Rabu, 12 Oktober 2011

Siapa Temanmu???

Sesuai dengan judul diatas, aku ingin bertanya pada teman-teman pembaca semuanya, siapakah temanmu? Seperti apa sifat-sifat mereka? Apakah kamu bahagia berteman dengan mereka? Benarkah mereka temanmu ataukah hanya sebuah parasit dalam kehidupanmu yang hanya memanfaatkanmu untuk kepentingan pribadinya saja? Atau bahkan mereka membawamu ke dalam pergaulan yang tidak baik? Udah kayak wawancara aja saya... wkwkw :D
Sebelum melanjutkan membaca tulisan gaje saya ini, ada baiknya coba kalian renungkan dan jawab pertanyaan-pertanyaan di atas dalam hati kalian masing-masing. Kalian pasti bisa menjawabnya kan???

Manusia itu adalah makhluk sosial. Artinya seorang manusia sepanjang hidupnya memerlukan kehadiran orang lain untuk melengkapi kehidupannya sehari-hari, simplenya seseorang yang hidup di dunia ini pastilah membutuhkan teman. Teman disini dalam artian banyak hal tentu saja. Teman bisa diperoleh dalam keluarga sendiri seperti ayah, ibu, kakak, adik, suami, istri, atau bahkan anak. Teman juga diperoleh di luar kelompok keluarga, seperti teman yang kita miliki dilingkungan sekolah atau lingkungan pergaulan kita. Bahasan yang akan saya angkat kali ini adalah teman diluar kelompok keluarga yang bisa dibilang sangat mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang.
Sebagai manusia, kita sepatutnya bisa bergaul dengan siapa saja. Tak perlu memandang derajat yang seperti saat ini kerap terjadi. Si Kaya ya hanya akan bergaul dengan si kaya yang lain, sedangkan si miskin juga bergaul dengan si miskin yang lain. Lantas yang gak kaya dan yang gak miskin temenan sama siapa dong? #ngasal
Tapi eh tetapi, dalam Islam yang Rahmatan Lil Alamin ini ada beberapa tuntunan dalam memilih teman-teman untuk bergaul. Biar gak hanya sekedar bergaul yang menimbulkan mudharat bagi orang lain dan diri kita sendiri, tetapi bergaul yang bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi diri kita dan agama kita. So, sepatutnyalah kita pandai memilih pada siapa saja kita bergaul dengan teman kita dalam lingkungan pergaulan yang luas.
Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia itu menurut agama temannya. Aka hendaklah diperhatikan oleh seorang diantara kamu akan orang yang akan diambil menjadi temannya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi,dan AlHakim dari Abu Hurairah dengan sanad shahih)
Nah lho? Seperti kata Nabi SAW, diri kita itu dilihat dari bagaimana agama teman-teman kita. Kalau kita berteman dengan anak-anak bengal yang suka ngelawan orang tua dan selalu ngelakuin dosa, kita bisa tau tuh kayak gimana kita aslinya. Jawabannya ya kita sama seperti mereka. Sebaliknya, jika kita berteman dengan orang-orang yang shalih dan shalihah yang selalu melakukan kebaikan dimanapun mereka berada, maka itulah cerminan diri kita,Insya Allah. Seperti kata pepatah “Berdiri di dekat tukang besi akan terimbas panasnya, berdiri di dekat penjual minyak wangi akan terciprat wanginya.” Begitulah kira-kira... Bener gak ya? :p
Al-Ghazali, dakam tulisannya di buku Ihya’ Ulumiddin mengatakan bahwa ada lima perkara pada orang yang patut dipilih menjadi teman. Mau tau apa aja????? Yuk-yuk kita lihat penjelasan di bawah ini.... hehe... J
*      Berakal

Akal adalah pokok dan itulah asalnya. Maksud dari tidak berakal disni bukan hanya gila ya teman. Kalo dari yang saya baca, yang dimaksud dengan ‘orang “berakal” ialah orang yang memahami segala persoalan menurut yang sebenarnya. Adakalanya oleh dirinya sendiri dan adakalanya apabila diberi peringatan oleh orang lain.’ Menurut penafsiran saya sih, teman yang “berakal” itu adalah seseorang mengerti dan bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Dia akan melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan yang benar, oleh kesadaran dia sendiri dan respek juga ketika ada orang lain yang mengingatkannya. Bingung ya? Saya juga bingung #plak

Di dalam artikel yang saya baca menyebutkan bahwa, “Tak ada kebajikan berteman dengan orang bengal. Kesudahannya akan kembali kepada keliaran hati dan putus silturrahim, walaupun persahabatan itu telah berjalan lama.”

 Yang ini pernah saya alami neh, saat SMA dulu. Saya punya teman namanya A, awalnya sih dia anak yang biasa aja menurutku, tapi makin lama makin aku kenal, dia seorang anak yang keras kepala dan bahkan berani melawan orang tua. Yang aku tahu dia bahkan sering kabur dari rumahnya. Saya berusaha untuk bisa merubah dia menjadi lebih baik lagi, tapi ternyata dia malah makin menjadi. Pergaulannya mulai bebas dan tak terkendali. Sejak saat kelas 3 akhir, hubungan kami merenggang, emang gak putus sih, tapi kalo dibandingkan dengan persahabatan kami dulu tuh rasanya jauh banget, apalagi sejak saya pindah ke Bogor setahun silam. Benar-benar tak ada komunikasi antara kami. Saya sih hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuknya, biar bagaimanapun dia adalah sahabat saya.
Kok saya jadi curhat sih? xD Lanjut ke topik yang seharusnya yuk....

“Orang bengal itu kadang-kadang mendatangkan kemelaratan bagimu, sedang maksudnya mendatangkan kemanfaatan kepadamu dan menolong kamu, dimana sebenarnya dia sama sekali tak tahu.”

Wah bahaya dong kalo gitu, bukannya bantu menyelesaikan masalah, malah nambah masalah ya?? Ckckck...

*      Baik Budi Pekertinya

Nah yang ini pasti ngerti dong apa maksudnya??? Jadi lanjut ke perkara berikutnya....
Enggak ding, bercanda, hehehe....

“Baik budi pekertinya tidak boleh tidak dimiliki oleh siapapun yang menjadi teman kita.”
Tidak boleh tidak artinya harus kan ya? :p lanjut....

