapa Abang gak bilang kalo Abang mengidap kanker darah?” Ares terlihat bingung, mungkin tak mengira kalau aku tau tentang penyakitnya.
Ia berpaling dariku dan menatap plafon kamar. Dengan ekspresi tenang ia menjawab, “Buat apa, Lan? Penyakit kanker bukan sesuatu yang pantas di pamerkan.”
“Tapi bukan gitu juga caranya,Bang. Setidaknya abang ngasih tau ke aku, Arya, atau Sakti. Kita kan sahabat abang, bahkan aku anggap abang tuh saudara kandung aku sendiri. Apakah abang belum menganggap kita sahabat, jadi abang enggan cerita sama kita soal sakit abang itu?”
“Jangan ngaco kamu, Lan. Kalian sudah seperti pengganti keluarga bagiku. Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian dengan penyakit aku ini. Lagi pula aku sudah pasrah dengan kehendak Allah padaku, Ia lebih tau apa yang terbaik untukku”
“Kalo kita emang keluarga, seharusnya jangan ada satupun rahasia di antara kita, Bang, apalagi ini masalah besar dan menyangkut jiwa." Aku mendesah pelan, “Kalo emang anggap aku saudara, ijinkan aku membantu abang untuk sembuh dari penyakit abang. Ijinkan aku untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk abang.”
Ares terperanjat mendengar kata-kataku. Ia menggeleng cepat. “Jangan Lang, itu berbahaya, resikonya terlalu besar, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu.”
“Tapi Bang, itu satu-satunya cara agar abang bisa sembuh. Hanya donor sumsum tulang belakang satu-satunya cara untuk mengobati penyakit leukemia.” Aku bersikeras, tapi Ares tetap menggeleng tak setuju.
“Siapa yang sakit leukemia?” Sakti tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku dan Ares terdiam, tak mampu menjawab.
¶¶¶
Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, banyak teman-teman seasrama yang datang menjenguk, tak terkecuali Kak Subhan dan beberapa kakak pendamping asrama yang lain. Selain itu juga teman sekelas dan teman-teman satu organisasinya. Begitu banyak yang mengunjungi dan khawatir dengan keadaannya, menandakan bahwa Ares adalah seorang yang begitu disenangi oleh banyak orang. Sangat pantas memang. Bahkan dosen pun meluangkan waktu untuk menjenguknya.
Namun berkali-kali ditanya tentang penyakitnya, Ares diam seribu bahasa. Dia hanya berkata kalau dia sedang terlalu lelah dan sakit thypus biasa. Tapi beberapa dari teman-teman kurang percaya, hanya saja mereka tak bertanya lebih lanjut karna tak ingin ikut campur urusan pribadi Ares.
Sakti dan Arya akhirnya tahu tentang penyakit yang diderita Ares. Aku menceritakan semuanya ketika awalnya Sakti tak sengaja mendengar obrolanku dengan Ares tentang donor sumsum tulang belakang. Mereka berdua pun mendesak Ares agar mengijinkan mereka juga ikut tes darah. Ares bersikeras menolak, tapi ini sudah menjadi keputusan bulat dari kami bertiga. Sehingga tanpa sepengetahuannya, kami berkonsultasi dengan dokter dan akhirnya melakukan tes darah.
Saat ini adalah waktu hasil pemeriksaan keluar. Aku, Arya, dan Sakti kini berada diruang dokter, menunggu dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama dokter datang membawa hasil tes darah kami. Ia lalu membagikannya kepada kami.
“Setelah tes, ternyata kadarkecocokan kalian bertiga sama-sama lebih dari 50%, saya menyarankan agar saudara Harlan yang menjadi donor, karena tingkat kecocokan saudara dengan pasien paling tinggi, yakni hampir 85% sehingga akan mengurangi resiko pada pasien, asalkan kondisi saudara Harlan juga sehat. Saya heran, kalian bukan saudara atau keluarga dari pasien, tapi tingkat kecocokan kalian sangat tinggi.”
Arya dan Sakti menoleh padaku, aku mengerti apa yang ingin mereka tanyakan. Aku tersenyum, tak pernah aku merasa sebahagia ini sebelumnya. “Dokter salah, kami memang bukan keluarga kandung Abang Ares, tapi kami adalah sahabat, bahkan melebihi saudara. Kami memamg tidak punya ikatan drarah, tapi hati kami telah terpaut dan tak bisa dipisahkan. Dokter percaya kekuatan cinta kan? Itulah kenapa tingkat kecocokan kami tinggi, karena kekuatan cinta antara kami,dan Allah tau bahwa kami adalah orang yang tepat untuk membantu Abang untuk sembuh dari penyakitnya.”
Dokter tersenyum mendengar jawabanku. Mungkin baru kali ini ia bertemu dengan seorang donor sumsum tulang belakang seperti aku yang bahagia mendengar bahwa ia bisa jadi donor bagi pasien.