“Karena banyaklah orang berakal, mengetahui segala sesuatu menurut yang sebenarnya. Tetapi apabila dia memiliki sifat pemarah, atau punya nafsu syahwat yang besar (serem), atau seorang pengecut, niscaya ia suatu saat akan mengikuti hawa nafsunya. Kalau sudah begini, ia akan melanggar apa yang sebenarnya diketahuinya. Hal ini terjadi akibat lemahnya kontrol dan pengendalian yang bersumber dari budi pekerti yang baik. Itu sebabnya patut bagi kita memperhatikan kebaikan budi pekerti teman kita.”
Ooh,,, jadi Budi itu teman kita??? #plak

*      Tidak Fasiq

“Dan janganlah engkau turut orang yang telah Kami lalaikan hatinya dri mengingat Kami dan ia menurutkan hawa nafsunya.” (QS Al-Kahfi:28)

“Oleh yang demikian itu, janganlah engkau dipalingkan daripada mempercayainya, oleh orang yang tidak percaya kepadanya serta menurut hawa nafsunya.” (QS Thoha:16)

“Oleh karena itu, maka tinggalkanlah orang-orang yang berpaling dari mengingat Kami dan ia tidak ingin selain dari penghidupan yang rendah ini.”(QS An-Najm:29)

“Yang dimaksud dengan orang fasik disini adalah orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Tidak ada faedah berteman dengannya karena orang tidak akan merasa aman dari tipuannya serta tidak dipercayai dengan kebenarannya. Ia selalu berubah-ubah dengan perubahan maksud-maksudnya.”
Jadi takut, saya masih merasa selalu berubah-ubah seiring dengan perubahan maksud. Semoga saja saya dan yang sedang membaca tulisan saya ini bukanlah golongan dari orang-orang fasik, amin.

“Dan turutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”(QS Luqman:15)

*      Tidak Berbuat Bid’ah

“Berteman dengan orang yang berbuat bid’ah, maka berteman dengan dia, terdapat bahaya menjalarnya bid’ah itu dan berkembang kutukan bid’ah kepadanya.”
Pembaca tau kan apa yang dimaksud dengan bid’ah? Bid’ah itu adalah perbuatan yanng mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam Islam.

Umar ra berkata, “Haruslah kamu berteman dengan orang-orang yang benar! Kamu akan hidup dalam lindungan mereka. Sesungguhnya mereka itu, adalah hiasan di waktu senang dan perisai di waktu susah. Letakkanlah persoalan saudaramu (temanmu) dalam keadaan yang sebaik-baiknya! Sehingga ia membawa kamu, apa yang memenangkan kamu. Dan asingkanlah dirimu dari musuh-musuhmu, dan berhati-hatilah dari temanmu, kecuali yang kepercayaan dari kamu itu! Dan tidak ada yang kepercayaan, selain orang yang takut pada Allah. Maka janganlah engkau berteman dengn orang dzalim, nanti kamu akan memperoleh pengetahuan dari kedzalimannya! Dan janganlah engkau perlihatkan kepadanya rahasia engkau! Dan bermusyawarahlah tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah!” (diriwayatkan oleh Sa’id bin Al-musayyab)

*      Tidak Loba kepada Dunia

“Adapun berteman dengan dia (orang yang loba pada dunia,red) adalah racun pembunuh. Karena tabiat (karakter) manusia ini, tertarik dan menyerupai. Duduk-duduk dengan orang yang loba kepada dunia itu, dapat menggerakkan kelobaan. Dan duduk bersama orang-orang zahid, dapat menggerakkan kezuhudan di dunia. Karena itulah, tiada disukai berteman dengan orang-orang yang mencari dunia. Dengan orang-orang yang gemar akan akhirat.”

Berkata Ali ra, “Hidupkanlah ketaatan dengan duduk bersama orang yang disegani.”
Berkata Lukman, “Hai anakku! Duduk-duduklah dengan ulama dan berdesak-desaklah kepada mereka dengan kedua lututmu. Karena sesungguhnya hati itu hidup, dengan pengetahuan tinggi (ilmu hikmah), sebagaimana tanah mati, hidup dengan banjir dari hujan.”

Redaksi lain, yakni Ja’far Ash Shadiq ra berkata, “Janganlah engkau berteman dengan lima orang:
*      Pendusta. Maka engkau berada dalam penipuannya. Dia adalah seumpama cahaya panas (fatamorgana), dekat kepadamu yang jauh dan jauh kepadamu yang dekat.
*       Orang dungu. Maka tidaklah engkau memperoleh daripadanya sesuatu. Ia mau mendatangkan manfaat kepadamu, lalu ia akan memelaratkan akan kamu.
*      Orang kikir. Maka ia putuskan daripada kamu, sesuatu yang kamu amat memerlukannya.
*       Orang pengecut. Maka ia akan menyerahkan kamu dan ia akan berlari menghadapi kesulitan.
*      Orang fasiq. Maka ia akan menjual kamu dengan sesuap makanan atau kurang dari itu!”

Wah... Ngeri juga ya kalo kita salah memilih teman atau sahabat. Ternyata memilih sahabat itu harus selektif, pilih yang sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Islam. Seperti kata seorang teman, dekatilah seorang yang kau bermaksud jadi temannya dengan pendekatan hati, hati kita akan tau dia teman yang baik atau bukan untuk kita.
Tapi kalo menurutku, jangan menjauh dari teman-teman yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas, tetaplah menjadi teman mereka, tetapi dalam batasaan-batasan yang menjaga kita agar tidak terseret dalam pergaulan mereka yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Karena kalo kita menjauhi mereka, pastilah kita akan menjadi sasaran empuk bagi pembicaraan mereka di belakang kita, iya bukan? Hanya sekedar pendapat loh... J
Seperti yang aku tulis di salah status jejaring sosial beberapa hari lalu tentang sahabat yag dinukil dari perkataan Ali bin Abi Thalib ra.
“Temanmu yang sebenarnya, ialah orang yang ada bersamamu.
Dan orang yang menyusahkan dirinya, supaya ia bermanfaat bagimu.
Pada waktu membimbangkan, Ia berkata terus terang kepadamu.
Dia sendiri pecah berantakan, supaya kamu terkumpulkan selalu.”



 


Semoga bermanfaat...! :D
Ingin tau cerita tentang sahabat yang benar-benar sahabat? Tunggu postingan saya selanjutnya... xD



13 Oktober 2011
Menyusuri Tapak Cinta di batas Cakrawala Biru

Jumat, 07 Oktober 2011

Cara ALLAH SWT membimbing kita...

Cakrawala itu kini kosong, sekosong hatiku saat ini...


Status itu aku posting beberapa hari yang lalu di akun jejaring sosial. Jujur saja keadaan itu benar-benar sedang terjadi. Beberapa hari ini aku merasa kosong, imanku turun, lebih senang menyendiri, badan rasanya sakit semua, dan seolah tak ada semangat untuk menjalani hari. Semua yang aku lakukan rasanya jadi sebuah kesia-siaan yang benar-benar menyiksa. Berbagai tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabku terlalaikan hanya karena kemalasan dan lagi-lagi karena perasaan yang tak menentu. Ditambah dengan sikap beberapa orang diluar sana yang terkesan antipati dan tak menghargai apa yang aku katakan, istilah singkatnya CUEK.
Bahkan aku sendiri tak bisa mengerti keadaan hati dan perasaanku, hal itu semakin membuatku tersiksa. Dan satu hal yang ingin aku lakukan saat mengalami hari-hari itu adalah...
Berteriak sekencang-kencangnya dan menangis sepuas-puasnya...
Tapi ternyata tak bisa... ternyata itu tak cukup...
Lalu saat aku kembali membuka-buka file materi, entah materi mentoring, seminar, tulisan teman, artikel dari internet, dan lain-lain yang sengaja aku bawa dari kampung. Yah, file-file itu aku dapatkan saat aku masih di Pamekasan sana. Lalu aku menemukan bacaan yang sedikit menyegarkan hati dan perasaanku, yang membuatku sadar bahwa ini adalah bagian dari hidup yag harus aku terima dan pastinya harus aku hadapi.
Mungkin bacaan yang ingin aku tuliskan ini sudah pernah kalian baca, tapi tentu saja kalian takkan bosan membacanya. Karena ini kisah yang harus senantiasa kita renungkan bersama untuk menjadi manusia yang selalu bersabar dan percaya pada Allah SWT. Ingatkah pada kata-kata : “Prasangka Allah sesuai dengan prasangka hamba-hambaNya.

Suatu hari seseorang menemukan seekor calon kupu-kupu pada sebuah lubang kecil. Dia duduk dalam beberapa jam mengamati calon kupu-kupu itu yang sedang berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya ia telah berusaha semampunya dan tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, ia mempunyai tubuh gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring berjalannya waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergeaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah Jalan Allah SWT untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah sesuatu yang kita perlukan dalam hidup kita.
Jika ALLAH SWT membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita dan harapan yang kita inginkan. Kita mungkin tidak akan pernah bisa “terbang”...
Sesungguhnya ALLAH SWT itu Mahapengasih dan Mahapenyayang...

Ketika Kita memohon Kekuatan...
Dan ALLAH SWT memberi kita kesulitan untuk membuat kita tegar
Ketika Kita memohon Kebijakan...
Dan ALLAH SWT memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana
Ketika Kita memohon Kemakmuran....
Dan ALLAH SWT memberi kita otak dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran
Ketika Kita memohon Keteguhan Hati...
Dan ALLAH SWT memberi bencana dan bahaya untuk diatasi
Ketika kita memohon Cinta...
Dan ALLAH SWT memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicinta.
Ketika Kita memohon Kemurahan/Kebaikan Hati...
Dan ALLAH SWT memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti
Begitulah cara ALLAH SWT membimbing kita...

Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan dari ALLAH? Kadang Allah SWT tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti ALLAH SWT memberikan yang terbaik untuk kita. Kebanyakan kita tidak mengerti, bahkan tidak mau menerima rencana ALLAH SWT, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.
Tetaplah berjuang...berusaha...dan berserah diri...
Jika itu yang terbaik maka pasti ALLAH SWT akan memberikannya untuk kita...
Jadi, apapun yang kita terima dari ALLAH SWT adalah yang terbaik yang ALLAH SWT berikan...

Bacaan diatas  menyadarkanku pada suatu hal, bahwa hidup ini adalah ujian. Entah itu musibah yang menyakitkan atau peristiwa indah yang menyenangkan. Termasuk kali ini, apa yang menimpaku adalah sebuah ujian yang harus aku hadapi. Ini hanya sebuah masalah kecil dan ternyata aku masih terlalu banyak mengeluh menghadapi semuanya. Aku masih terlalu naif menghadapi hidup, aku masih terlalu cengeng untuk menghadapi kenyataan.
Yang tersisa kini adalah semangat yang harus kian membara seiring berjalannya waktu. Semangat itu tak boleh padam.
Tetap semangat menjalani hidup...

Sabtu, 17 September 2011

Semangat itu akan tetap ada...


Beberapa hari yang lalu ada yang bilang padaku, “Jangan menyi-nyiakan kesempatan yang ada Yul. Peluangnya sangat besar, jadi kamu ikut lah”

 Intinya dia menegurku karna tidak ikut sebuah event yang cukup besar yang menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mendapatkan predikat sebagai mahasiswa yang berprestasi. Aku hanya terdiam mendengar teguran itu, teringat beberapa waktu lalu saat aku ingin mengajak seseorang untuk menjadi kelompokku dalam event tersebut. Tahun sebelumnya aku juga sudah mengajaknya dan dia setuju untuk mengajakku dalam kelompoknya, tapi sebelum aku menanyakan hal itu kembali, dia bercerita bahwa dia sudah punya kelompok. Aku hanya bisa terdiam saat itu. Mau gimana lagi????

Ah, Aku bukan siapa-siapa yang pantas untuk menjadi apa-apa.

Kesempatan itu mungkin hilang untukku saat ini, tapi aku takkan menyia-nyiakan kesempatan lain yang terbentang dihadapanku.

Semoga semangat tetap membara di hatiku, untuk meraih yang aku impikan....