“Saya siap menjalankan operasi transplantasi itu, Dok.” Aku semakin memantapkan keyakinan pada dokter, dan juga pada hatiku sendiri, meskipun aku belum tau bagaimana reaksi orang tuaku ats keputusan ini. Tapi aku takingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membantu saudara aku sendiri.
Arya dan Sakti langsung memelukku, aku tak tau perasaan mereka saat ini. Mungkin senang karena Ares mendapatkan donor sehingga ia bisa sembuh dari penyakitnya. Mungkin juga sedih karena mereka tau sebesar apa resiko menjadi pendonor sumsum tulang belakang. Tapi hatiku kini sudah mantap, seolah kemantapan hati ini datang langsung dari-Nya. Biar hanya ia yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Ia yang Mahatahu apa yang terbaik untukku dan untuk Ares.
¶¶¶
Ketika mendengar keputusanku menjadi donor sumsum tulang belakan untuk Ares, Bunda seketika itu langsung menolak. Ayah hanya diam. Aku memberikan berbagai argument yang menguatkan bahwa operasi itu tidak berbahaya. Selain itu, hal ini adalah momen terbaik untuk aku menjadi seorangyang bermanfaat bagi orang lain.Ayah seakan mengerti apa yang aku mau, ia setuju dengan keputusanku. Ia merasa bahwa aku sudah dewasa dan mampu untuk membuat keputusan sendiri. Dengan berbagai cara, aku dan ayah meyakinkan bunda. Dengan sedikit aksi diam pada bunda selama dua hari, akhirnya bunda juga menyetujui keputusanku.
“Bunda bangga sama kamu, Nak. Meskipun bunda takut, tapi bunda akan berusaha untuk ikhlas agar tujuan muliamu itu berakhir dengan indah. Bunda hanya bisa bertawakkal pada Allah.”
Dan disinilah aku sekarang, terbaring di ranjang ruang operasi. Ares memandangku penuh dengan penuh kekhawatiran. Namun aku selalu membalas dengan senyuman ketenangan, karna hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, mencoba untuk selalu tenang dan pasrah.
Awalnya Ares tidak mau melakukan operasi ini, tapi dengan berbagai bujukan dariku, dari Arya dan Sakti, dari orang tuanya yang ada di Sulawesi sana, serta dukungan dana dari teman-teman semua, ia akhirnya mau.
“Aku gak tau mesti bilang apa sama kalian, terutama sama kamu, Lan. kalian telah mengorbankan segalanya hanya demi aku yang bukan siapa-siapa.” Ucapnya saat itu sambil meneteska air mata.
“Kita saudara kan, Bang?” jawabku sambil tersenyum. “Itulah gunanya sahabat, Bang, tidak hanya berbagi di saat bahagia, tetapi juga saling berbagi di saat susah seperti ini.”
“Iya Res, kamu gak usah sungkan-sungkan gitu sama kita.” Tambah Sakti. Ares tersenyum penuh rasa terima kasih.
Tirai pembatas antara aku dan Ares di tutup. Operasi akan segera di mulai. Dokter lalu menyuruhku untuk mengubah posisi menjadi tengkurap dan menyuntikkan sesuatu padaku. Entahlah, mungkin obat bius, karena tak lama setelah itu mataku mulai terasa berat dan akhirnya semua menjadi gelap.
¶¶¶
Tanah itu masih basah, diatasnya ditaburi segala jenis bunga yang semerbak. Arya dan Sakti membawaku ke samping makam itu, makam sahabat terbaik kami. Sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Mataku terasa panas, tapi air mata ini tak boleh keluar.
“Harlan dipanggil oleh-Nya beberapa jam setelah operasi dilakukan. Ia sempat sadar dan mengatakan bahwa ia bahagia bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk kamu. Tak lama kemudian kondisinya drop dan akhirnya napasnya terhenti. Ia pergi dengan senyuman Res.” Kata Arya saat itu, saat aku sadar, sehari setelah kepergian Harlan.
Saat aku mulai membaik pasca operasi, aku memaksa Arya serta Sakti mengantarkanku ke makam Harlan. Dan saat ini aku duduk disini, disamping nisan bertuliskan nama Harlan Ferdinand. Aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa memanjatkan do’a agar ia mendapatkan yang terbaik di sisi-Nya.
‘Aku berjanji, Lan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup dari-Nya melalui kau sebagai perantara-Nya. Ini akan terasa lebih mudah karna kau akan selalu bersamaku disetiap nafas dan perjalananku. Aku juga berjanji akan menggantikan kau menjaga kedua orang tuamu, meghormati mereka seperti orang tuaku sendiri, dan akan selalu bangga pada mereka karna memiliki anak sepertimu. Terima kasih Harlan, terima kasih saudaraku.”
Arya dan Sakti menuntunku meninggalkan nisan kaku di atas tanah basah itu, kami meninggalkan makam Harlan dengan sejuta kesedihan dan harapan. Tapi kami tak akan pernah meninggalkan Harlan, karna bagi kami ia masih hidup, ia akan selalu hidup di hati kami, selamanya.