Novel pertama harus segera selesai.... Semangat selalu....^^

Minggu, 28 Agustus 2011

Sepenggal Kisah dalam Tulisanku… 


Dunia tulis-menulis baru aku tekuni belakangan ini, termotivasi oleh keinginan sendiri serta dukungan teman-teman agar aku sering-sering menuangkan pikiranku dalam tulisan. Sejak SD hingga sekarang aku terobsesi untuk menjadi seorang penulis, entah cerpen ataupun novel. Cenderung untuk menulis hal-hal yang fiksi karena aku sangat suka membaca cerita fiksi. Dulu sering kali pikiranku melayang, berimajinasi menciptakan sebuah cerita yang penuh dengan hal-hal keindahan, hal-hal yang mungkin saja mustahil terjadi di kehidupan nyata seperti saat ini. Meskipun sebenarnya aku tau bahwa ceritaku sebuah kemustahilan, tetap saja aku kembangkan cerita itu dalam pikiranku. Tak perduli apakah akan benar terjadi atau tidak. Sayangnya cerita itu hanya berkembang di otakku saja, tak pernah bisa aku tuangkan dalam kata-kata ataupun tulisan, saat itu aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya membuat cerita dalam rangkaian kata yang harus aku tuliskan, maklumlah saat itu aku masih SD.
Saat menginjak bangku SMP, aku mulai mengenal cerita-cerita fiksi berbau cinta dan misteri. Aku tak terlalu suka cerita fiksi misteri, aku rasa cerita misteri terlalu dibuat-buat, mungkin seperti imajinasiku saat SD dulu, sesuatu yang sebenarnya mustahil dituangkan dalam tulisan dan dibuat seolah nyata. Tapi saat aku menginjak kelas tiga SMP, aku juga mulai suka cerita misteri, meskipun tak semua. Aku cenderung memilih cerita misteri yang berbobot dan tidak hanya menceritakan soal hantu atau cerita mistis lainnya yang menurutku terlalu mengada-ada. Saat itu aku punya seorang teman yang memilki kesukaan yang sama denganku, yakni membaca novel atau cerpen, serta menulis cerita fiksi. Disitulah aku mulai menulis meskipun gaya penulisannya masih sangat natural, terlihat seperti tulisan orang yang curhat. Sebuah cerpen yang didominasi oleh dialog antar tokoh tanpa ada narasi. Sebenarnya sih ada, tapi hanya berfungsi untuk menjelaskan tempat, waktu serta pergantian cerita dengan singkat. Namanya juga pemula, tak menjadi masalah, yang penting aku sudah bisa mulai menuangkan cerita itu dalam rangkaian kata dan tulisan, meskipun hanya tulisan tangan. Aku juga mulai kenal dengan novel Harry Potter yang membuatku semakin suka membaca cerita-cerita fiksi. Dalam hal tulisan, aku masih belum terlalu konsisten melakukannya, berbeda dengan kebiasaanku membaca yang menjadi rutinitasku. Hampir setiap minggu aku melahap satu sampai tiga buku, baik novel Indonesia atau terjemahan.
Rutinitas itu berlanjut hingga SMA, aku terus mengasah kebiasaanku dalam menulis, mengikuti cara penulisan dari berbagai cerita yang aku baca. Sampai ketika aku kelas dua SMA, aku mempunyai teman sekelas yang lagi-lagi memiliki kesukaan yang sama denganku yakni menulis cerpen atau novel. Dia telah berhasil menghasilkan satu novel karyanya, memang belum dicetak sih, masih dalam proses pengajuan ke penerbit. Tapi menurutku itu sebuah karya yang patut di acungi jempol bagi seorang pemula. Alhasil, dengan banyak ngobrol dengannya masalah menulis cerita serta berdiskusi tentang plot tulisannya, aku mulai giat menulis. Sedikit demi sedikit mulai menghasilkan cerpen atau kisah-kisah yang masih aku tulis rangkumannya untuk akhirnya aku kembangkan menjadi novel. Tiga tahun aku berusaha untuk membuat cerpen ataupun novel, entahlah ada berapa hasilnya karena beberapa karyaku itu hilang entah kemana. Maklumlah, cerita-cerita itu aku tulis di berbagai lembar kertas atau buku dan terlalu sering tidak aku perhatikan dimana penyimpanannya. Hingga aku tiba di saat jenuh mulai menggerogoti.
Masa akhir SMA yang membuatku sibuk belajar untuk persiapan UN dan masuk perguruan tinggi, meskipun saat itu aku sudah cukup tenang karena aku sudah diterima di perguruan tinggi lewat jalur masuk tanpa tes, yakni USMI Institut Pertanian Bogor. Entahlah saat itu aku benar-benar kehilangan cara merangkaikan kata-kata dalam tulisan, meskipun sebenarnya imajinasiku masih terus berkembang. Begitu banyak ide cerita yang berkeliaran di otakku, tapi sangat sulit untuk memulai rangkaian kalimat itu menjadi sebuah kisah cerita. Dan sejak saat itu, tanganku mandul untuk menulis.
Ketika sudah mulai memasuki aktivitas kuliah, aku bertemu dengan seorang teman. Dia juga suka menulis, tapi bedanya dia tak terlalu suka menulis cerita fiksi. Dia biasanya menuliskan berbagai pengalamannya dan lalu diposting di blog miliknya. Sebuah kebiasaan yang belum aku kenal sebelumnya. Dia tak hanya menuliskan pengalamannya saja, tetapi juga pemikirannya. Tulisannya menurutku sangatlah berbobot dan tentu saja aku suka. Aku mulai sering membuka blognya dan membaca isinya. Bukan hanya blog miliknya, tetapi juga beberapa blog milik temannya yang juga sangat bagus. Gaya penulisannya yang khas, simpel, to the point, dan dengan bahasa yang mudah dimengerti membuatku ketagihan untuk membacanya karena bisa menambah banyak pengetahuan bagiku. Aku pun akhirnya mulai belajar menulis seperti temanku itu, menulis non-fiksi. Berkali-kali mencoba, tapi aku merasa tulisanku masih terlalu monoton dan gaya penulisanku masih terlalu datar. Butuh begitu banyak ilmu dan proses belajar untuk bisa seperti mereka yang sudah terbiasa menulis. Aku juga kembali menekuni tulis-menulis cerita fiksi meskipun tersendat-sendat karna kendala pengembangan cerita dan kebingungan bagaimana aku harus menuangkan ide-ide cerita itu dalam rangkaian kalimat. Maklumlah, lumayan lama aku tidak menulis fiksi. Kendala yang lain tentu saja kuliah dan kesibukanku yang lainnya sebagai mahasiswa.
Blog yang sudah lama aku buat tapi jarang sekali aku gunakan, akhirnya aku buka dan aku perbaiki konten-kontennya dengan bantuan Annisa, temanku. Maklumlah, aku agak gaptek masalah blog, internet, dan semacamnya. Aku mulai memposting tulisan-tulisanku yang waktu itu hanya beberapa, tentang pengalamanku juga beberapa puisi yang menurutku asal tulis karna puisi yang aku tulis itu sebenarnya adalah curhatanku semata. Jadi apa yang keluar dari hati dan otakku langsung aku tulis aja, tak memandang bahwa kata-katanya bagus atau jelek, nyambung atau tidak. :p
Di suatu moment aku bertemu dengan seorang penulis terkenal, aku bertemu dengan mbak Asma Nadia. Termotivasi kata-kata mbak Asma waktu itu “Seseorang tidak akan pernah menghasilkan suatu karya atau cerita jika tidak memulainya. Memulai untuk menuangkan ide dalam tulisan itu memang tahap yang paling sulit dalam menulis, tapi ketika kamu bisa melewati tahap itu, maka kamu akan terus bisa menuangkan imajinasi kamu dalam tulisan hingga akhirnya kamu berhasil menciptakan sebuah cerita, sebuah karya. Maka mulailah untuk menulis, jangan ragu-ragu, tuangkan semua yang ada dalam otak kamu dan jangan lupa untuk terus belajar menjadi lebih baik.” Sejak saat itulah aku mulai menulis cerita fiksi dengan lebih intens lagi, meneruskan beberapa cerita yang sebelumnya terbengkalai dan mati suri.
The Power of Kepepet. mungkin sebutan paling tepat untuk melatarbelakangi lahirnya dua cerpenku. Saat itu ada lomba cerpen dari event Ekspresi Muslimah yang diadakan oleh keputrian LDK Al-Hurriyah dan LDF IPB. Batas pengumpulan cerpen adalah esok harinya, sedangkan aku masih belum mulai menulis apa-apa, selain itu aku juga lupa dengan persyaratan lomba, yang ku ingat hanya sebatas tema yakni persahabatan. Bodohnya aku tidak menanyakan pada teman yang jadi panitia event tersebut, langsung saja mulai menuangkan ide cerita. Berbekal laptop pinjaman pada teman sekamar, semalaman aku mengerjakan proyek cerpen dadakan itu hingga selesai. Yups teman-teman, selesai dalam satu malam saja. Ini merupakan rekor baru untukku karena sebelumnya tak pernah menyelesaikan cerpen dalam waktu satu malam, biasanya sampai tiga hari mengerjakannya, itu pun kalau tidak terkendala malas untuk melanjutkannya. Keesokan harinya, ketika aku berniat untuk mencetak cerpen tersebut, aku menemukan selembar leaflet yang berisikan persyaratan lomba cerpen tersebut. Disitu tertulis bahwa cerpen maksimal lima halaman dengan spasi 1,5 serta font Arial de el el. Semangatku langsung hilang seketika karena cerpenku jauh dari memenuhi persyaratan itu. Cerpenku bahkan ada sepuluh halaman dengan font TNR, bingung juga kalau harus menghilangkan lima halaman sisanya dengan font Arial yang yang besar. Merasa gagal ikut lomba, aku tak merasa kecewa karena meskipun gagal, aku telah membuat cerpen dalam waktu yang singkat. Setidaknya itu rekor bagi diriku sendiri. J Aku pun akhirnya mem-posting cerpenku itu ke blog, iseng-iseng juga aku posting sebagai catatan di FB. Lumayanlah, setidaknya mungkin cerpen itu bisa dinikmati orang lain. Apalagi terdapat komentar-komentar positif yang mengatakan bahwa cerpenku bagus. Senangnya hatiku… :)

Selasa, 16 Agustus 2011

Hanya Kata Maaf yang Bisa Aku Ucapkan...


Ketika di awal aku melihat pengumuman itu, aku bersegera membuka blognya dan mencetak lembar formulir pendaftarannya. Keinginanku untuk ikut serta berkontribusi dalam kepanitiaan ini sudah tertanam sejak setahun yang lalu, saat itu aku menjadi salah satu peserta dalam kegiatan itu.
Sebuah perasaan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata ketika acara itu berakhir, kesan yang sangat membuatku senang. Merasa bahwa acara yang aku ikuti saat itu merupakan acara yang paling akan aku kenang selama hidup. Acara yang begitu bermanfaat dan begitu membuatku sangat bangga mengikutinya.
Saat aku mengisi formulir pendaftaran kepanitiaan itu, aku kebingungan saat harus memilih divisi mana yang akan aku ikuti, meskipun sebenarnya dari awal aku tertarik pada kepanitiaan ini aku cenderung kepada dua divisi pilihan yang menurutku memang cukup bagus. Dua divisi inilah yang sebenarnya membuatku dulu tertarik ikut kepanitiaan ini, karna dua divisi inilah yang terjun langsung ke lapangan untuk mengatur dan menurutku juga jadi penentu berhasil atau tidaknya acara ini. Itu pendapatku dulu, berbeda dengan sekarang, meski ada dua divisi itu tapi tak ada divisi yang lain, acara ini takkan pernah bisa ada.
Dalam formulir itu ada dua pilihan yang harus aku tuliskan, pastinya kedua pilihan itu adalah dua divisi yang aku inginkan dulu. Hanya saja saat itu aku bingung divisi manakah yang harus aku jadikan pilihan pertama sebagai prioritas. Tapi pada akhirnya aku memilih salah satu divisi yang menurut banyak teman-temanku cocok untuk aku ikuti. Menurutku pun, mungkin ini cocok, dan lewat divisi inilah aku ingin belajar.
Kepanitiaan itu adalah kepanitiaan terbesar yang ada di IPB. Yah, kepanitiaan itu adalah kepanitiaan untuk Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru Angkatan 48 (MPKMB 48) IPB. Dan untuk kepanitiaan itu aku memilih masuk menjadi divisi Komisi Disipilin (Komdis). Mungkin divisi itu adalah divisi yang akan banyak tidak disukai oleh para mahasiswa baru IPB nantinya, tapi ada dorongan kuat untuk aku lebih memilih divisi Komdis ini daripada divisi Penanggung jawab kelompok (PJK). Di formulir itu ditanyakan apa alasanku mengikuti kepanitiaan ini dan memilih divisi yang aku jadikan pilihan pertama. Di situ aku tuliskan bahwa aku ingin menjadikan angkatan 48 menjadi angkatan yang lebih baik dari pada angkatanku dan kenapa aku memilih divisi komdis karena aku merasa aku pantas. Selain itu alasanku juga karena ingin belajar, bukan hanya belajar untuk mendisiplinkan adi-adik angkatan 48, tetapi juga belajar untuk lebih mendisiplinkan diri-sendiri.
Keinginan itu terwujud saat aku melihat pengumuman di mading asrama tanggal 18 Mei 2011, aku menjadi salah satu anggota dari divisi Komdis. Senang? Amat sangat. Saat itu aku merasa pintu perubahan untukku sedikit terbuka, akan banyak sekali pembelajaran yang akan aku dapatkan setelah ini, aku yakin itu. Di luar hal itu, banyak teman-temanku yang bertanya, “Yul, jadi panitia MPKMB ya? Jadi apa?”. Aku hanya tersenyum sambil menjawab, “Coba tebak!”. Setiap dari mereka pasti menjawab, “Pasti jadi Komdis!”. Yah jawaban mereka tepat. Aku lalu berfikir, apakah sedemikian terlihat bahwa mukaku adalah muka-muka seorang komdis? Aku hanya tertawa sendiri dalam hati.
Lalu, hari-hari sebagai panitia MPKMB pun dimulai. Malam itu 20 Mei 2011, saat RG pertama panitia MPKMB, para anggota komdis dikumpulkan di node ARL, dan di saat itulah kebersamaan kami dimulai. Tak hanya itu, tetapi juga berbagai kesibukan, latihan, serta mulai tercipta rasa kekompakan serta persaudaraan yang amat sangat kuat. Latihan rutin setiap hari senin dan kamis sore kami jalani. Dalam keadaan berpuasa sunnah kami lari keliling lapangan belakang gymnasium sebanyak dua kali putaran, push-up, sit-up, lalu sharing, dan setelah kumandang adzan terdengar kami berbuka puasa bersama walau hanya dengan air dan gorengan, saling berbagi dengan yang lupa tidak membawa bekal berbuka, rasanya sungguh lebih nikmat dari makan makanan selezat apapun.
Sebelum latihan rutin itu dimulai, pertama kali kami melakukan rapat divisi, saat itu di belakang gymnasium pukul 05.30 wib. Kami kembali mengenal lebih dekat setelah pertemuan pertama. Qiyamuddin Rabbani sebagai kepala divisi, Nur Hepsanti Hasanah atau Happy sebagai sekretaris divisi, serta anggota divisi komdis lainnya. Kabar terbaru saat itu adalah, nama divisi komdis akan dirubah menjadi divisi KPK atau Komisi Penegak Kedisiplinan. Entah dengan alasan apa nama divisi itu dirubah tak menjadi masalah bagi kami. Malah kami senang, karena dengan perubahan nama ini kami berharap sistem yang dikerjakan oleh kami nantinya sebagai penegak kedisiplinan bisa berjalan dengan baik, lebih baik dari dulu, dan tentu saja berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karna kamilah agen pembaharu. Saat itu, terciptalah jargon kebanggan kami, yang saat kami teriakkan jargon itu, membuat kami sendiri merinding mendengarnya. Dengan harapan semoga jargon ini benar-benar tertanam dalam diri kami.
KOMDIS! SIGAP, TEGAS, KUAT!
KPK! SIAP!