Rabu, 23 Februari 2011

Teladan untukku


Setelah cukup lama gak nulis di blog, alhamdulillah ada kesempatan buat nulis meskipun harus pinjam laptop teman buat OL,,, hhe...^^

beberapa hari kemaren saat aku sedang dilanda sedikit kesedihan *woi,bahasanya lebay* aku teringat dengan sebuah materi yang diberikan oleh seorang Murabbi ketika aku masih SMA dulu, mungkin sekitar 2 tahun yang lalu... sebuah surat cinta... saat itu bagiku surat itu terasa kurang bermakna, entah karena aku yang terlalu bodoh untuk mengerti, atau aku terlalu cuek untuk sekedar memahami isi surat itu... tapi yang jelas saat ini, surat itu bagai peringatan bagiku untuk senantiasa beribadah kepada-Nya...

inilah surat cinta itu...

Surat Cinta Dari Manusia-Manusia Malam...
Kami tujukan kepada Insan yang tersia-sia malamnya

Assalamu'alaikum wr. wb.

Wahai orang-orang yang terpejam matanya,

Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap,

Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja dibalik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena,

Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu!! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu!! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan shalat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar tadi? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan shalat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,

Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan shalat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu? Pedulikah kau pada keluargamu? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, "Nuruddin itu kecanduan shalat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, "Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan." Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan shalat-shalat malamku yang penuh kekhusyu'an.

Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku? Dialah Istriku tercinta, Khatun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Allah. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang.

Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Allah, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirullaah, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqsa, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Shalahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga shalat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena,

Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Namaku Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan shalat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Allah memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Allah temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,
Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Shalat Istisqa yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atha' As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Shalat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.

Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini?

Shalat demi shalat Istisqa didirikan, namun hujan tak kunjung datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk shalat Istisqa sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.

Setelah shalat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo'a : "Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikit pun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."

Lalu apa gerangan yang terjadi? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena do'aku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,

Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku mengantuk, maka aku hentikan shalatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku." Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda,

Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah!."

Hei, sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Allah, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, shalatlah, shalat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap,
Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan? Masihkah? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat? Tidakkah kau tahu, bahwa Allah turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah."

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu.

Semoga Allah mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Semoga...

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Manusia-Manusia Malam

Subhanallah....
Surat itu menyentakku...
Betapa lalainya diriku yang amat sangat jarang menghidupkan malam-malamku...
Jangankan menghidupkan malam,,, ketika adzan subuh berkumandang pun terkadang aku masih lelap di tempat tidurku...

Astagfirullah...

Ya Rabb,,, maafkan hambamu yang tak bersyukur dan menyia-nyiakan malam-malam Mu yang indah.

Kini aku hanya ingin menjadi seperti mereka, teladan-teladan sejati sepanjang masa yang menghidupkan malam-malam mereka dengan sujud yang panjang dan alunan dzikir yang syahdu...
Insya Allah...
Berjuang...
Penuh Semangat...