Saat radiv kedua, terpilihlah lima kapten yang akan menjadi pemimpin di setiap garda. Nugraha Ramadhan, Abdul Basith Hermanianto yang akhirnya digantikan oleh Muhammad Takbir, Teuku Muhammad Al-Kautsar, Nurrahman, dan Achmad Alkadri. Saat itu pula ada pemilihan bendahara divisi dan aku menjadi sebagai yang terpilih. Yah, aku menjadi bendahara divisi KPK yang membuatku mulai dipusingkan dengan urusan keuangan KPK. Sejak saat itu pula, aku sering ikut rapat dangan kadiv, sekdiv, serta para kapten untuk membahas masalah latihan rutin divisi KPK, tentang SOP panitia dan peserta, juga tentang alur mobilisasi peserta saat hari H nanti. Hal itu membuatku sering menginap di rumah Hepi untuk dimintai bantuan mengerjakan tugas divisi, tapi yang ada aku malah lebih banyak mengacaukan kayaknya. :p
Dan di latihan-latihan serta pertemuan-pertemuan divisi yang rutin dilakukan oleh KPK, aku mendapat julukan baru yang dilontarkan oleh Bani. “Yak teman-teman, sebelum kegiatan kali ini berakhir, mungkin ada yang ingin disampaikan oleh Yuli, yang mungkin akan jadi perusak suasana bagi kalian”, mungkin seperti itu kata-katanya waktu itu (aku agak lupa) dengan wajah yang sambil cengar-cengir. Intinya dia bilang bahwa aku adalah perusak suasana kesenangan anak-anak KPK. Aku tahu kalau dia hanya bercanda, jadi hanya aku tanggapi dengan muka ngambek yang dibuat-buat, meskipun jujur aku merasa tak nyaman dengan kata-kata Bani itu. Mungkin Bani benar, karena setiap kali aku ingin menyampaikan sesuatu, itu pasti berhubungan dengan keuangan seperti saat aku menagih uang roselt dan uang kaos. Aku bak jadi rentenir pagi-pagi bagi anak-anak KPK dan merusak kesenangan mereka. Tak masalah bagiku, yang penting tak ada masalah di keuangan KPK.
Kegiatan demi kegiatan dilakukan untuk melatih kemampuan kami, baik fisik, baris-berbaris, cara memberikan instruksi, serta public speaking yang baik. Kegiatan rutin yang kami jalani telah benar-benar mempererat tali persaudaraan kami. Tak ada lagi rentang penghalang antar sesama anggota KPK, semuanya sudah seperti saudara sendiri. Dan akupun terlanjur tenggelam dalam setiap suasana bersama mereka. Terbersit dihati bagaimana ketika kepanitiaan berakhir, akankah persaudaraan ini juga akan berakhir? Semoga tidak.
Saat sosialisasi MPKMB 1, aku bertugas memobilisasi peserta dari asrama A5 dan C4 Sylva. Pagi itu aku mulai bertugas sebagai seorang KPK, rasanya gak karuan. Aku takut melakukan kesalahan ketika melakukan tugas. Tapi semuanya berjalan dengan lancar, berkat bantuan dari semua teman-teman KPK. Tak sedikit dari kami yang melakukan kesalahan, tapi tak sedikit pula dari kami yang memberikan kinerja terbaik kami seharian itu. Meskipun kaki rasanya sangat ngilu, sampai anak-anak KPK minta kaki cadangan untuk sosialisasi esok hari :p, kami sungguh merasa senang bisa melaksanakan tugas kami sebagai KPK dengan baik serta tak mendapat citra buruk dari para peserta. Sosialisasi MPKMB 2 dan 3 telah kami lakukan, juga dengan memberikan kinerja terbaik kami. Rasa lelah kami terbayar dengan banyaknya peserta yang sangat mengapresiasi kegiatan ini, serta sedikit peserta yang melakukan kesalahan.
Menjelang puncak acara MPKMB, banyak sekali perubahan yang terjadi. Seperti perubahan tempat acara dan teknis acara. Hal itu membuat semua panitia kelimpungan. Tim PDD harus membuat dekorasi ruangan ulang. Acara harus merevisi juklak dan juknis. KPK lagi-lagi harus mengubah alur mobilisasi peserta, baik untuk mobilisasi berangkat dan pergi, serta mobilisasi untuk games outdoor. Terlihat semburat kelelahan dari wajah setiap panitia, tapi semangat dan keikhlasan mereka terpancar jelas mengalahkan rasa lelah itu. Begitu juga semangat kami dari KPK, akan selalu membara untuk memberikan yang terbaik bagi adik-adik kami angkatan 48.
11 Agustus 2011
Upacara Pembukaan MPKMB 48
Lapangan Gymnasium IPB
Upacara pembukaan MPKMB angkatan 48 dimulai jam 08.00 wib. Di buka langsung oleh Rektor IPB Dr. Ir.Herry Suhardianto M.Sc. Acara dilanjutkan di Graha Widya Wisuda IPB, dimulai dengan kata-kata sambutan dan sedikit pidato dari Pak Rektor, pengenalan UKM dan acara yang lainnya. Di akhir ada evalusi yang dilakukan oleh KPK, terasa menggantung dan tidak ada gregetnya memang, tapi semoga untuk selanjutnya lebih baik, yang penting kami benar-benar memberikan esensi yang baik dan benar.
12 Agustus 2011
MPKMB hari ke-II
Graha Widya Wisuda
Menghadirkan mantan menteri serta Menteri Pertanian Indonesia. Begitu banyak ilmu yang ingin kami berikan kepada adik-adik 48. Tapi ternyata begitu banyak dari mereka yang tak menghargai kerja keras kami. Mereka banyak yang tertidur saat Pak Menteri menyampaikan materi, tak ada sedikitpun penghargaan dari mereka kepada pembicara. Tak hanya itu, kami pun mendapat kabar dari berbagai pihak bahwa mereka banyak yang menjelek-jelekkan kami serta menghina kami sebagai KPK. Mereka menganggap kami sebagai tukang parkir dan lainnya yang terkesan menghina kami. Tapi kami tau, ini memang sudah menjadi resiko kami sebagai KPK. Untuk evaluasi kami merencanakan sebuah skenario untuk melepas ban PJLT karena mereka gagal mendidik etika adik-adiknya. Yah, skenario itu memang disusun secara dadakan sebelum evaluasi, tapi itu bukanlah akting kami. Itu benar-benar terjadi, bukan hanya PJLT yang merasa kecewa kepada peserta, kamipun sebenarnya merasa kecewa karna ternyata kami pun gagal mendidik mereka, karena etika mereka masih buruk.
Saat sore hari, acara buka puasa bersama laskar. Karna ban PJLT dilepas yang artinya PJLT dibebastugaskan, maka kamilah sebagai KPK yang memulai acara. Di laskarku, laskar 17, PJLT mengadukan bahwa adik-adik banyak yang meminta maaf atas kelakuan mereka, tetapi ada satu orang yang membuat salah seorang PJLT merasa kesal sekaligus sedih. Satu anak itu benar-benar tak menggunakan etika saat mengirimkan sms, menuduh PJLT yang macam-macam. Di sore itulah aku dan Iman, rekan KPK laskar 17, memberikan berbagai ceramah dan menyampaikan berbagai esensi dari apa yang kami lakukan, serta sedikit mendidik mereka tentang etika sebagai seorang mahasiswa. Kami hanya berharap apa yang kami sampaikan benar-benar bisa mereka renungkan dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka. Pada akhirnya kami mengembalikan tugas teman PJLT sebagai pengayom adik-adik kami.
MPKMB hari ke-III
13 Agustus 2011
Graha Widya Wisuda
Dari pagi hari hingga sore, para peserta mengikuti kegiatan MPKMB. Dimulai dari pengenalan UKM, AMT, pembacaan ikrar pertanian, evaluasi, games outdoor, B-Spirit, dan diakhiri dengan penutupan yang spektakuler. Yah, penutupan MPKMB kali ini benar-benar spektakuler. Lagi-lagi kami membuat skenario untuk evaluasi hari terakhir, tapi sekali lagi, ini bukanlah akting. Kami benar-benar merasa kecewa atas banyak kejadian tak beretika yang adik-adik 48 lakukan. Kami benar-benar meluapkan emosi kami, tapi kami masih ada dalam koridor yang seharusnya, kami tidak bertindak karena rasa benci kami, kami bertindak atas rasa sayang kami, agar adik-adik kami menjadi generasi bangsa yang dapat di banggakan.
Kami memang pergi dari area lapangan gymnasium dengan membawa rasa kesal dan kecewa kami, tapi kami masih ingin memberikan persembahan terbaik kami pada adik-adik kami. Menunggu saat Diki menyampaikan beberapa pesan untuk 48 hingga akhirnya ketika mereka diperintahkan untuk berbalik badan dan menutup mata. Kami tak menghiraukan tas kami yang langsung kami lempar, entah seperti apa posisinya. Berlari menuju barisan terdepan panitia, di belakang para peserta menunggu alunan musik theme song MPKMB 48. Saat musik terdengar, akhirnya senyum keceriaan bisa kami tampilkan kepada adik-adik kami. Mereka melihat kami, KPK dan seluruh panitia berbaris di depan mereka dengan senyuman, serta mempersembahkan gerakan theme song MPKMB dengan kocaknya. Begitu bahagia saat melihat tawa adik-adik, lambaian ombak caping dan loncatan-loncatan kegembiraan mereka, begitu terharunya kami melihat adik-adik mengucapkan maaf dan terimakasih atas semua yang telah kami lakukan. Rasa lelah ini serasa sirna begitu saja dengan apresiasi mereka yang begitu besar menghargai kami.
Terima kasih adik-adikku Sahabat Tani 48, jadilah generasi terbaik IPB, jadilah pemimpin-pemimpin bangsa yang akan memajukan pertanian Indonesia serta bangsa Indonesia. T.T
13 Agustus 2011
Sekitar pukul 20.00
Pelataran Graha Widya Wisuda
Kami Divisi Komisi Penegak Kedisiplinan (KPK) MPKMB 48 berkumpul membentuk sebuah lingkaran setelah sebelumnya kami berfoto-foto menampilkan keceriaan bahkan keautisan kami. Haru mendera saat beberapa anak KPK menyampaikan kesan-kesan selama berada dalam kepanitiaan ini, bersama seluruh keluarga KPK. Rasanya kepanitiaan ini, keluarga ini, baru kemarin terbentuk, baru kemarin kami saling mengenal, hingga sekarang telah selesai tugas kami. Hepi menyampaikan berbagai kesannya sambil menangis bahagia karna misi kami sukses, serta sedih karena kebersamaan kita ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Serta penutup dari Pak Komandan Bani yang meyakinkan kami bahwa kebersamaan ini takkan pernah hilang, karna kami akan tetap menjadi saudara. Yah, Ia benar, karna aku pun yakin persaudaraan ini akan tertanam jauh dalam lubuk hati.
Kawan, malam itu aku terdiam, tak tahu harus menyampaikan apa pada kalian semua. Menangis haru pun aku tak bisa. Begitu sangat ingin aku mengucapkan banyak terima kasih serta minta maaf, tapi lidahku seolah kelu, lisanku tak dapat berkata apa-apa. Aku benar-benar campur aduk, antara rasa bahagia, haru, dan sedih.
Terbayang lagi saat-saat bersama kalian tiga bulan terakhir ini. Aku seolah diseret dalam kenangan-kenangan indah beberapa waktu yang lalu. Saat latihan rutin, lari bareng, push-up dan sit-up bareng, buka puasa bersama, rapat serta makan bersama BPH KPK, foto-foto narsis n autis KPK, upgrading, ketawa-ketiwi bereng, latihan gerakan theme song dan bercerita ala Opera Van Java yang baru kemarin kita lakukan. Semua kenangan-kenangan itu takkan pernah terlupa. Seperti persaudaraan kita yang takkan pernah lekang di telan zaman, amin.
Terima kasih kawan atas persaudaraan ini, atas banyak pembelajaran yang kalian berikan. Maaf telah menjadi perusak suasana bagi kalian, menjadi seorang yang terkadang tak bisa mengerti kalian, menjadi seorang yang maunya sendiri, menjadi orang yang ceplas-ceplos, terkadang bicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu, menjadi orang yang selalu menegur dan sok mengatur, padahal dirinya sendiri melakukan banyak kesalahan. Sekali lagi hanya kata maaf yang bisa aku berikan kepada kalian, seluruh anggota KPK MPKMB 48, atas kesalahan-kesalahanku. Khususnya kepada teman-teman Garda 3. Maaf ya Iman, seringkali aku mendominasi di laskar. Maaf ya Kautsar, sering kali aku menegur kamu karena suara dan ketegasanmu yang kurang, padahal kalau saja aku ada di posisi kamu, aku juga belum tentu bisa melakukan apa yang aku katakan itu. Aku minta maaf ya kawan atas semua kelalaian dan kesalahanku.
Tak terlupa, terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Happy atas sikapku yang terkadang childish, suka mengeluh, dan tak sabaran. Juga pada Bani yang mungkin sering kesal pada sikap dan tingkah laku ku selama menjadi bendahara atau BPH KPK. Terima kasih dan permintaan maaf yang tak terkira untuk KPK, Kelurga Paling Kompak.
Mungkin memang hanya kata maaf itu yang bisa aku ucapkan...
16 Agustus 2011
H+3 MPKMB 48
Rasanya aku ingin sekali pagi tadi pergi ke GWW sebelum pukul 05.15 wib. Tapi MPKMB 48 telah usai, meskipun euforianya masih kental dalam hati. Ingin rasanya mendengar teriakan Sahabat Tani 48. Ingin pula melihat anak-anak KPK yang autis serta mendengar teriakan jargon kami yang lantang. Tapi sekali lagi, MPKMB 48 telah usai. Meskipun semangatnya masih membara di hati kami, KPK dan segenap panitia.
Note untuk KPK...
Qiyamuddin Rabbani : Komandan kita di KPK. Jujur ya, sering sebel kalo udah ngeliat Bani yang diam dengan muka yang agak ditekuk. Bikin kita jadi was-was. Maaf ya kalau aku salah (perasaan salahnya banyak banget deh ke Pak Komandan Bani nih :p), coz aku dah maapin kesalahan Bani selama ini. *loh? xD kabur...
Nur Hepsanti Hasanah : Bu Sekdiv, aku bakal jarang nih nginep di Rumah Sejahtera lagi. Jangan kangen aku ya say, ntar aku bakal sering-sering berkunjung ke RS buat nonton film lagi, hhe... :p Oiya, maaf ya kalo aku dimintain bantuan, bukannya ngebantuin, aku kadang malah mengacaukannya. *Kapan nih kita minta maaf ke satu orang itu?* ;D
Muhammad Takbir : Kapten Garda 2 n partner mobilisasi sylva. Maaf ya sering negur dan sok tahu. Makasih juga udah mau ngedengerin curcolanku yang gaje. Selain Hepi, kamu yang tau kekoplakanku di KPK, hhaha :D
Teuku Muhammad Al-Kautsar : Kapten Garda 3 yang selalu tenang. Maaf ya sering banget negur gara-gara suara n sikap ketegasan, dan juga suka jadi anak buah yang sok ngatur, semoga kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semangat....
Achmad Alkadri : Kapten Garda 5 yang garang tapi ternyata paling autis,hhe *peace Dri* Salut deh buat Kadri yang bisa memposisikan diri dengan baik selama di KPK, serta bisa menjadi seorang yang bijaksana yang bisa dijadikan contoh. Oia, pesan dariku jangan suka bikin gosip n jangan suka ngegodain orang lagi ya,,, -jleb-
Siska Cynthia : Partner garda 3 yang bertugas di laskar sebelah, laskar 18. Makasih banget ya sudah bantuin aku dulu menangani masalah keuangan KPK. Aku banyak belajar dari sikap dan ketegasan Siska, semoga kita bisa menjadi partner yang lebih baik. J
Iman Rizky Nurzaman : Partnerku di laskar 17. Maaf ya Iman, aku sering banget mendominasi di laskar. Terima kasih juga sudah bisa jadi partner yang baik dan saling membantu kekurangan satu sama lain. Semoga apa yang kita berikan kepada adik-adik laskar 17 tidak sia-sia dan benar-benar bisa mereka renungkan serta terapkan dalam kehidupan mereka... J
Hassyati Sabrina : Arin sayang, makasih ya atas begitu banyak pelajaran yang kamu berikan. Teruslah berkarya dengan sebaik-baik karya, aku yakin Arin bisa jadi penulis hebat nantinya. Makasih buat traktirannya, kapan neh yang kedua? Masih ditunggu loh, :p
Faizal Teguh Muhammad : Maaf ya Faizal kalo aku sering menegur dan sok ngatur penampilan, sebenarnya hanya menginginkan agar kita semua sesuai dengan SOP yang kita buat. Salut deh buat Faizal yang bisa tegas dan bijak dalam menghadapi semua teman-teman KPK serta seluruh peserta. Cie... yang banyak fans :D
Suwarti : Terima kasih ya Suwar atas pelajaran yang kamu berikan, kesabaran dan ketegasanmu menjadi pelajaran berharga buatku. Selalu semangat ya...
Dan untuk segenap KPK putra maupun putri. Terima kasih banyak atas semua yang telah kalian berikan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian dan kesalahanku pada kalian semua. Semoga persaudaraan kita akan terus terjalin, tak lekang di telan zaman. Buat seluruh KPK putra, jangan terlena karna banyak fans, luruskan niat, jangan mudah berbelok, konsistenlah terhadap tujuan awal kalian. Untuk KPK putri, meskipun kita gak banyak fans, semoga perjuangan kita selama menjadi KPK tidak sia-sia.
Oia, jangan panggil aku budhe lagi, hiks T.T
Perjuangan kita di MPKMB mungkin sudah selesai, tapi MPF dan MPD masih menunggu kita tahun depan. Mari tetap semangat berjuang, karna kita tak hanya dituntut disipin saat MPKMB dan MPF atau MPD, tapi kita juga dituntut bisa disiplin serta bijak dalam setiap inci kehidupan kita. Ayo kita belajar dan berjuang bersama, yakinlah kita pasti bisa.... J
Semangat...
KOMDIS! SIGAP! TEGAS! KUAT!
KPK! SIAP